Cita-Cita BEI pada 2029: Ada 1.200 Emiten, Kapitalisasi Tembus Rp 20.000 Triliun
Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan jumlah perusahaan tercatat mencapai 1.200 emiten hingga 2029. Berdasarkan data profil perusahaan tercatat di situs resmi IDX, saat ini terdapat saham 954 emiten yang diperdagangkan di BEI.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan, bursa tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas perusahaan. Karena itu, pihaknya membidik perusahaan lighthouse atau berkapitalisasi besar.
“Target kami pada 2029 ada sekitar 1.200 [perusahaan tercatat] dengan mempertimbangkan jumlah perusahaan yang masuk lighthouse,” ujar Iman saat konferensi pers peringatan 48 tahun diaktifkannya kembali BEI di Main Hall BEI, Senin (11/8).
BEI juga menargetkan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 20 ribu triliun pada 2029. Likuiditas perdagangan harian juga ditargetkan menyentuh Rp 20 kuadriliun pada periode yang sama.
Berdasarkan data penutupan perdagangan pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.533 atau naik 6,41 persen sejak awal tahun (year to date). Kapitalisasi pasar menguat 9,88% menjadi Rp 13.557 triliun.
Menurut Iman, nilai kapitalisasi tersebut menempatkan BEI di peringkat ke-17 bursa terbesar di dunia dan posisi kedua di ASEAN. “Target kita pada 2029–2030 adalah masuk 10 besar bursa global,” ujarnya.
Iman menambahkan, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) BEI saat ini mencapai Rp 13,6 triliun, menempatkan Indonesia di urutan ke-11 dunia, dan nomor dua di ASEAN di bawah Thailand.
Lima Rencana Strategis KPEI hingga 2029
Selaku lembaga yang menjamin penyelesaian transaksi efek, PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) memiliki cita-cita yang sejalan dengan rencana Bursa Efek Indonesia.
Direktur Utama KPEI Iding Pardi menyampaikan, lima rencana strategis KPEI hingga akhir tahun ini. Pertama, mendukung transaksi bursa yang mencakup pengembangan triparty repo agent SBN, pengembangan sistem kliring dan sistem risk management derivatif keuangan dan pengembangan sistem kliring dan penyelesaian produk etf emas.
Kedua, memperluas produk dan recodnition otoritas keuangan asing. Cita-cita tersebut mencakup pengembangan e-IPO untuk efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), pengembangan sistem collateral management terintegrasi untuk transaksi bilateral dan triparty repo serta perolehan qualified central counterparty (QCCP) recognition.
Ketiaga, melanjtutkn efisiensi yang meliputi pengembangan penyelesaian level anggota kliring dalam transaksi ekuiti, pembaruan sistem kliring dan sistem risk management, pengembangan alternative arrangement, implementasi stratifikasi partisipan transaksi efek dan pengembangan enterprise resource planning (ERP) di lingkungan internal perusahaan.
Keempat, pengembangan infrastruktur dan teknologi informasi dengan menyempurkan infrastruktur, perangkat dan teknologi informasi untuk mendukung peningkatan kapasitas transaksi dan transparansi.
Terakhir adalah perencanaan organisasi dan peningkatan kapasitas human capital yang mencakup penyusunan strategi bisnis untuk tahun 2026 hingga 2029 serta peningkatan kapasitas human capital untuk mendukung operasional dan perkembangan perusahaan.
