IHSG dalam Tren Turun, Potensi Besar Borong Saham dengan Harga Murah

Analis menyebut ketika IHSG terkoreksi, saham yang dibeli harus punya valuasi jangka menengah hingga panjang dengan potensi mengalami kenaikan.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
16 Maret 2020, 08:13
IHSG dalam Tren Turun, Potensi Besar Borong Saham dengan Harga Murah
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Warga melintas layar infornasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (12/3/2020). BEI membekukan sementara perdagangan ('trading halt') di bursa efek pada Kamis (12/3) pukul 15.33 WIB dipicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 5,01 persen.

Indeks harga saham gabungan atau IHSG turun hingga 10,75% dalam sepekan menjadi di level 4.907,  dimana penurunan paling tajam terjadi pada Senin (9/3) sebesar 6,58%. Anjloknya IHSG ternyata bisa menjadi peluang untuk membeli saham.

Investor kawakan Indonesia Lo Kheng Hong mengatakan kondisi saham yang turun merupakan peluang emas. "Dimana seseorang bisa membeli saham perusahaan bagus dengan harga murah," kata Lo kepada Katadata.co.id, Minggu (15/3).

Hal serupa diungkapkan Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus yang menyebut pasar saham saat ini sudah diskon besar-besaran. "Setiap kenaikkan, merupakan sebuah harapan. Setiap penurunan, pastilah sebuah kesempatan," kata Nico.

Dengan kondisi pasar saham yang terkoreksi, bahkan sejak awal tahun sudah turun hingga 22,1%, Niko menyebut saatnya investor belanja saham dengan fundamental perusahaan bagus. 

(Baca: Potret IHSG Pekan Lalu: Turun 10% dan Dua Kali Dibekukan)

Tapi Nico mengingatkan, saham yang dibeli harus punya valuasi jangka menengah hingga panjang dengan potensi mengalami kenaikkan. Beberapa sektor yang menurutnya bisa dipantau oleh investor yaitu perbankan dan infrastruktur.

Namun, analis Panin Sekuritas William Hartanto menyarankan investor untuk menunggu sambil memantau (wait and see). Sebab, volatilitas harga sama masih terlalu tinggi untuk jangka pendek.

"Dengan volatilitas setinggi ini, akan sulit untuk trading jangka pendek sekalipun," kata William.

Dia pun menyarankan investor untuk mempertimbangkan sektor perbankan dan konsumer untuk menjadi pilihan investasi jangka panjang. Pasalnya, valuasi dari perusahaan yang tergabung dalam kedua sektor itu semakin murah. 

"Kalau untuk jangka pendek, masih belum mencapai support semua. Jadi saya belum bisa rekomendasi," kata William.

(Baca: IHSG Diramal Menguat Ditopang Ragam Stimulus, Cermati Saham Blue Chip)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait