SKK Migas Tantang Pertamina dan Medco Temukan Migas Seperti Repsol

Respol berhasil menemukan sumber daya gas yang cukup besar (giant discovery) hingga 2 TCF dari hasil pengeboran sumur eksplorasi di Blok Sakakemang.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
24 Oktober 2019, 17:44
SKK migas
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menantang Pertamina dan Medco Energi Internasional (MEDC) menemukan sumber daya migas yang cukup besar (giant discovery) seperti Repsol. Perusahaan asal Spanyol tersebut berhasil menemukan sumber daya gas hingga 2 triliun kaki kubik gas (TCF) dari hasil pengeboran sumur eksplorasi di Blok Sakakemang.

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan keberhasilan Repsol tersebut bahkan masuk ke dalam 10 besar penemuan migas tahun ini. "Harus diikuti pemain lain seperti Pertamina dan Medco," kata Fatar adala konferensi pers paparan capaian triwulan ketiga 2019 di Kantor SKK Migas, Jakarta, Kamis (24/10).

Apalagi Pertamina dan Medco memiliki wilayah kerja yang lebih luas di Sumatera dibandingkan dengan Repsol. "Kami meminta Pertamina dan Medco melihat Repsol," ujarnya.

Pertamina dan Medco sebenarnya bukan tidak menemukan potensi cadangan migas tahun ini. Hanya saja, sumber daya yang ditemukan kedua perusahaan nasional tersebut lebih rendah dari penemuan Repsol.

(Baca: Blok Sakakemang, Temuan Gas Terbesar ke-4 Dunia dalam Dua Tahun)

SKK Migas mencatat Pertamina bersama PT BSP menemukan sumber daya 3,61 juta barel minyak (MMbo) di sumur Benewangi-J1X, Pertamina EP menemukan sumber daya 6,6 MMbo, dan 51,7 miliar kaki kubik gas (BCF) dari sumur AMJ-2.

Ada juga penemuan Pertamina EP di sumur Randuwangi-1 sebesar 8,27 MMbo dan 36,7 BCF. Selain itu, pertamina EP menemukan sumber daya dari sumur Bella-03 sebesar 487 BCF dan dari Morea-1 sebesar 46,7 BCF.

Sedangkan Medco pada tahun ini baru menemukan sumber daya dari pengeboran sumur Tuna-01 di Natuna sebesar 125 BCF. Perusahaan migas lainnya juga berhasil menemukan sumber daya migas, seperti EMP Malacca Strait yang menemukan gas 282 BCF dan  minyak 48,9 MMBo dari pengeboran sumur MSBY-03.

Ada juga Tately N.V yang menemukan gas sebesar 500 BCF dan Saka Energi Pangkah Ltd yang menemukan minyak sebesar 163 MMbo dari pengeboran TKBY-3.

Selain itu, Energi Mineral Langgeng menemukan sumber daya gas sebesar 270 BCF dari sumur ENC-2 dan BP Berau Ltd menemukan sumber daya gas hingga 1,2 TCF dari sumur Uba Deep-1.

Dengan begitu, ada penemuan sumber daya gas sebesar 880 juta barel setara minyak (MMboe) dan minyak sebanyak 230 MMbo. Totalnya hingga September mencapai 1,1 miliar barel setara minyak (BBOE).

(Baca: Ada Inovasi Baru, Pertamina EP Optimistis Tingkatkan Cadangan Migas)

Berdasarkan data BP, cadangan minyak terbukti Indonesia menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun. Pada 1980, cadangan minyak Indonesia mencapai 11,6 miliar barel namun pada 2017 tinggal 3,17 miliar barel. Angka tersebut di bawah Malaysia (3,6 miliar barel) maupun Vietnam (4,4 miliar barel).

Turunnya cadangan minyak tersebut  salah satunya disebabkan oleh berkurangnya aktivitas eksplorasi , baik untuk offshore maupun onshore. Pada 2011, realisasi pengeboran sebanyak 79 sumur, namun pada 2017 tinggal 48 sumur. Investasi di sektor migas membutuhkan dana yang sangat besar, terlebih lagi cadangan minyak nasional berada di lautan menjadi kendala eksplorasi. Selengkapnya mengenai data cadangan migas dalam grafik Databoks di bawah ini :

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait