Emiten Happy Hapsoro MINA Mau Right Issue, Harga Saham Naik Jelang RUPS Ada Apa?
Saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) tengah menjadi perhatian para pelaku pasar setelah mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Saham emiten yang terafiliasi suami Ketua DPR RI Puan Maharani, Happy Hapsoro itu termasuk yang banyak diburu investor.
Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia, saham MINA melesat menyentuh batas tertinggi atau auto reject atas (ARA) yakni naik 34,39% ke level Rp 254 per lembar saham pada pukul 15.00 WIB. Volume yang diperdagangkan tercatat 468,19 juta dengan nilai transaksi Rp 110,92 miliar, dan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 1,67 triliun.
Apabila menilik pergerakan harga sahamnya, MINA telah terbang 1.170% dalam enam bulan terakhir. Secara mingguan MINA juga melonjak 95,38% dan melesat 330,51% secara year to date (ytd).
Pergerakan saham yang agresif ini terjadi di tengah rencana perseroan untuk melakukan aksi korporasi penting, termasuk rights issue dan perubahan jajaran manajemen. Apa saja rencana yang akan dilakukan Sanurhasta Mitra dalam waktu dekat. Berikut ulasannya
Komisaris Utama MINA Mundur dan Rencana RUPS Luar Biasa
Selain itu, pada 25 Februari 2025, Edy Suwarno Al Jap L Sing mengajukan pengunduran diri dari posisinya sebagai Komisaris Utama Sanurhasta Mitra. Menanggapi hal tersebut, perseroan akan menjalankan proses sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam POJK No. 33/2014.
Perusahaan juga akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan pada Jumat (21/3) mendatang. Dalam agenda tersebut salah satunya membahas perubahan susunan direksi dan/atau dewan komisaris Sanurhasta Mitra.
Hapsoro Rampungkan Tender Wajib MINA
Sebelum pelaksaan RUPSLB, Sanurhasta Mitre terlebih dahulu telah merampungkan tender wajib. Pada 21 Februari, MINA menyampaikan laporan hasil penawaran tender wajib oleh Hapsoro atas saham Sanurhasta Mitra.
Dalam laporan kepada BEI itu, manajemen MINA menyampaikan Hapsoro sebelum tender wajib Hapsoro memiliki 5,73% atau setara 375 juta saja yang dimiliki secara langsung. Adapun kepemilikan tidak langsung melalui PT Basis Utama Prima yang merupakan pengendali MINA sebesar 45,7% atau setara 3 miliar lembar saham.
Sementara itu tender offer telah dilakukan dalam rentang 9 Januari hingga 7 Februari 2025 dengan tender wajib sebanyak-banyaknya 2,85 miliar saham. Proses tender offer telah berakhir pada 19 Februari 2025.
"Selama periode penawaran tender wajib terdapat 837 ribu saham publik yang menjual sahamnya," tulis manajemen. Laporan itu sebagaimana dipublikasikan PT Datindo Entrycom tanggal 10 Februari 2025.
Dengan selesainya tender offer selanjutnya kepemilikan Hapsoro secara langsung berkurang dari 5,73% menjadi 5,03%. Adapun kepemilikan saham oleh masyarakat naik dari 48,56% menjadi 49,26%.
MINA Rencanakan Right Issue
Selain pergantian direksi dan komisaris agenda lain dari RUPSLB adalah meminta persetujuan untuk aksi korporasi terdekat. MINA sebelumnya telah mengumumkan rencana pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue bagi para pemegang saham.
Dalam aksi korporasi ini, Sanurhasta Mitra berencana menerbitkan hingga 3.281.250.000 saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham. Sesuai Pasal 8 ayat (3) POJK PMHMETD, jangka waktu antara persetujuan RUPSLB hingga efektifnya Pernyataan Pendaftaran tidak boleh melebihi 12 bulan. PMHMETD I diperkirakan akan berlangsung dan rampung pada 2025.
“Perseroan meyakini bahwa penerbitan saham baru melalui PMHMETD I akan berdampak positif terhadap kondisi keuangan konsolidasi,” ujar manajemen MINA dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (11/3).
Adapun dana yang diperoleh akan digunakan untuk pengembangan bisnis guna meningkatkan pendapatan, profitabilitas, serta prospek usaha Perseroan dan entitas anak. Perusahaan menilai aksi ini diharapkan memberikan manfaat dan nilai tambah bagi perusahaan, pemegang saham, serta pemangku kepentingan lainnya.
Secara keuangan, pelaksanaan rights issue akan berdampak pada peningkatan aset dan ekuitas Perseroan. “Hal ini akan memperkuat struktur permodalan dalam menjalankan kegiatan usaha dan mendukung pertumbuhan jangka panjang Perseroan,” tulis manajemen MINA.
Struktur Permodalan MINA
Dari aksi korporasi right issue itu, struktur permodalan perseroan berubah setelah pelaksanaan rights issue. Modal dasar perseroan tetap sebesar 21 miliar saham dengan nilai nominal Rp 20 per saham, sehingga total nilai nominal modal dasar mencapai Rp 420 miliar.
Sebelum PMHMETD I, modal ditempatkan dan disetor perseroan terdiri dari 6,56 miliar saham dengan nilai nominal Rp 131,25 miliar. PT Basis Utama Prima menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 3 miliar saham atau 45,71%, diikuti oleh masyarakat dengan 3,23 miliar saham atau 49,27%, dan Happy Hapsoro yang memiliki 329 juta saham atau 5,02%.
Setelah pelaksanaan rights issue, jumlah modal ditempatkan dan disetor meningkat menjadi 9,84 miliar saham dengan nilai nominal Rp 196,87 miliar. PT Basis Utama Prima tetap memegang 45,71% saham dengan jumlah kepemilikan meningkat menjadi 4,5 miliar saham. Sementara itu, masyarakat memiliki 4,85 miliar saham atau tetap di angka 49,27%, dan Happy Hapsoro juga mempertahankan porsinya di 5,02% dengan kepemilikan 493 juta saham.
Di sisi lain, sisa saham dalam portepel berkurang dari 14,43 miliar saham menjadi 11,15 miliar saham. Dari aksi korporasi ini, pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru akan mengalami dilusi kepemilikan hingga 33,3%.
