Gerak Saham Bank Besar Terbatas saat IHSG Tembus 8.000, Apakah Masih Menarik?

Karunia Putri
28 Agustus 2025, 13:53
IHSG, saham, saham bank, rekomendasi saham
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gerak saham bank-bank besar terbatas di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil menembus level 8.000 pada perdagangan sesi I hari ini. Indeks bergerak naik seiring sentimen dari peluang penurunan suku bunga The Fed dan rebalancing indeks FTSE. 

Saham-saham bank besar pada perdagangan sesi I hari ini menghijau, tetapi terbatas. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,6%, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 0,48%, PT Bank Mandiri Tbk naik 0,21%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 0,9%. 

Namun, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk terpantau melesat 6% ke level Rp 1.315 di tengah rilis kinerja keuangan yang menggembirakan. Laba BBTN pada semester I 2025 naik 13,6% secara tahunan menjadi Rp 1,7 triliun seiring pendapatan bunga bersih yang melesat 55%. 

Di sisi lain, saham-saham bank besar swasta lainnya juga terpantau terbatas. Harga saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) naik 0,29%, PT Bank Panin Tbk (PNBN) naik 0,43%, PT Bank Danamon Tbk (BDMN) naik 0,79%, sedangkan PT Bank Permata Tbk (BNLI) turun 1,32%.

Harga saham sejumlah bank masih memerah tahun ini. Harga saham BBCA turun 13,7%, BMRI turun 15,61%, dan PNBN anjlok 36,83%.

Namun sebagian masih mencatatkan pertumbuhan harga saham yang positif. Harga saham BBRI tercatat naik 1,72%, BBNI 3,22%, BDMN 0,39%, dam BBTN 15,5%. Adapun PT Bank Permata Tbk menjadi satu-satunya bank besar yang mencatatkan lonjakan harga saham pada tahun ini, yakni mencapai 217%.

Apakah Saham Bank Masih Menarik?

Head of PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Fund & Bond, Dody Mardiansyah menyebut, saham bank masih layak dikoleksi investor pemula (newbie) hingga yang sudah berpengalaman cocok berinvestasi di saham perbankan.

Dia menjelaskan, kenaikan harga saham bank beberapa waktu terakhir dimotori oleh derasnya arus dana asing yang masuk (inflows) ke saham-saham perbankan. Kondisi ini menandakan adanya kepercayaan global terhadap stabilitas dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

"Peningkatan likuiditas ini tidak hanya memperkuat permodalan bank, tetapi juga memberikan dorongan signifikan bagi pasar modal secara keseluruhan," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (28/8).

Dody menjelaskan, masuknya dana asing memicu aktivitas perdagangan yang lebih dinamis, meningkatkan nilai saham, sekaligus memperluas peluang investasi. Fenomena ini menjadi indikasi bahwa fundamental ekonomi Indonesia dianggap kuat dan siap tumbuh, sehingga semakin menarik sebagai destinasi investasi internasional.

Namun, ia menekankan bahwa kondisi ini bisa menjadi tantangan besar bagi investor pemula. Banyak dari mereka kebingungan memilih saham bank yang paling menjanjikan. 

"Kebingungan ini wajar, karena memilih saham tidak cukup hanya melihat kenaikan harga. Diperlukan analisis mendalam atas laporan keuangan, prospek bisnis, hingga manajemen risiko," katanya.

Tanpa bekal analisis yang matang, investor pemula berisiko salah pilih saham dan berujung pada kerugian. Karena itu, Dody menyarankan mereka mempertimbangkan opsi investasi yang lebih aman dan terstruktur, misalnya produk investasi yang dikelola oleh profesional saham. Cara ini membantu meminimalkan risiko sekaligus tetap memberi peluang menikmati momentum positif di sektor perbankan.

“Daripada mencoba-coba membeli saham individu dengan risiko tinggi, investor pemula lebih baik memanfaatkan produk investasi yang dikelola ahli. Dengan begitu, investasi bisa lebih terarah dan menyenangkan, meski pasar bergerak dinamis,” ujarnya.

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova juga memberikan rekomendasi pembelian saham-saham perbankan besar nasional. Ia menyarankan sebagai berikut:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): beli di Rp 7.650–7.850 dengan target Rp 8.575, Rp 8.775 dan Rp 9.125.

  • PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): beli di Rp 3.750–3.850 dengan target Rp 4.600, Rp 4.750 dan Rp 4.880.

  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): beli di Rp 3.950–4.010 dengan target Rp 4.220, Rp 4.370 dan Rp 4.530.

  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): beli di Rp 4.580–4.650 dengan target Rp 4.990, Rp 5.125, Rp 5.300 dan Rp5.500.

Bagaimana Kinerja Keuangan Bank-Bank Besar?

Gerak saham bank-bank besar yang terbatas tak lepas dari kinerja keuangan yang lesu pada tahun ini. misalnya, mencatatkan laba bersih turun 11,25% menjadi Rp 26,53 triliun. Laba BBNI turun 5,6% menjadi Rp 10,1 triliun. 

Bank Mandiri belum merilis kinerja pada semester I 2025, tetapi labanya hingga Mei 2025 hanya naik 0,13% menjadi Rp 19,65 triliun. Satu-satunya bank BUMN yang mencatatkan kinerja kinclong yakni BBTN yang mencatatkan kenaikan laba 13,6%. 

Adapun kinerja laba bank-bank besar swasta tercatat lebih baik. Laba Bank CIMB Niaga hanya naik 1,4% menjadi Rp 1,4 triliun, Bank Permata naik 7,56% menjadi Rp 1,64 triliun, Bank Panin naik 4,33% menjadi Rp1,42 triliun, BCA naik 8% menjadi Rp 29 triliun dan Bank Danamon naik 12% menjadi Rp 1,6 triliun. 

Namun, sebagian kenaikan laba bank besar dipengaruhi oleh biaya pencadangan. Adapun rata-rata penyaluran kreditnya tumbuh di bawah 10%. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...