Wall Street Menguat di Tengah Kekhawatiran Ekonomi dan Kebijakan Tarif Trump

Ringkasan
- Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman mengincar lahan eks-BLBI seluas 3,5 hektare di Karawaci untuk program 3 juta rumah, termasuk rumah komersial.
- Lahan eks-BLBI Karawaci dianggap ideal karena strategis, tidak dihuni masyarakat, dan memiliki potensi untuk pengembangan konsep perumahan yang inovatif.
- Pihak terkait akan melakukan penelitian dan survei untuk memastikan kelayakan pemanfaatan lahan eks-BLBI Karawaci untuk program 3 juta rumah.

Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa (25/3), melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya. Penguatan ini didorong oleh ekspektasi bahwa cakupan tarif AS akan lebih terbatas.
S&P 500 naik 0,16% ke level 5.776,65, Nasdaq Composite menguat 0,46% ke 18.271,86, dan Dow Jones Industrial Average naik tipis 4,18 poin atau 0,01% ke 42.587,50.
Meski demikian, investor kurang merespons laporan kepercayaan konsumen AS untuk Maret, yang menunjukkan penurunan tajam dalam persepsi masyarakat terhadap pendapatan, bisnis, dan kondisi ketenagakerjaan dalam waktu dekat.
Indeks kepercayaan Conference Board turun ke 92,9, di bawah perkiraan Dow Jones yang berada di 93,5. Sementara itu, indeks ekspektasi masa depan merosot ke 65,2, level terendah dalam 12 tahun terakhir dan jauh di bawah ambang batas 80 yang kerap menjadi indikator potensi resesi.
Analis investasi eToro Bret Kenwell menilai kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan ketidakpastian kebijakan terus membebani sentimen investor, konsumen serta pelaku usaha.
"Hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai tarif dan kondisi makroekonomi, kepercayaan pasar masih akan tetap rapuh," ujarnya, dikutip dari CNBC, Rabu (26/3).
Kenwell juga menyoroti bahwa data produk domestik bruto (PDB) dan pengeluaran konsumsi pribadi yang akan dirilis minggu ini dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi ekonomi.
Pengeluaran konsumsi pribadi menjadi indikator utama inflasi bagi Federal Reserve, sementara laporan ketenagakerjaan minggu depan juga akan menjadi perhatian investor.
Waspadai Lonjakan Inflasi dan Perlambatan Ekonomi
Wall Street belakangan ini mengalami volatilitas akibat kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, terutama menjelang penerapan tarif timbal balik Presiden Donald Trump yang dijadwalkan pada 2 April 2025.
Investor sempat merasa lega pada perdagangan Senin setelah muncul kabar bahwa Gedung Putih mungkin akan membatasi cakupan tarif yang diterapkan.
Trump menyatakan kepada media bahwa pihaknya mungkin memberikan kelonggaran terkait tarif resiprokal kepada banyak negara. Namun, ia menegaskan bahwa bea masuk untuk sektor tertentu, seperti farmasi dan otomotif, masih akan diberlakukan dalam waktu dekat.
Kabar ini memicu reli pasar saham pada Senin, dengan Dow melonjak lebih dari 600 poin. Lonjakan tersebut menjadi salah satu hari perdagangan terkuat dalam beberapa pekan terakhir, setelah indeks S&P 500 sempat memasuki zona koreksi pada awal Maret.