Bunga Acuan AS Turun, Darmin Minta BI Perhatikan Inflasi

Darmin berharap BI bisa menjaga suku bunga acuan tetap kompetitif dengan negara lain.
Image title
1 Agustus 2019, 17:22
darmin nasution, bank indonesia, suku bunga acuan
KATADATA | Arief Kamaludin
Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution Darmin Nasution meminta Bank Indonesia memperhatikan inflasi dalam menentukan suku bunga acuan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Bank Indonesia (BI) perlu mempertimbangkan faktor domestik dalam menentukan suku bunga acuan. Meskipun bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, telah menurunkan bunga acuannya.

Salah satu faktor domestik yang perlu diperhatikan BI adalah inflasi di dalam negeri. “Jadi tidak bisa terisolasi bikin sendiri semaunya. Harus lihat inflasinya bagus tidak,” kata Darmin di Jakarta, Kamis (1/8).

Biarpun begitu, faktor eksternal tetap perlu dipantau demi menjaga suku bunga acuan tetap kompetitif di antara negara lainnya. Adapun, The Fed memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada Rabu (31/7). 

Penurunan suku bunga tersebut merupakan penurunan suku bunga pertama kalinya sejak krisis keuangan global 2008. The Fed menyatakan keputusan tersebut diambil karena adanya implikasi perkembangan ekonomi global untuk prospek ekonomi ke depan dan tekanan inflasi yang rendah.

Advertisement

(Baca: Rupiah Berpotensi Menguat Pasca Penurunan Suku Bunga The Fed)

Langkah ini sejalan dengan ekspektasi pasar yang telah memperkirakan penurunan suku bunga AS sebesar 25 bps menjelang pertemuan Federal Reserve AS. Dalam konferensi persnya semalam, Powell mengatakan, kebijakan ini bukan awal rangkaian panjang pemangkasan suku bunga, namu bisa saja dilakukan lebih dari sekali pada tahun ini.

Pelaku pasar juga memprediksi kebijakan ini akan kembali dilakukan The Fed pada tahun ini. Biarpun begitu, perkataan Powell juga menjadi indikasi tak ada pemotongan serupa pada tahun depan.

Kebijakan moneter The Fed tersebut telah membuat nilai tukar rupiah pada perdagangan pasar spot hari ini, Kamis (1/8), melemah 46 poin ke level Rp 14.067 per dolar AS dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.  Di sisi lain, mata uang greenback terus menguat signifikan terhadap mata uang asing.

Indeks dolar AS naik ke 98,516. Angka ini hampir mendekat level tertinggi dalam dua tahun terakhir di 98,683. Nilai tukar euro terhadap dolar turun 0,2%. Begitu pula dengan yen Jepang yang melemah 0,4% pada pembukaan perdagangan di kawasan Asia Pasifik.

(Baca: Pertama Kali The Fed Pangkas Bunga Sejak 2008, Bursa AS Kompak Anjlok)

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait