Kisruh Transaksi Janggal Rp 1,8 Miliar, Siapa Sosok di Balik Ajaib Sekuritas?
Perseteruan antara nasabah dan PT Ajaib Sekuritas terkait transaksi Rp 1,8 miliar terus berlanjut. Antara manajemen Ajaib Sekuritas dan nasabah saling berbantah.
Direktur Utama Ajaib Sekuritas, Juliana, bersikukuh transaksi Rp 1,8 miliar melalui proses konfirmasi secara elektronik. Sedangkan, I Nyoman Tri Atmajaya Putra atau Niyo sebagai nasabah, membantah pernah memberikan konfirmasi
Polemik transaksi itu membuat Ajaib Sekuritas menjadi sorotan. Berikut profil perusahaan sekuritas Ajaib.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Ajaib Sekuritas Asia merupakan anggota bursa dengan kode broker "XC". Perusahaan itu mayoritas dimiliki oleh PT Harta Karunia Indonesia dengan kepemilikan sebesar 99%. Sedangkan 1% saham lainnya tercatat atas nama Edward Sumarli.
PT Harta Karunia Indonesia ini terafiliasi dengan Anderson Sumarli, yang juga merupakan pendiri dan Komisaris Utama Ajaib. Nama Anderson Sumarli selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh di balik perkembangan Ajaib sebagai platform investasi digital di Indonesia.
Aplikasi Ajaib berdiri berkat kerjasama dua co-founder dari negara yang berbeda, Anderson Sumarli dari Indonesia dan Yada Piyajomkwan dari Thailand. Mereka berdua bertemu ketika mengambil gelar Master of Business Administration (MBA) di Stanford University, California, Amerika Serikat. Anderson merupakan pria kelahiran 1994 yang sudah tertarik pada pasar modal sejak kecil.
Dilansir dari laman LinkedIn pribadinya, Anderson sempat bekerja di International Business Machines (IBM) Corporation di New York sebagai Chief Analytics Office pada 2014 hingga 2016. Setelah itu, Anderson menjadi Management Consultant di Boston Consulting Group (BCG) dari 2016 hingga 2018. Kini, Anderson menempati posisi Chief Executive Officer (CEO) di Ajaib.
Di sisi lain, rekan Anderson yakni Yada mendapat gelar Sarjana Administrasi Bisnis dari Thammasat University, Bangkok, Thailand. Perempuan kelahiran 28 tahun lalu itu, memulai kariernya sebagai seorang Management Consultant di McKinsey selama tiga tahun, periode 2014 hingga 2017. Yada menduduki Chief Product Officer (CPO) Ajaib seperti tercantum di LinkedIn, namun pada laman resmi perusahaan, namanya tidak tercantum.
Kisruh Transaksi Rp 1,8 Miliar, Manajemen dan Nasabah Saling Bantah
Seorang nasabah Ajaib bernama I Nyoman Tri Atmajaya Putra atau Niyo mengaku ditagih pihak Ajaib Sekuritas sebesar Rp 1,8 miliar atas pembelian saham dengan dana limit yang ditransaksikan tanpa sepengetahuannya.
Niyo mengatakan membeli saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebanyak 9 lot dengan total transaksi mencapai Rp 1 juta. Transaksi ini, menurut dia, sesuai dengan kebiasaannya menabung saham Rp 1 juta setiap hari dengan membeli saham salah satu emiten di dalam negeri.
Namun, beberapa jam setelah menutup aplikasi, Niyo terkejut saat mengecek kembali transaksinya. Tiba-tiba transaksi pembelian saham BBTN miliknya tercatat senilai Rp 1,8 miliar. Padahal ia hanya membeli saham senilai Rp 1 juta.
Direktur Utama Ajaib Sekuritas, Juliana, mengatakan tidak melihat adanya kejanggalan dalam transaksi senilai Rp 1,8 miliar. Ia menyebut Niyo, pemilik akun Instagram @friendshipwithgod, selama beberapa tahun terakhir tercatat sebagai nasabah aktif yang telah bertransaksi dalam jumlah milyaran dan memiliki portofolio saham lebih dari Rp 1 miliar.
“Transaksi tersebut telah melewati proses konfirmasi di handphone beliau (Niyo) yang juga tercatat sebagai trusted device dalam sistem kami,” kata Juliana di media sosial instagram @ajaib_investasi, Minggu (6/7).
Niyo membantah bahwa telah melakukan konfirmasi. “Tidak ada konfirmasi. Tidak ada pemberitahuan. Langsung tereksekusi miliaran rupiah. Ini kalau bukan kejanggalan, lalu apa?,” tulis Niyo dalam keterangannya melalui media sosial @friendshipwithgod, Minggu (6/7).
Niyo menegaskan dirinya tidak pernah melakukan konfirmasi apapun terkait transaksi tersebut. Ia menolak penggunaan istilah "konfirmasi pre-order" oleh pihak Ajaib sebab tidak pernah ada tindakan konfirmasi yang ia lakukan.
Apabila memang ada proses konfirmasi, Niyo menantang Ajaib untuk menunjukkan log aktivitasnya. Ia telah secara resmi meminta data tersebut sejak 30 Juni 2025.
Lebih lanjut, Niyo menyampaikan pola investasinya selama ini selalu konsisten, meski pembelian harian bernilai kecil tetapi stabil.
Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah meminta keterangan dari Ajaib Sekuritas. BEI memberikan sinyal bakal mengaudit PT Ajaib Sekuritas Asia imbas kasus transaksi saham janggal yang dialami nasabah.
“Nanti kami mesti lihat hasil audit terakhir seperti apa. Apakah perlu audit lagi atau perlu audit khusus? Kalau ada kasus besar, biasanya kami akan turun dengan audit khusus,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy di Gedung BEI, Jakarta, pada Kamis (3/7).
Irvan mengatakan audit khusus merujuk pada pemeriksaan yang dilakukan untuk kasus-kasus tertentu secara spesifik. Ia menyebut pihaknya masih dalam proses internal pembahasan dan belum mengambil keputusan karena masih menunggu dokumen-dokumen hasil pertemuan sebelumnya. Menurutnya, dokumen-dokumen tersebut perlu dipelajari dulu, termasuk hasil pertemuan Ajaib dengan investor.
