Krisis Ekonomi Global 2008 dan Rontoknya Saham Emiten Sektor Keuangan

Leoni Susanto
14 Agustus 2025, 07:40
Saham
Katadata/Fauza Syahputra
Peluncuran Logo Bursa Efek Indonesia pada 2 Januari 2008
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Krisis ekonomi yang terjadi pada 2008 akibat gelembung properti di Amerika Serikat (AS) atau dikenal subprime mortgage  berdampak pada krisis keuangan dan jatuhnya bursa saham global. Sektor keuangan dan real estat adalah yang paling terpukul.

Krisis ini juga merembet ke ekonomi riil akibat perlambatan permintaan komoditas global. Gelombang kredit macet perumahan kala itu melanda AS pasca The Fed berturut-turut menaikkan suku bunga hingga mencapai 5,25%. 

Saat itu, perusahaan keuangan yang bergerak di bidang subprime mortgage atau pemberian Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) pada peminjam dengan skor kredit buruk, harus menanggung kerugian besar. Di AS, deretan perusahaan keuangan raksasa diterpa masalah keuangan mulai dari Citigroup, Bank of America, JP Morgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, hingga Amex. 

Di sektor properti, salah satu perusahan pengembang ternama AS, Beazer Homes, juga terpuruk akibat kerugian operasional. Krisis ini merembet dengan cepat ke negara tetangga. Sejumlah perusahaan keuangan di negara-negara maju juga kolaps. 

Tiga bank terbesar Islandia yaitu Landsbanki, Kaupthing, dan Glitnir kolaps. Begitu pula dengan perusahaan keuangan Hypo Real Estate di Jerman, yang merupakan salah satu pemberi pinjaman terbesar untuk properti komersial di Eropa.

Puncaknya, bursa saham global rontok pasca perusahaan keuangan ke-4 terbesar AS, Lehman Brothers, mengajukan kebangkrutan. Investor melakukan panic selling. Keseluruhan bursa saham dunia anjlok hingga kapitalisasi pasar terpangkas sampai 47,6% dari US$60,9 triliun menjadi US$31,9 triliun. Sektor keuangan adalah yang paling terpuruk.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpukul hingga anjlok 54% selama periode Januari sampai Oktober 2008, dari level 2.731 menjadi 1.256. Perusahaan-perusahaan kakap pada papan pencatatan utama rontok.

Menurut catatan Katadata.co.id, di sektor keuangan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengalami penurunan terbesar mencapai 74,11% sepanjang Januari sampai Oktober 2008.

Penurunan yang curam juga terjadi pada perbankan swasta seperti Grup Panin, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dan PT Sinarmas Multiartha Tbk. Bank negara lain seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk turun mencapai 55,43% dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk turun 53,38%.

Sektor properti tidak kalah tertekan. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk tercatat mengalami penurunan tercuram hingga 76,96%, diikuti PT Alam Sutera Realty Tbk, PT Ciputra Development Tbk, hingga PT Summarecon Agung Tbk.

Saham perusahaan energi, industri, dan pertambangan seperti PT Barito Pacific Tbk, PT Vale Indonesia Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, hingga PT Bumi Resources Tbk juga terpuruk lebih dari 60%.

Penurunan indeks saham sektor energi ini beriringan dengan melambatnya permintaan ekspor komoditas global. Nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2008 tercatat hanya mencapai US$10,8 miliar atau anjlok 11,61% dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Leoni Susanto

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...