IHSG Turun 0,18%, Investor Profit Taking dari Saham Bank BUMN
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 12,31 poin atau 0,18% ke level 6.915 pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (1/7) sore. IHSG, antara lain terseret anjloknya saham-saham bank BUMN.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, nilai transaksi saham hari ini mencapai Rp 11,38 triliun dengan volume 17,17 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,11 kali. Sebanyak 245 saham menguat, 356 saham terkoreksi, dan 191 saham tidak bergerak. Adapun kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp 12.200 triliun.
Dari sebelas sektor saham yang ada di BEI, tujuh sektor kompak melemah. Saham-saham sektor transportasi mencatat penurunan terbesar, yakni 1,88%. Saham emiten tersebut yang berada di zona merah di antaranya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) yang terkoreksi 5,18% ke Rp 1.830 per lembar saham.
Di sisi lain, bursa saham Asia bergerak variatif. Indeks Shanghai Composite terangkat 0,39% dan Straits Times tumbuh 0,64%. Sedangkan Nikkei turun 1,24% dan Hang Seng stagnan.
Saham top gainers:
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 12,50% ke Rp 630
- PT Avia Avian Tbk (AVIA) naik 7,14% ke Rp 450
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) naik 3,49% ke Rp 474
Saham top losers:
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 4,78% ke Rp 438
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 1,50% ke Rp 985
- PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 2,15% ke Rp 2.730
Saham Bank-Bank BUMN Rontok
Phintraco Sekuritas mengatakan, turunnya IHSG hari ini disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh investor. Hal itu dipicu laporan keuangan sejumlah bank BUMN yang menunjukkan penurunan laba per Mei 2025.
Harga saham PT Bank Mandiri Tbk turun 2,66% ke level Rp 4.750, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 1,07% ke level Rp 3.700, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 2,67% ke level Rp 4.010, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) 1,79% ke level Rp 1.095.
Adapun neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 mencatat surplus sebesar US$ 4,3 miliar, meningkat dari US$ 2,92 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja positif ini didorong oleh kenaikan ekspor sebesar 9,68% secara tahunan (yoy) dan impor yang tumbuh 4,14% yoy.
Pertumbuhan ekspor pada Mei 2025 lalu merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 31 bulan terakhir, yang diduga karena para eksportir bergegas mengirimkan barang sebelum jeda 90 hari tarif impor Trump berakhir. Hal ini terlihat dari ekspor ke AS meningkat 24.76% yoy. Adapun inflasi Juni 2025 (1/7) tercatat sebesar 1.87% yoy dari 1.6% yoy di Mei 2025, seiring dengan terjadinya inflasi 0.19% MoM dari deflasi 0.37% MoM di Mei 2025.
“Namun inflasi Juni tersebut masih dalam kisaran target BI yang sebesar 1,5% yoy-3,5% yoy,” kata tim analis Phintraco Sekuritas, Selasa (1/7).
