Wall Street Naik, Nasdaq Cetak Rekor di Tengah Isu Trump Ingin Pecat Bos The Fed

Karunia Putri
17 Juli 2025, 06:32
Wall Street
Wall Street
Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street  ditutup naik pada perdagangan Rabu (16/7) waktu setempat. Nasdaq Composite kembali mencetak rekor penutupan tertinggi meski pasar sempat diguncang rumor bahwa Presiden AS Donald Trump ingin memecat Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell.

Nasdaq Composite ditutup naik 52,69 poin atau 0,26% ke level 20.730,49. Ini menjadi rekor tertinggi kelima dalam enam sesi terakhir. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 231,49 poin atau 0,53% ke posisi 44.254,78, sementara S&P 500 bertambah 19,94 poin atau 0,32% menjadi 6.263,70.

Ketegangan sempat meningkat di pasar saat laporan seorang pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan Trump kemungkinan akan mengganti Powell. Akibat kabar tersebut, S&P 500 dan Nasdaq sempat anjlok, dolar AS melemah, serta imbal hasil surat berharga atau treasury AS naik.

Trump membantah kabar tersebut, tetapi  tetap mengkritik Powell karena dianggap tidak memangkas suku bunga cukup agresif.

"Independensi The Fed sangat penting bagi perekonomian kita, sehingga wajar pasar bereaksi ketika laporan itu pertama kali muncul," kata Kepala Investasi di CalBay Investments Dylan Bell, dikutip dari Reuters pada Kamis (17/7).

Sejak Trump mengumumkan tarif perdagangan pada April lalu, pasar saham AS terus bergejolak. Namun, S&P 500 sempat mencatat rekor penutupan tertinggi pada pekan lalu.

Di tengah optimisme pasar, kekhawatiran investor mulai muncul terkait masa depan Powell yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei mendatang. Trump telah berulang kali mengkritik The Fed karena tidak cukup cepat menurunkan suku bunga.

Indeks Volatilitas CBOE yang dikenal sebagai pengukur rasa kekhawatiran di Wall Street sempat melonjak ke level tertinggi dalam tiga minggu, setelah munculnya kabar soal Powell tetapi kemudian kembali mereda.

Meskipun sentimen negatif akibat berita utama bisa memicu volatilitas jangka pendek, Bell melihat kondisi ekonomi AS yang secara umum masih solid tetap menjadi pendorong utama pergerakan investor.

Di sisi lain, pejabat The Fed masih enggan memangkas suku bunga tanpa kepastian apakah kebijakan tarif Trump terhadap mitra dagang utama akan memicu inflasi. Hal ini juga ditegaskan oleh Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic yang mengatakan tekanan inflasi bisa meningkat akibat kenaikan pajak impor.

Fokus investor minggu ini tertuju pada data inflasi. Laporan harga produsen yang dirilis Rabu menunjukkan pertumbuhan stagnan pada Juni, karena biaya barang yang terdampak tarif diimbangi oleh pelemahan harga jasa. Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen yang mengejutkan pasar menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih dalam oleh The Fed.

Sementara itu, musim laporan keuangan kuartalan masih berlanjut. Meskipun beberapa bank besar melaporkan kinerja positif, saham mereka justru melemah. Goldman Sachs naik 0,9% setelah mencatat lonjakan pendapatan 22%, tetapi Bank of America dan Morgan Stanley masing-masing turun 0,3% dan 1,3%.

Saham Johnson & Johnson melonjak 6,2%, menjadi saham dengan kinerja terbaik kedua di S&P 500. Perusahaan ini mengurangi separuh proyeksi biaya tahunannya akibat tarif baru dan menaikkan perkiraan pendapatan dan penjualan untuk setahun penuh.

Sementara itu, saham semikonduktor melemah setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya menyusul kabar bahwa Nvidia akan diizinkan menjual chip H2O ke Tiongkok. Indeks semikonduktor turun 0,4% dari level tertinggi 12 bulannya yang tercatat pada Selasa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...