Adu Kinerja Emiten Properti Konglomerat: CTRA, PANI, DMAS dan BSDE Siapa Jawara?
Emiten properti diproyeksi masih menggeliat di tengah gejolak pasar akibat tarif resiprokal yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia memproyeksikan sektor properti akan mengalami pertumbuhan positif pada tahun 2025.
“Hal ini didorong oleh penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) serta melejitnya permintaan untuk proyek kelas menengah hingga atas,“ kata Liza kepada Katadata.co.id seperti dikutip Selasa (6/5).
Menurut Liza, saat ini nvestor tengah melirik beberapa emiten yang memiliki aset jumbo untuk dibeli dalam gejolak pasar uang dunia yang sedang demam. Merujuk Peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau POJK Nomor 53/POJK.04/2017 klasifikasi perusahaan yang disebut jumbo adalah perseroan yang memiliki aset di atas Rp 250 miliar.
Liza menilai, berbagai sentimen masih memungkinkan bagi emiten sektor properti untuk bertumbuh hingga akhir tahun. Merujuk laporan keuangan yang sudah disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia, sejumlah emiten properti milik para konglomerat Tanah Air menyatakan optimismenya bisa tumbuh.
Emiten di bawah kongsi Agung Sedayu Group dan Salim Group PT Pantai Indah Kapuk 2 Tbk (PANI) dalam laporan kepada bursa menyampaikan target agresif hingga akhir 2025. Presiden Direktur PANI, Sugianto Kusuma atau Aguan menegaskan komitmen PANI bisa menjadi episentrum bisnis dan hunian baru di utara Jakarta dan Tangerang.
Merujuk laporan kepada BEI, Pantai Indah Kapuk 2 mematok target penjualan (pre-sales) sebesar Rp 5,3 triliun pada 2025. Namun, hingga akhir kuartal I tahun ini, perseroan baru mencatatkan capaian sebesar Rp 466 miliar atau sekitar 9% dari target tahunan. Manajemen mengakui pencapaian ini tak lepas dari tekanan nilai tukar dan suku bunga yang membuat konsumen dan investor lebih berhati-hati.
“Namun, dengan didukung oleh fondasi yang solid, termasuk portofolio properti yang terdiversifikasi dan strategi bisnis yang responsif, PANI tetap melihat peluang untuk kembali ke jalur pertumbuhan,” ujar Aguan dalam pernyataan resmi.
Optimisme juga datang dari taipan properti lainnya seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) milik konglomerat Ciputra dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang berada dalam konglomerasi Sinar Mas Group. PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) atau dikenal Delta Mas yang juga berada di bawah payung Simar Mas memberi harapan dengan menabar dividen besar di awal tahun.
Deret Kinerja Emiten Properti Tanah Air, Optimisme di 2025
PANI Tetap Agresif di Tengah Penurunan
Mengawal 2025, PT Pantai Indak Kapuk 2 Tbk atau PANI mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 4,5% secara tahunan year-on-year (yoy) menjadi Rp 611,97 miliar pada kuartal I 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun tajam sebesar 59% menjadi Rp 49,5 triliun.
Meskipun demikian, Aguan menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2) yang ditargetkan menjadi pusat bisnis dan hunian baru di wilayah Jakarta Utara dan Tangerang.
Sepanjang 2021 hingga 2024, PANI membukukan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) pre-sales sebesar 51%, bahkan mencapai rekor Rp 6 triliun pada 2024. Capaian ini ditopang oleh deretan proyek unggulan yang mengandalkan akses ke tempat strategis.
Untuk mendukung ekosistem kawasan, PANI melalui anak usahanya PT Bangun Kosambi Tbk (CBDK) tengah membangun fasilitas MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) bernama NICE. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi sebagian pada Oktober 2025. Fasilitas ini akan memperkuat posisi PIK2 sebagai destinasi investasi dan bisnis baru.
"Portofolio kami tetap kuat, didukung oleh lokasi strategis dan desain produk yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini maupun masa depan," ujar Aguan lagi.
Permintaan Lahan Industri DMAS Masih Tinggi
Sementara itu, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menyetujui pembagian dividen tahun buku 2024 sebesar Rp 1,4 triliun atau Rp 29 per saham, yang akan dibayarkan pada 20 Mei 2025. Dividen ini mencerminkan dividend yield sebesar 16,6%, menjadikannya salah satu yang tertinggi di sektor properti.
DMAS menargetkan prapenjualan properti sebesar Rp 1,81 triliun tahun ini, sedikit turun dari realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp 1,87 triliun. Permintaan lahan industri tetap tinggi, terutama dari sektor pusat data (data center), barang konsumsi (fast-moving consumer goods/FMCG), dan otomotif.
Soal prospek Delta Mas, Liza mengatakan saat ini DMAS tengah mengembangkan kawasan Kota Deltamas di Cikarang dan Bekasi, dengan fokus pada lahan industri serta fasilitas pendukung seperti perkantoran, hotel, perumahan, dan sarana umum. “DMAS lebih berfokus mendukung kebutuhan hunian untuk ekspatriat, pekerja industrial estate dan kalangan menengah atas,” kata Liza.
Seiring dengan kinerja positif perseroan, harga saham DMAS di pasar juga meningkat signifikan. Harga saham DMAS sudah naik 18,12% secara year to data menjadi Rp 176 per lembar pada penutupan perdagangan Senin (5/5).
