SKK Migas: Lifting Minyak Wilayah Sumbagut Lampaui Target APBN

Kontribusi terbesar lifting minyak di Sumatera bagian Utara berasal dari Blok Rokan yang dikelola Chevron Pacific Indonesia.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
30 Desember 2019, 18:03
SKK Migas, lifting minyak
Ilustrasi, logo Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam acara Gas indonesia Summit & Exhibition 2019 di JCC, jakarta Pusat (1/8/2019). SKK Migas menyatakan lifting minyak di Sumbagut bisa melampaui target tahun ini.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mencatat produksi siap jual (lifting) minyak di wilayah Riau, Aceh dan Sumatera Utara telah mencapai target APBN 2019 sebesar 213,69 ribu barel per hari (bopd). Hingga akhir November 2019, rata-rata lifting minyak di Sumbagut mencapai 214,75 ribu bopd.

Biarpun begitu, Kepala SKK Migas Sumbagut Avicenia Darwis mengatakan pihaknya bakal terus berupaya mengoptimalisasi lifting migas. Salah satu caranya dengan menguras stok dan pengapalan serentak di lima terminal titik serah minyak di penghujung tahun ini, khususnya di Terminal Dumai. 

Sedangkan empat titik serah lainnya adalah Terminal Buatan (Riau), FSO Gandini di Riau, Terminal Pangkalan Susu di Sumatera Utara, dan Terminal Arun  di Aceh). Dari upaya tersebut, tambahan volume lifting minyak selama Desember diperkirakan mencapai 6,78 juta barel. Dengan begitu, total estimasi lifting  minyak Sumbagut hingga 31 Desember 2019 bisa meningkat menjadi 215,100 ribu bopd, atau 1.410 bopd diatas target.

(Baca: SKK Migas Targetkan Empat Proyek Migas Rampung Akhir Desember)

Adapun total angka operasional lifting selama 2019 di Sumbagut diperkirakan mencapai 78,5 juta barel. Chevron Pacific Indonesia memiliki kontribusi terbesar dari lifting Blok Rokan dengan estimasi capaian 88,5 % atau rata-rata lifting sebesar 190,494 ribu bopd.

Realisasi lifting  terbesar kedua dari BOB PT. Bumi Siak Pusako Pertamina Hulu, Pertamina EP Asset 1 Field Rantau dan Field Lirik , Energi Mega Persada Malaca Strait S.A, dan Medco E&P Malaka.

Lebih lanjut, menurut Avicenia, ada beberapa permasalahan yang muncul dalam upaya memenuhi target APBN, diantaranya masalah keamanan, cuaca dan pencurian minyak. Meski begitu, masalah pencurian minyak dapat ditekan dan teratasi dengan baik berkat kerja sama antara SKK Migas Sumbagut, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dan pemangku kepentingan.

“Dari awal tahun, kami mulai concern terhadap permasalahan yang muncul, dan mengatasinya agar tidak berpengaruh dengan penurunan produksi minyak,” kata Avicenia.

SKK Migas Sumbagut dan KKKS pun berharap lifting dapat kembali melampaui target pada tahun depan. Beberapa caranya dengan mempertahankan produksi lapangan eksisting dan mengembangkan sumur baru ekplorasi di wilayah offshore, yaitu wilayah Andaman, Aceh.

(Baca: Luhut: Teknologi EOR dapat Sedot Minyak hingga 1,6 Miliar Barel )

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait