Ekonom Ungkap Faktor Penopang IHSG Bisa Bangkit di Tengah Dinamika Politik

Karunia Putri
2 September 2025, 11:19
IHSG
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Karyawan berjalan di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (17/5/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan tajam pada awal pekan ini seiring dengan merebaknya aksi unjuk rasa di sejumlah kota besar di Indonesia. Gejolak politik yang terjadi membuat investor cenderung bersikap hati-hati, sehingga aksi jual mendominasi perdagangan dan menekan kinerja pasar saham.

Meski demikian, sejumlah ekonom dan pejabat pemerintah menilai kondisi tersebut bersifat sementara. Mereka optimistis pasar keuangan Indonesia akan kembali stabil berkat fundamental ekonomi yang masih solid, ditopang pertumbuhan konsumsi domestik, perbaikan sektor manufaktur, serta inflasi yang tetap terjaga di level rendah.

Adapun IHSG dibuka menguat pada perdagangan Selasa (2/9). IHSG naik 69,30 poin atau 0,90% ke level 7.805,37. Sementara indeks LQ45 yang berisi 45 saham berkapitalisasi besar juga terkerek 1,08% ke posisi 797,22.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin memandang, pasar akan kembali pulih. Ia mengatakan gejolak politik ini justru bisa menjadi momentum perbaikan bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Saya yakin market [pasar] akan mengantisipasi dinamika ini, sehingga dalam beberapa waktu ke depan pasar akan rebound,” kata Samirin kepada Katadata, Senin, 1 September 2025.

Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mewujudkan kebijakan fiskal yang stabil dan berkelanjutan. Belanja negara perlu lebih efisien, program yang boros anggaran harus dikalibrasi ulang dan penerimaan negara dioptimalkan. 

Ia memperkirakan rasio pajak (tax ratio) tahun ini cenderung menurun dan masih akan tersendat pada tahun depan. “Utang akan semakin menantang. Jadi, tiga tantangan utama kita adalah fiskal, fiskal dan fiskal,” ujarnya.

Samirin mengingatkan, jika kondisi fiskal semakin tidak meyakinkan, pasar surat utang negara bakal menghadapi tekanan lebih besar. Konsekuensinya, risiko investasi Indonesia (country risk) bisa meningkat dan merembet ke berbagai sektor, mulai dari pasar obligasi swasta, nilai tukar rupiah, hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Menko Airlangga Optimistis PMI Manufaktur dan Fundamental Solid

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan situasi itu tak perlu dirisaukan. Alasannya ia melihat bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid. 

Pada kuartal kedua 2025, ekonomi tumbuh 5,12% year-on-year (yoy), sementara pertumbuhan sepanjang semester pertama 2025 mencapai 4,99%. Salah satu indikator utama, PMI Manufaktur, juga menunjukkan perbaikan signifikan menjadi 51,5. 

Ia menyebut hal ini menandai ekspansi sektor manufaktur berkat meningkatnya output dan permintaan baru. Sebagai perbandingan, angka PMI sebelumnya berada di 46,7 pada April, 47,4 Mei, 46,9 Juni, dan 49,2 Juli 2025. 

“IHSG dalam momentum menguat selama pekan kemarin bahkan sempat mencapai all time high 8.000. Penurunan hanya terjadi saat demo besar hari Jumat, untuk itu pemerintah yakin optimisme ini masih ada di tengah tengah kita dan harus kita jaga,” kata Airlangga dalam di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/9). 

Airlangga menyampaikan bahwa inflasi tetap terkendali di angka 2,37% pada Juli 2025. Ia optimistis rilis data inflasi Agustus siang ini juga akan menunjukkan kondisi stabil.

Konsumsi domestik masih kuat, didukung oleh kenaikan mobilitas masyarakat, aktivitas belanja ritel baik offline maupun online, serta adanya stimulus untuk menjaga daya beli.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...