Laba Maybank (BNII) Melesat 348% Jadi Rp 576 Miliar pada Semester I 2025
PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) mencatatkan laba bersih pada semester pertama tahun ini mencapai Rp 576 miliar, melonjak 348% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan laba bersih terjadi meski penyaluran kredit turun tipis dari Rp 123,03 triliun pada semester I 2024 menjadi Rp 121,7 triliun.
Berdasarkan keterangan resmi perseroan, pendapatan bunga bersih BNII naik 1,7% menjadi Rp 3,57 triliun meski biaya bunga tetap tinggi. Sedangkan pendapatan nonbunga naik lebih tinggi mencapai 19% menjadi Rp 975 miliar, ditopang pendapatan fees Global Market (GM) yang tumbuh lebih dari tiga kali lipat mencapai Rp 178 miliar.
Mengutip laporan keuangan perusahaan, lonjakan laba bersih terutama disumbangkan oleh anjloknya beban operasional BNII dari Rp 3,34 triliun menjadi Rp 2,94 triliun. Penurunan ini terutama didorong oleh biaya pencadangan atau kerugian penurunan nilai aset yang turun dari Rp 912 miliar menjadi Rp 490 miliar.
Manajemen menjelaskan, biaya provisi ini setelah pencadangan pre-emptive tahun sebelumnya. Laba operasional sebelum pencadangan pun tercatat masih naik 2,8% secara tahunan menjadi Rp1,24 triliun.
Adapun penyaluran kredit yang turun tipis seiring upaya Maybank melakukan rebalancing terhadap portofolio kredit. Karena kredit korporasi yang turun tak dapat diimbangi oleh kinerja positif dari kredit ritel dan non-ritel Community Financial Services (CFS).
Maybank mencatat, kredit segmen ritel dan non-ritel Community Financial Services (CFS) tumbuh 9,2% secara tahunan menjadi Rp84,51 triliun. Penyaluran kredit segmen non-ritel naik 12,1% menjadi Rp 37,50 triliun, didukung kredit segmen business banking atau komersial) yang tumbuh 17,5%, serta kredit SME+ dan Retail SME (RSME) yang masing-masing tumbuh 10,0% dan 8,1%.
Sementara, kredit ritel CFS mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,0% secara tahunan menjadi Rp 47 triliun. Hal ini didukung oleh kredit otomotif anak perusahaan yang naik 9,0% di tengah pasar otomotif dalam negeri yang belum bergairah. Kredit pemilikan rumah (KPR) meningkat 4,4% dan kredit konsumer (kartu kredit & KTA) yang tumbuh 6,3%.
Kredit segmen Large Local Corporates yang merupakan bagian dari Global Banking (GB) tetap melanjutkan pertumbuhannya sebesar 31,5% menjadi Rp 13,85 triliun. Bank menerapkan strategi rebalancing pada portofolio GB sehubungan dengan low-yielding corporate loans yang turun 34,4%, sehingga total kredit yang disalurkan GB turun 18,5%.
Di sisi lain, simpanan nasabah tetap stabil sebesar Rp 114,70 triliun. Namun demikian, Giro meningkat 14,2% menjadi Rp 41,70 triliun didukung utamanya oleh simpanan segmen non-ritel. Tabungan stabil sebesar Rp 22,80 triliun, sedangkan deposito berjangka turun 10,8%.
Hal ini sejalan dengan strategi Bank untuk meningkatkan rasio CASA yang menjadi 56,2% pada Juni 2025 dari 51,3% pada Juni 2024.
Adapun platform digital Bank mengalami pertumbuhan yang kuat. Transaksi pada M2U (ritel) meningkat 24,6% menjadi lebih dari 14 juta, sedangkan M2E (korporasi) mencatat kenaikan 14,0% menjadi lebih dari 2,4 juta transaksi.
Maybank pun mencatatkan kualitas kredit yang membaik dengan rasio Non-performing Loans/NPL gross dan nett masing-masing 2,4% dan 1,5% pada Juni 2025, turun dari 2,7% dan 1,7% pada Juni 2024.
Risio likuiditas dan modal juga terpantau kuat. Rasio loan to deposit/LDR Bank saja tercatat sebesar 89,1%, dan rasio kecukupan likuiditas (Liquidity Coverage Ratio/LCR) bank saja tetap pada tingkat yang sehat sebesar 152,2%, jauh di atas ketentuan regulator sebesar 100%. Rasio Kecukupan Modal (CAR) tetap kuat pada level 26,6% dan CET1 pada level 25,4%.
Kinerja Bank Syariah
Kinerja bisnis perbankan syariah Maybank juga mencatatkan kinerja positif. Laba sebelum pajak perbankan syariah naik dari Rp 6 miliar pada semester I 2024 menjadi Rp315 miliar, seiring dengan biaya provisi yang menurun.
Pendapatan setelah distribusi bagi hasil meningkat sebesar 18,2% dan pendapatan operasional lainnya tumbuh 20,7% menjadi Rp 122 miliar. Pendapatan operasional Maybank Syariah didukung pendapatan dari Shariah Wealth Management, asset recovery, dan biaya simpanan nasabah.
Adapun pembiayaan ritel dan non-ritel CFS tumbuh 14,5% menjadi Rp 21,44 triliun. Pembiayaan non- ritel meningkat 18,8%, ditopang pertumbuhan segmen Business Banking sebesar 20,0%, SME+ sebesar 13,7%, dan RSME sebesar 19,5%. Pembiayaan ritel meningkat 9,9%, didukung pertumbuhan pembiayaan pemilikan rumah sebesar 9,6% dan pembiayaan otomotif sebesar 12,0%.
Di sisi lain, giro dan tabungan (CASA) perbankan syariah meningkat 15,6%, sedangkan deposito berjangka turun 18,2%. Simpanan nasabah tetap stabil sebesar Rp 34,50 triliun dan rasio CASA meningkat menjadi 60,0% pada Juni 2025 dari 51,5% pada Juni 2024.
Kualitas aset perbankan dyariah tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Rasio gross non-performing financing/NPF (gross) tetap stabil sebesar 2,4% pada Juni 2025 dan 2024, sedangan rasio NPF (net) membaik menjadi 1,6% pada Juni 2025 dari 1,8% pada Juni 2024.
