Prospek Saham ANTM: Pendapatan Ditaksir Tembus Rp 74 T, Intip Rekomendasi Harga

Nur Hana Putri Nabila
21 April 2025, 17:04
Saham Antam
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Petugas memperlihatkan emas batangan yang ditransaksikan di Butik Emas Logam Mulia, gedung Aneka Tambang, Jakarta, Selasa (3/4).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kinerja anggota emiten pertambangan di bawah Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTM, kian menggeliat. Kinerja ANTM meroket tidak hanya di pasar saham tetapi juga dari segi operasional. 

Secara year to date, harga saham ANTM telah melesat hingga 37%. Di saat bersamaan, perusahaan mencatatkan capaian kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah di tahun buku 2024. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis, menyampaikan bahwa laba bersih perusahaan pada kuartal keempat 2024 mencapai Rp 1,4 triliun atau naik 122% dibanding kuartal sebelumnya. Pendapatannya kini diproyeksikan meroket hingga Rp 74 triliun tahun ini.

“Sehingga laba full year 2024 mencapai Rp3,6 triliun atau naik 19% yoy, melebihi dari estimasi kami,” tulis tim analis BRI Danareksa Sekuritas, dikutip Senin (21/4). 

Timothy juga menjelaskan, merujuk laporan keuangan terbaru, laba inti ANTM di kuartal keempat 2024 relatif stabil di angka Rp 1 triliun, hanya turun tipis 3% dibanding kuartal sebelumnya. Meski begitu, pendapatan lain-lain meningkat menjadi Rp 857 miliar. 

Peningkatan pendapatan lain-lain didorong oleh kontribusi dari WBN sebesar Rp 349 miliar dan keuntungan dari selisih kurs sebesar Rp 321 miliar. Selain itu juga ada pengalihan aset KDI senilai Rp 101 miliar.

Sementara itu, pendapatan perusahaan melonjak tajam pada kuartal keempat menjadi Rp 25,9 triliun atau naik 30% dibanding kuartal sebelumnya. Secara tahunan, total pendapatan pada 2024 mencapai R p69,2 triliun. 

Manajemen Antam mengatakan kenaikan ini terutama ditopang oleh penjualan emas yang mencapai rekor 15,2 ton, naik 21% qoq dan penjualan feronikel (FeNi) sebanyak 7,7 ribu ton atau naik 61% (qoq).

Proyek Berjalan Antam

Tim analis BRI Danareksa menyampaikan bahwa ANTM saat ini tengah mengejar konsesi tambang emas baru, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini dilakukan sebagai langkah lanjutan dari tambang Pongkor yang masa operasionalnya diperkirakan hanya tersisa 3–4 tahun. Meski begitu, mereka menilai kemungkinan aksi akuisisi (M&A) relatif kecil karena tingginya harga emas dunia.

Di sisi produksi dan perdagangan, analis BRI Danareksa mengatakan ANTM juga sedang mempersiapkan pembangunan pabrik percetakan emas senilai Rp1,1 triliun di Gresik. Pabrik ini dirancang mampu memproduksi hingga 5 juta keping emas batangan dan koin, setara sekitar 30 ton emas. 

Nantinya, fasilitas ini akan terintegrasi dengan pabrik peleburan emas milik Freeport yang berada di kawasan yang sama. “Di sisi nikel, ANTM bersiap untuk menyuntikkan dana sebesar Rp 5 triliun untuk pembangunan RKEF di kuartal kedua 2025 dan HPAL pada kuartal ketiga 2025,” ujar Timothy. 

Berdasarkan panduan terbaru dari perusahaan, BRI Danareksa menaikkan proyeksi penjualan ANTM menjadi 42 ton emas, 19 ribu ton feronikel (FeNi), dan 14,5 juta wmt bijih nikel. Perubahan ini membuat estimasi pendapatan untuk tahun 2025 dan 2026 meningkat masing-masing sebesar 61% dan 52% menjadi Rp 74 triliun dan Rp 72 triliun. 

Sementara itu, estimasi laba bersih juga direvisi naik 44% dan 42% menjadi Rp5,3 triliun dan Rp5,5 triliun. Selain itu, analis juga menambahkan proyeksi baru untuk tahun 2027 dengan estimasi laba bersih mencapai Rp5,7 triliun.

Rekomendasi Saham ANTM

Apabila menilik kinerja sahamnya pada perdagangan hari ini, Senin (21/4), saham ANTM ditutup naik 7,46% ke level Rp2.090 per lembar saham. Nilai transaksinya sebesar Rp 643,80 miliar dengan volume yang diperdagangkan tercatat 316,93 juta, dan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 50,22 triliun. 

Secara mingguan, saham ANTM naik hingga 23,67% dan melesat 37,05% secara year to date (ytd). BRI Danareksa kembali memberikan rekomendasi beli untuk saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dengan target harga yang dinaikkan menjadi Rp 2.500 per saham. 

Kenaikan target harga ini didorong oleh proyeksi yang lebih positif terhadap kinerja perusahaan di masa depan. Dalam valuasi terbaru, BRI Danareksa menggunakan rasio harga terhadap laba (PE) 11 kali untuk tahun fiskal 2025, yang lebih rendah dari sebelumnya yang sebesar 13 kali. 

Meskipun lebih rendah, angka ini masih berada di bawah rata-rata PE tiga tahun terakhir. “Risiko utama dari rekomendasi kami adalah harga nikel yang lebih rendah, tingkat utilisasi yang lebih rendah, dan penundaan eksekusi proyek,” ujar Timothy.  

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...