BPS: Virus Corona Sebabkan Ekspor dan Impor Indonesia-Tiongkok Turun

Agatha Olivia Victoria
17 Februari 2020, 14:39
BPS, virus corona, ekspor dan impor, tiongkok
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, suasana kegiatan ekspor impor di kawasan Tanjung Priok,  Jakarta Utara (28/6). Ekspor dan impor Indonesia-Tiongkok pada Januari 2020 menurun karena mewabahnya virus corona.

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat nilai ekspor dan impor Indonesia-Tiongkok menurun pada Januari 2020. Hal tersebut dipengaruhi mewabahnya virus corona.

BPS menyatakan ekspor ke  Tiongkok turun sebesar 12,07% menjadi US$ 2,24 miliar pada Januari 2020. Sedangkan nilai impornya terkontraksi sebesar 2,71% menjadi US$ 4 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menyebut dampak virus corona terhadap kegiatan ekspor-impor mulai terlihat seusai Imlek. Meski begitu, dirinya tak bisa memaparkan lebih lanjut dampak virus corona pada bulan lalu.

Ia beralasan bahwa pihaknya tak dapat membeberkan perkembangan ekspor dan impor secara mingguan. "Mungkin berdampak pada seminggu terakhir Januari 2020. Namun memang belum tercermin penuh pada bulan tersebut," kata Suhariyanto dalam Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Senin (17/02).

Pasalnya, pergerakan ekspor dan impor pada awal bulan hingga minggu ketiga Januari masih sangat baik. "Sehingga mungkin efeknya bisa kita lihat di Februari," ucap dia.

(Baca: Ekspor & Impor Makin Lesu, Neraca Dagang Januari Defisit US$ 864 Juta)

Secara detail, penurunan cukup tajam terlihat pada ekspor migas yang tercatat kontraksi 41% secara bulanan atau 25,28% secara tahunan. Penurunan juga terlihat pada ekspor nonmigas ke Tiongkok yang kontraksi 9,15%.

Adapun nilai komoditas ekspor berdasarkan HS dua digit yang turun cukup dalam pada bulan lalu yakni bijih, terak, dan abu logam sebesar 75,81% dari US$ 68,9 juta pada Desember 2019 menjadi US$ 284,7 juta. Kemudian, komoditas lemak dan minyak hewan nabati turun 65,58% dari US$ 370,5 juta menjadi US$ 127,5 juta.

Penurunan ekspor juga terlihat pada komoditas ikan dan udang sebesar 36,46% dari US$ 84 juta menjadi US$ 53,4 juta, serta pada komoditas bahan kimia organik yang turun 28,27% dari US$ 56,4 juta menjadi US$ 40,4 juta. Komoditas berbagai produk kimia dan komoditas lainnya juga turun masing-masing 2,94% dan 0,72%.

Sedangkan nilai impor pada Januari 2020 yang menurun tercermin dari impor nonmigas Tiongkok yang kontraksi 3,08% dari US$ 4,07 miliar menjadi US$ 3,94 miliar. Sedangkan untuk nilai impor migas terlihat tumbuh 31,1%.

(Baca: Ada Virus Corona, Neraca Dagang Januari Diramal Surplus)

Untuk penurunan impor terbesar dari Tiongkok pada bulan lalu terlihat pada komoditas buah-buahan. Adapun komoditas buah-buahan turun 78,88% dari US$ 160,4 juta menjadi US$ 33,9 juta. "Penurunan terutama pada apel dan anggur karena tidak ada lagi kebutuhan Imlek," ucap dia.

Advertisement

Selanjutnya impor komoditas mesin-mesin pesawat mekanik turun 11,24%, besi dan baja turun 10,97%, benda-benda dari besi dan baja 0,17%, dan mesin peralatan listrik 1,79%.

Dengan begitu, Suhariyanto menyebut defisit neraca dagang RI dengan Tiongkok turun menjadi US$ 1,84 miliar pada Januari 2020. Angka tersebut anjlok dari posisi defisit Januari 2019 sebesar US$ 2,4 miliar.

(Baca: Lawan Dampak Ekonomi Corona, Pemerintah Akan Gelar Hari Belanja Online)

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait