Suku Bunga AS Turun, Rupiah Jadi Mata Uang Paling Perkasa di Asia

Analis memproyeksi rupiah bakal terus menguat hingga esok hari setelah Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve memangkas suku bunga 50 basis poin.
Agatha Olivia Victoria
4 Maret 2020, 17:11
rupiah, suku bunga, amerika serikat
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Ilustrasi, warga mengantre untuk menukarkan mata uang di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Senin (13/1/2020). Nilai tukar rupiah menguat 1,19% ke level Rp 14.112 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 1-1,25%.

Nilai tukar rupiah pada pasar spot sore ini, Rabu (4/3) menguat 1,19% ke level Rp 14.112 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan rupiah didorong keputusan Bank Sentral AS The Federal Reserve atau The Fed yang memangkas suku bunga hingga 50 basis poin menjadi 1-1,25%. 

Rupiah pun bertahan menjadi mata uang yang paling perkasa di Asia. Mengutip Bloomberg, dolar Hong Kong naik 0,03%, dolar Singapura 0,27%, dolar Taiwan 0,23%, dan won Korea Selatan 0,61%.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,35%, yuan Tiongkok 0,41%, ringgit Malaysia 0,63%, dan baht Thailand 0,31%. Sedangkan yen Jepang dan rupee India masih melemah dengan penurunan masing-masing 0,32% dan 0,2%.

Tak hanya di pasar spot, keperkasaan rupiah juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Mata uang Garuda naik 51 poin ke level Rp 14.171 per dolar AS. Sedangkan akun twitter resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,25% sejak awal bulan ini.

Advertisement

(Baca: The Fed Pangkas Bunga, Sri Mulyani Yakin Modal Asing Masuk Bakal Deras)

Analis Pasar Uang PT Mandiri Tbk Rully Arya Wisnubroto mengatakan penguatan rupiah terdorong kebijakan Bank Sentral AS yang secara mengejutkan memangkas suku bunga acuannya. Dengan sentimen tersebut, dia bahkan memproyeksi rupiah masih bisa menguat esok hari.

"Saat ini yang paling berpengaruh faktor tersebut," ujar Rully kepada Katadata.co.id, Rabu (4/3).

Keputusan Fed memangkas suku bunga pada Selasa (2/4) waktu setempat merupakan upaya untuk menangkal dampak virus corona terhadap ekonomi terbesar dunia tersebut. Gubernur Fed Jerome Powell menegaskan bahwa ekonomi AS tetap kuat, tetapi penyebaran virus corona telah merubah prospek pertumbuhan ekonomi.

"Virus dan langkah-langkah yang diambil untuk menahannya pasti akan membebani aktivitas ekonomi, baik di dalam maupun luar AS untuk beberapa waktu," kata Powell dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Rabu (4/3).

Keputusan tersebut merupakan penurunan suku bunga pertama di luar pertemuan rutin Bank Sentral AS sejak puncak krisis keuangan 2008. "Kami sampai pada pandangan bahwa ini saatnya bertindak mendukung ekonomi. Saya tahu bahwa ekonomi AS kuat dan saya berharap kita akan kembali ke pertumbuhan dan pasar tenaga kerja yang solid," kata Powell.

(Baca: Rupiah Paling Kuat di Asia usai The Fed Pangkas Bunga )

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait