Kebijakan Tarif Impor Trump Berpotensi Buat IHSG Kembali Alami Trading Halt

Image title
6 April 2025, 11:48
Pekerja melintas di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/3/2025). Pada penutupan perdagangan sebelum memasuki libur Idul Fitri 1446 H, IHSG ditutup di zona hij
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz
Pekerja melintas di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/3/2025). Pada penutupan perdagangan sebelum memasuki libur Idul Fitri 1446 H, IHSG ditutup di zona hijau naik sebesar 38,26 poin ke level 6.510,62 atau naik 0,59 persen.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pengenaan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kepada beberapa negara di dunia termasuk Indonesia berpotensi membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi cukup dalam. 

Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan kebijakan yang diterapkan oleh Amerika Serikat menyebabkan bursa global mengalami volatilitas yang begitu kencang dan akan berimplikasi kepada kinerja pergerakan di IHSG. Kebijakan tersebut juga berpotensi membuat IHSG akan kembali mengalami penghentian perdagangan sementara atau trading halt pada perdagangan Selasa (8/4).

 “Jadi wajar saja santer dikaitkan dengan adanya potensi trading halt wajar karena kita sudah menghadapi hari libur semenjak 28 maret,” ujar Nafan saat dikonfirmasi Katadata, Minggu (6/4).

Meski begitu, gejolak yang akan terjadi di bursa Indonesia akan dipengaruhi pergerakan indeks saham global pada perdagangan Senin (7/4).

Sementara itu, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, mengatakan reaksi pasar akan cukup massif dengan adanya dinamika yang terjadi di kancah global.

“Sehingga terbuka potensi koreksi pasar yang signifikan (08/4) karna pasar akan adjustment sentiment,”  ujar Oktavianus dihubungi terpisah. Oktavianus mengatakan, sentiment global akan membuat investor IHSG akan menyesuaikan dengan adanya potensi panic selling pada perdagangan Selasa (8/4).

Potensi panic selling akan meningkat, terlebih jika pemerintah Indonesia tidak memberikan ketenangan pasar melalui langkah startegis yang akan diambil.

“Karena multiplier effectnya akan berdampak kepada Rupiah dan perlambatan pertumbuhan PDB. Bahkan Nomura Asia sudah merevisi target PDB Indonesia menjadi 4,7% y/y dari sebelumnya 4,9% y/y paska tarif resiprokal Trump tersebut,” ucapnya.

Sementara itu, beberapa pasar saham global anjlok usai Cina membalas kebijakan Donald Trump dengan tarif baru pada barang-barang AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan adanya perang dagang global yang akan berujung pada resesi.

Adapun beberapa bursa saham dunia seperti Indeks Dow Jones Industrial Average turun 2.231,07 poin, atau 5,5%, menjadi 38.314,86 pada Jumat (4/4), penurunan terbesar sejak Juni 2020 selama pandemi Covid-19.

Kondisi tersebut mengikuti penurunan 1.679 poin pada Kamis (3/4) dan menandai pertama kalinya indeks ini kehilangan lebih dari 1.500 poin dalam dua hari berturut-turut. Indeks S&P 500 anjlok 5,97% menjadi 5.074,08, penurunan terbesar sejak Maret 2020. Indeks acuan ini kehilangan 4,84% pada hari Kamis (3/4).

Indeks Nasdaq Composite, yang merupakan rumah bagi banyak perusahaan teknologi yang menjual dan memproduksi di China, turun 5,8% menjadi 15.587,79. Ini mengikuti penurunan hampir 6% pada hari Kamis (3/4).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Djati Waluyo

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...