Harga Minyak Naik Seiring Meningkatnya Aktivitas Pabrik di Tiongkok

Meningkatnya aktivitas pabrik di Tiongkok mendorong permintaan bahan bakar. Harga minyak pun kembali naik pada perdagangan hari ini.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
11 Agustus 2020, 08:20
harga minyak, tiongkok
Katadata
Ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak pada Selasa (11/8) kembali naik seiring meningkatnya aktivitas pabrik di Tiongkok.

Harga minyak dunia bergerak naik pada perdagangan Selasa (11/8) waktu Indonesia seiring meningkatnya permintaan bahan bakar. Itu lantaran aktivitas pabrik di Tiongkok mulai kembali ke level sebelum pandemi Covid-19. 

Mengutip Bloomberg pada hari ini pukul 07.33 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 naik 0,11% menjadi US$ 45,04 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2020 naik 0,36% menjadi US$ 42,09 per barel.

Data otoritas Tiongkok menunjukkan deflasi pabrik di negara tersebut berkurang pada Juli 2020. Hal itu menunjukkan meningkatnya aktivitas pabrik menuju level sebelum pandemi corona.

Selain itu, pelaku pasar berharap adanya kesepakatan antara Partai Demokrat dan Gedung Putih terkait stimulus ekonomi di Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump melalui akun Twitter menyatakan bahwa Partai Demokrat ingin bertemu dengannya membahas bantuan ekonomi terkait virus corona.

Kedua hal itu menjadi sentimen positif bagi harga minyak. “Kompleksitas minyak sangat bergantung pada bantuan tersebut. Kami membutuhkan orang untuk dapat meningkatkan aktivitas ekonomi untuk memacu permintaan, ”kata John Kilduff, partner di Again Capital di New York seperti dilansir dari Reuters, Selasa (11/8).

Sebelumnya, CEO Arab Saudi Aramco Amin Nasser menyatakan optimismenya terhadap kenaikkan permintaan minyak di Asia. Hal itu terjadi seiring pelonggaran karantina wilayah yang menyebabkan aktivitas ekonomi kembali meningkat.

Di sisi lain, Irak mbakal menambah pemotongan produksi sebanyak 400.000 barel per hari pada Agustus dan September tahun ini. Keputusan itu diambil untuk mengompensasi kelebihan produksi dalam tiga bulan terakhir.

Langkah tersebut juga dapat membantu memenuhi pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya OPEC +. “Ini akan mengirimkan sinyal yang kuat ke pasar minyak di berbagai level. Namun, perusahaan internasional yang beroperasi di Irak harus ikut serta dalam pemotongan produksi tersebut, "kata analis Commerzbank Eugen Weinberg.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait