Deret Saham Masuk Investasi Danantara: PGEO, GIAA hingga TPIA, Simak Prospeknya
Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara menyuntik modal ke beberapa perusahaan dengan jumlah jumbo. Dana investasi yang diberikan Danatara dari berbagai sektor, mulai dari energi hingga transportasi penerbangan.
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Pandu Patria Sjahrir mengatakan ingin menjadi besar bukan hanya dalam jumlah dana, tetapi juga pada persentase porsi kepemilikan saham di sejumlah perusahaan. Ia menjelaskan bahwa cara Danantara bekerja dengan sektor swasta ialah dengan menciptakan kesepakatan platform kerja sama.
“Jadi biasanya, ketika kami berbicara dengan mitra strategis, biasanya kami membuka (percakapan dengan menyatakan) ‘mari kita lakukan 50-50,’ dan kami senang dapat tumbuh hingga 50%. Ketika sudah kami kuasai, kami mungkin ingin memiliki lebih banyak dari itu,” ujar Pandu dalam agenda FT Live Energy Transition Summit Asia Conference di Jakarta, Rabu (25/6).
Dalam konteks energi terbarukan, Danantara menurut Pandu siap menanamkan modal terhadap proyek yang dieksekusi dengan baik oleh pebisnis. Ia mengatakan peran Danantara sebagai pemodal bisnis ditujukan untuk dapat menarik bakat dan modal terbaik, yang akan selalu datang ketika proyek tertentu itu bagus.
“Tugas anda, sebagai pemilik proyek, adalah benar-benar fokus untuk memastikan proyek tersebut tepat waktu, anda mendapatkan PPA (Power Purchase Agreement) yang baik, dan anda dapat menyelesaikan proyek tepat waktu,” katanya.
Sebagai bagian dari pengembangan bisnis, Danantara saat ini telah menyatakan ketertarikan untuk berinvestasi pada sejumlah sektor strategis. Beberapa perusahaan yang sudah dinyatakan secara terbuka untuk bekerja sama adalah anak usaha PT Pertamina, yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), hingga PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Bagaimana prospek kerja sama yang dilakukan
Pertamina Geothermal Energy (PGEO)
Sebelumnya Danantara tengah membahas rencana penandatanganan Head of Agreement (HoA) dan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE. CEO Danantara Rosan Roeslani menyampaikan, rencana tersebut untuk mendorong proyek-proyek prioritas agar segera masuk dalam daftar pelaksanaan investasi.
Salah satu fokus utama yang dibahas dalam pertemuan dengan jajaran direksi Pertamina Geothermal Energy (PGE) di kantor Danantara adalah pengembangan energi panas bumi hingga kapasitas 3 gigawatt (GW).
“Ini merupakan langkah penting dalam mempercepat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan,” tulis Rosan dalam media sosialnya, Selasa (24/6).
Rosan menekankan, Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 turut menjadi perhatian utama, terutama dalam integrasi proyek-proyek panas bumi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi katalis bagi percepatan hilirisasi energi serta mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di tingkat nasional.
Chandra Asri Pacific (TPIA)
Kemudian Danantara, Indonesia Investment Authority (INA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) meneken kerja sama untuk menjajaki potensi investasi dalam proyek pembangunan pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC). Nilai investasi proyek ini mencapai sekitar US$ 800 juta atau Rp 13 triliun.
Kerja sama ini bertujuan memperkuat kapasitas produksi nasional untuk soda kaustik dan Ethylene Dichloride, dua bahan baku penting bagi industri hilir seperti pengolahan nikel. Langkah ini juga diharapkan mendukung kemandirian industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan kimia dasar.
Adapun proyek pabrik CA-EDC ini juga merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan mendorong hilirisasi, memperkuat ketahanan industri, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menekankan, investasi ini sejalan dengan visi industrialisasi hilir dan transformasi ekonomi nasional. Investasi ini juga diharapkan memperkokoh posisi sektor kimia sebagai fondasi penting bagi berbagai rantai nilai industri.
“Di Danantara Indonesia, kami menyambut mitra global yang berbagi visi kami dalam membangun ekosistem industri yang tangguh dan bernilai tinggi di ekonomi Asia yang dinamis,” kata Pandu dalam keterangan resminya, Senin (16/6).
Garuda Indonesia (GIAA)
Tak hanya itu, Danantara berkomitmen menyuntik pendanaan mencapai US$ 1 miliar atau setara Rp 16 triliun kepada PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Pada tahap awal, dana akan diberikan dalam bentuk pinjaman pemegang saham atau shareholder loan senilai US $405 juta atau setara Rp 6,65 triliun.
Komitmen pendanaan Danantara diberikan dalam rangka restrukturisasi penyehatan Garuda Indonesia. Adapun suntikan dana tahap awal ini akan digunakan Garuda Indonesia untuk mendukung kebutuhan perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) armada.
Aneka Tambang (ANTM)
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Danantara ikut dalam proyek usaha patungan baterai kendaraan listrik bersama Huayou dan Contemporary Amperex Technology Limited (CATL).
Rosan mengatakan keterlibatan Danantara ke dalam proyek baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) merupakan komitmen pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia di proyek tersebut. Keterlibatan Danantara juga diharapkan dapat menyelesaikan kendala pendanaan yang terjadi belakangan ini.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan keterlibatan Danantara di proyek baterai EV pimpinan Huayou dan CATL merupakan langkah strategis untuk meningkatkan porsi kepemilikan saham Indonesia dalam dua proyek tersebut.
“Ada arahan Bapak Presiden kita akan memaksimalkan untuk di atas 40% bahkan sampai dengan 50%. Tapi itu semua dalam proses negosiasi. Tapi yang sudah firm, sekarang adalah di angka 51% di hulu,” ujar Bahlil.
Huayo menjadi pimpinan konsorsium Proyek Titan menggantikan LG Energy Solution (LGES). Di proyek senilai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 165,3 triliun tersebut, Huayou akan bermitra dengan PT Indonesia Battery Corporation (IBC) selaku perusahaan induk (holding) New Energy Materials beserta PT Aneka Tambang (Antam), PT Pertamina, dan PT PLN.
Danantara Kucurkan Rp130 T Investasi di Sektor Perumahan
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memberikan dukungan anggaran untuk sektor perumahan senilai Rp 130 Triliun. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyatakan dukungan tersebut merupakan wujud nyata Indonesia untuk mandiri.
"Adanya pendanaan dari Danantara merupakan wujud nyata bangsa Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri serta sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia," ujar Maruarar seperti dikutip Kamis (26/6).
Menurut menteri yang biasa disapa Ara itu, dukungan Danantara akan digunakan untuk membangun dan merenovasi rumah sebanyak 3 juta unit rumah per tahun. Terlebih lagi Prabowo sudah menyatakan komitmen untuk tidak mengajukan pinjaman luar negeri di sektor perumahan.
Lebih jauh Ara mengatakan Kementerian PKP, BP Tapera, Danantara Indonesia beserta lima bank Himbara sedang membahas teknis pengelolaan kucuran dana sebesar Rp 130 triliun tersebut. Anggaran tersebut akan digunakan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) perumahan.
Kucuran dana dari Danantara, lanjut Ara, merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto. Menurut Ara, sektor perumahan turut mendukung pertumbuhan ekonomi karena melibatkan industri terkait. Salah satu emiten yang terlibat dalam pengembangan rumah subsidi pemerintah saat ini adalah grup Lippo seperti PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).
Danantara Siapkan Investasi Rp 81,4 Triliun
Sebelumnya, Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir mengatakan Danantara akan mengedepankan aspek komersialisasi dan pengembalian investasi dalam setiap proyek yang mendapatkan investasinya. "Paling penting bagi Danantara adalah tingkat pengembalian investasi dan komersialitas sebuah kegiatan," kata Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir di Taman Sriwedari Cibubur, Minggu (1/6).
Pandu sebelumnya sempat menyebutkan sembilan sektor prioritas yang menjadi fokus investasi Danantara. Kesembilan sektor itu ditinjau berdasarkan dampak ekonomi yang ditimbulkan dan selaras dengan visi misi panduan dalam pendirian Danantara.
Sektor-sektor tersebut, yakni pertama, industri downstream atau hilir seperti mineral, nikel serta timah dan bauksit. Kedua, sektor upstream atau hulu yang memproduksi minyak dan gas. Ketiga, sektor manufaktur yang memprioritaskan peluang Cina dalam ekosistem EV dan energi terbarukan.
Keempat adalah sektor ketahanan pangan yang memayungi budidaya perairan. Kelima, infrastruktur digital yang merangkum pusat data dan konektivitas. Keenam, infrastruktur air serta limbah.
“Danantara akan memprioritaskan investasi pada bendungan air, pengelolaan air, dan tempat pembuangan sampah baru,” kata Pandu.
Ketujuh, sektor keamanan energi yang mencakup energi terbarukan, pembangkit listrik, transmisi, kilang petrokimia dan bioenergi. Kedelapan, sektor real estat strategis dengan investasi pada kompleks olahraga dan mice, kawasan industri, dan real estate. Kesembilan, sektor baru seperti pusat data komputasi AI, manufaktur semi konduktor canggih dan sebagainya.
