Beban Bengkak Usai Merger, EXCL Rugi Rp 1,22 Triliun pada Semester I 2025
Emiten jaringan telekomunikasi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) membukukan rugi Rp 1,22 triliun pada semester pertama 2025. Kinerja ini berbalik arah dibandingkan kondisi keuangan semester pertama 2024 perseroan yang masih mencatatkan Rp 1,02 triliun.
Perusahaan hasil gabungan (merger) antara XL Axiata dan Smartfren ini sebenarnya membukukan kenaikan pendapatan menjadi Rp 19,09 triliun, naik dibanding Rp 17,05 triliun pada semester pertama 2024. Namun, peningkatan pendapatan tersebut tidak mampu menutup melonjaknya beban keuangan.
Beban penyusutan tercatat naik menjadi Rp 7,30 triliun dari Rp 6,06 triliun, sedangkan beban infrastruktur meningkat menjadi Rp 5,36 triliun dari Rp 4,40 triliun. Beban interkoneksi dan beban langsung lainnya juga naik ke Rp 2,12 triliun dari Rp 1,56 triliun.
Selain itu, beban gaji dan kesejahteraan karyawan naik menjadi Rp 1,61 triliun dari Rp 818,5 miliar. Adapun beban penjualan dan pemasaran turun ke Rp 916 miliar dari Rp 1,07 triliun.
Presiden Direktur EXCL Rajeev Sethi mengatakan, perusahaan menghadapi tantangan baik dari sisi eksternal maupun internal usa merger. Ia mengatakan, secara eksternal, industri telekomunikasi masih diwarnai kompetisi yang ketat.
“Sementara secara internal, perusahaan perlu memastikan operasional perusahaan tetap solid sehingga layanan kepada pelanggan tetap optimal,” kata Rajeev dalam keterangan resmi dikutip Kamis (28/8).
Meski demikian, Rajeev menegaskan perseroan terus fokus pada konsolidasi dan integrasi lintas lini. Ia menyebut, merger telah menciptakan skala bisnis lebih besar, integrasi jaringan sesuai rencana serta peningkatan pengalaman pelanggan. EXCL juga tengah melakukan modernisasi jaringan untuk memperluas kapasitas dan mempersiapkan pemanfaatan teknologi baru.
“Dengan jaringan yang lebih luas, kapasitas yang lebih besar, dan strategi multi-brand, XLSMART siap memperkuat posisinya sebagai motor transformasi digital Indonesia,” kata Rajeev.
Pada kuartal kedua 2025, EXCL mencatat pendapatan sebesar Rp 10,50 triliun dengan EBITDA normalisasi Rp 4,97 triliun dan laba bersih normalisasi Rp 313 miliar. Jumlah pelanggan tercatat mencapai 82,6 juta dengan ARPU campuran (blended) tetap di kisaran Rp 36 ribu.
Perseroan juga mencatat pertumbuhan signifikan dari aplikasi digital MyXL, AXISNet dan mySmartfren. Jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) ketiga aplikasi tersebut naik 29% secara tahunan dengan lebih dari 41,4 juta pelanggan aktif di kuartal kedua.
Dia menyebut, salah satu kunci pertumbuhan EXCL adalah strategi personalisasi penawaran dan layanan yang mendorong peningkatan penggunaan dan pendapatan. Hingga triwulan kedua, perusahaan mengalokasikan belanja modal Rp 2,3 triliun dari total Rp 20–25 triliun sepanjang tahun, termasuk untuk integrasi jaringan.
Dari sisi komersial, XLSMART tetap mempertahankan tiga merek layanan yaitu XL, AXIS dan Smartfren untuk menghadapi persaingan industri. Perusahaan juga mengandalkan harmonisasi tim penjualan, pemanfaatan digital tools dan peningkatan pengalaman pelanggan untuk menjaga momentum pertumbuhan.