Lonjakan ini didorong oleh volume pembelian yang meningkat serta sinyal positif dari indikator teknikal seperti MACD. Analis MNC Sekuritas, Herditya, menyebut bahwa tren harga saham masih menunjukkan penguatan, meski perlu mewaspadai potensi koreksi.
Marketing Sales Kuartal I 2025 CTRA Tembus Rp 3,15 Triliun
Emiten properti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memarkirkan marketing sales sebesar Rp 3,15 triliun pada kuartal awal tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai Rp 3,32 triliun. Kendati demikian, realisasi ini melonjak 35% dibandingkan kuartal kuartal keempat 2024.
Menurut riset yang dirilis BRI Danareksa Sekuritas Ismail Fakhri Suweleh menyatakan penurunan marketing sales terjadi karena penjualan yang tinggi pada kuartal pertama 2024. Saat itu, proyek Sampali dan Tanjung Morawa menyumbang sekitar Rp 1 triliun terhadap total penjualan.
Sementara itu, proyek CitraLand Surabaya Dempsey Hill menyumbang Rp 209 miliar dengan tingkat serapan unit mencapai 83%. Di sisi lain, bulan Ramadan yang jatuh sepenuhnya pada Maret 2025 juga disebut sebagai salah satu faktor yang menahan laju penjualan properti selama kuartal pertama tahun ini.
Meski menghadapi tekanan tahunan, CTRA tetap aktif meluncurkan proyek baru di sejumlah kawasan strategis seperti Bintaro, Serpong, dan Surabaya. Peluncuran proyek-proyek ini membuahkan hasil dengan menyumbang marketing sales sebesar Rp 536 miliar atau 17% dari total prapenjualan kuartal pertama.
Komposisi produk yang dijual masih didominasi rumah tapak, yang mencapai 91% dari total penjualan. Produk-produk di kisaran harga Rp 1–2 miliar menyumbang 29%, sementara produk di kisaran Rp 2–5 miliar berkontribusi 44%. Dari sisi wilayah, 49% penjualan terjadi di Jabodetabek, sementara 25% lainnya berasal dari Surabaya.
“Capaian marketing sales ini mencerminkan keberhasilan strategi CTRA dalam menangkap permintaan aktif di pasar properti saat ini,” ujar Ismail dalam risetnya.
Melihat kinerja dan strategi perusahaan, BRI Danareksa Sekuritas tetap merekomendasikan buy untuk saham CTRA dengan target harga Rp1.700 per saham. Menurut Ismail, valuasi saham CTRA saat ini masih mencerminkan diskon 77% terhadap RNAV (Revalued Net Asset Value), lebih tinggi dibanding rata-rata historis lima tahun yang sebesar 63%.
Sementara tinjauan gerak saham CTRA secara tahunan berada di zona merah turun 18,14% atau 205 poin ke level 925. Namun pasca trading held yang terjadi pada 8 April lalu, gerak saham CTRA menanjak hingga naik 28,47% atau 205 poin ke level 925 dalam satu bulan terakhir. Per hari ini, JUmat (2/5) sahamnya naik 0,54% atau 5 poin ke level 925.
Segmen Hunian BSDE Masih Jadi Andalan
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membuka tahun 2025 dengan performa positif. Emiten properti milik Grup Sinar Mas ini membukukan prapenjualan sebesar Rp 2,43 triliun pada kuartal pertama tahun ini. Pencapaian tersebut setara dengan 24% dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp 10 triliun.
Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, menyampaikan bahwa capaian ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 2,22 triliun. “Ini memberikan awal yang baik bagi BSDE di awal tahun,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip pada Jumat (2/5).
Dari total prapenjualan, segmen hunian masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sebesar Rp 1,28 triliun atau sekitar 53%. Proyek-proyek unggulan seperti Nava Park, Hiera, dan Armont Residence di BSD City menjadi penyumbang terbesar. Selain itu, kawasan Grand Wisata Bekasi melalui proyek Kaia Yara, serta Richmond di Kota Wisata Cibubur juga turut mendorong kinerja positif ini.
“Capaian ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk-produk BSDE tetap kuat, khususnya di segmen hunian. Kami optimistis dapat merealisasikan target tahun ini,” ujarHermawan.
Tidak hanya dari hunian, segmen komersial juga mencatatkan kontribusi signifikan yakni sebesar Rp1,03 triliun atau 42% dari total prapenjualan. Rinciannya, prapenjualan ruko mencapai Rp747 miliar, lot komersial Rp135 miliar, dan unit apartemen Rp149 miliar.
Produk komersial baru seperti Nava Park Business Suites dan Xlane Community Complex di BSD City berhasil menarik minat pasar. Untuk apartemen, penjualan berasal dari proyek The Elements, Southgate, dan Aerium di Jakarta, serta Akasa dan Upper West di BSD City.
Meskipun menciptakan prapenjualan yang menjanjikan, namun saham BSDE bergerak pada zona merah secara yoy. Sahamnya turun 5,9% atau 55 poin ke level 880 dalam jangka waktu satu tahun terakhir. Masa keemasan BSDE terjadi pada bulan Agustus hingga November 2024 mencapai lebel 1.340.
