IHSG Ditutup Turun 1,8%, Saham Perbankan Raksasa BBCA, BBRI, hingga BMRI Longsor
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG merosot 1,83% atau 120,72 poin ke level 6.485 pada penutupan perdagangan saham sore ini, Kamis (27/2). Salah satu penyumbang adalah turunnya sejumlah saham perbankan raksasa hingga di atas 5%.
Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia, saham perbankan pelat merah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) anjlok paling besar yakni 8,36% ke level Rp 2.630. Kemudian diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) merosot 5,28% ke Rp 4.660, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 0,23% ke Rp 4.340.
Harga saham perbankan lainnya yang turut longsor adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 4,97% ke Rp 3.630 per lembar saham. Tak hanya itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 0,56% ke Rp 895.
Penurunan harga saham di sektor perbankan tak hanya dialami bank pelat merah. Saham bank swasta raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga turun 2,85% ke Rp 8.525. Lalu PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) turun 0,41% ke Rp 2.420 dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) tergelincir 0,79% ke Rp 1.895.
Penurunan saham perbankan masih berlanjut hingga PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang terkoreksi 1,50% ke Rp 1.640 dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) turun 0,41% ke Rp 2.420.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham sebesar Rp 12,99 triliun dengan volume 18,87 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,14 juta kali. Sebanyak 196 saham menguat, 413 saham terkoreksi, dan 184 saham tidak bergerak. Adapun kapitalisasi pasar IHSG sroe ini sebesar Rp 11.260 triliun.
Di samping itu, dari sebelas sektor yang ada di BEI, sepuluh sektor terpantau anjlok. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni kesehatan 2,29%. Adapun saham di sektor tersebut yang berada di zona merah yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang tergelincir 3,80% ke Rp 1.140 per lembar saham.
Di sisi lain, bursa saham Asia didominasi menguat. Indeks Nikkei naik 0,30%, Shanghai Composite tumbuh 0,23%, dan Straits Times tumbuh 0,34%. Sebaliknya, Hang Seng tergelincir 0,29%.
Penyebab IHSG Lesu
Gerak lesu IHSG selama beberapa hari terakhir salah satunya dipicu oleh penurunan rating pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International atau MSCI dari equal weight menjadi underweight.
Dalam pengumuman terbaru yang dirilis sejak 19 Februari itu, MSCI menjelaskan terjadi pergeseran tren return on equity (ROE) Indonesia yang tertekan akibat ekonomi domestik melemah.
Equity Strategist Morgan Stanley, Jonathan F. Garner, mengatakan Morgan Stanley masih berhati-hati terhadap kemungkinan pemulihan dalam waktu dekat dan cenderung memilih eksposur investasi di negara-negara ASEAN lainnya. “Faktor geopolitik juga berkontribusi dalam menurunnya risiko investasi di Cina,” tulis Garner dalam risetnya, dikutip Kamis (27/2).
Di tengah turunnya rating saham Indonesia tersebut, investor berharap adanya sinyal positif dari peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (24/2). Setelah diluncurkan badan investasi tersebut akan mengelola sekitar US$ 900 miliar atau sekitar Rp 14.616 triliun aset dalam pengelolaan (AUM).
