IHSG Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa Tembus 8.000, Ini Faktor Pemicunya

Tia Dwitiani Komalasari
28 Agustus 2025, 21:13
IHSG tembus rekor
Katadata/Nur Hana Putri Nabila
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level tertingginya atau All Time High (ATH) ke level 8.022,75 pada perdagangan hari ini, Kamis (28/8). Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menyampaikan kebijakan moneter yang kondusif mendukung kinerja IHSG.

“Kebijakan moneter yang sudah cukup sangat kondusif memang menyebabkan di beberapa aset keuangan itu investor memiliki banyak pilihan ya, apakah masuk ke instrumen fixed income, instrumen saham, instrumen money market (pasar keuangan) lainnya, juga ada SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia),” ujarnya di Jakarta.

Khusus pada instrumen saham, ia menuturkan tren penguatan IHSG terutama dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil (yield) sejumlah instrumen keuangan, termasuk obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang saat ini berada di kisaran 6,3 persen serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di sekitar 5 persen.

Ia mengatakan kondisi tersebut menyebabkan instrumen saham menjadi lebih menarik dengan imbal hasil berupa dividend yield mencapai hampir 6 persen.

Meskipun demikian, Joezer menekankan keberlanjutan tren positif IHSG masih dipengaruhi sejumlah variabel, termasuk arah kebijakan fiskal dan perkembangan instrumen likuiditas, seperti SRBI. Jika kondisi ekspansif dapat dipertahankan, ruang pertumbuhan pasar saham masih terbuka.

Ia menyampaikan penguatan IHSG tidak hanya didorong oleh saham-saham unggulan dalam IDX30, yakni indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, tapi juga meluas ke emiten lain.

Revisi Proyeksi IHSG

Mengingat IHSG kini sudah menembus level 8.000, Joezer mengatakan pihaknya akan merevisi proyeksi target IHSG tahun ini yang sebelumnya diprediksi hanya mencapai level level 7.650.

Selain karena kinerja IHSG yang telah melampaui ekspektasi, ia menyatakan perbandingan antara risiko kerugian dengan potensi keuntungan pada suatu transaksi investasi (risk-to-rate) berada jauh di bawah asumsi sebelumnya.

Ia pun mendorong semua pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan potensi keuntungan dan kenaikan nilai (upside) IHSG tersebut melalui pengimplementasian kebijakan yang dapat memitigasi risiko pertumbuhan (risk growth) di masa mendatang.

“Jadi upside ada, tapi ya balik lagi ya, ini tergantung dari sisi seberapa cepat ya tadi kebijakan-kebijakan kondusif itu akan bisa translate (menafsirkan) terhadap risk growth yang akan terakselerasi ke depannya,” ujar Adrian Joezer.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...