OJK Sebut Gejolak Politik Tak Berdampak Besar ke Pasar Modal, Apa Alasannya?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan perkembangan di sektor jasa keuangan hingga ke pasar modal Indonesia di tengah goncangan politik yang terjadi di Tanah Air. Rangkaian aksi demonstrasi sejak Senin (25/8) sempat mengguncang pasar modal dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 3% pada Senin (1/9).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan di tengah dinamika global maupun domestik, sektor jasa keuangan Indonesia tetap menunjukkan resiliens dan stabilitas. Meski IHSG sempat turun ia mengatakan secara fundamental, indikator-indikator di sektor jasa keuangan mencerminkan permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang terkendali.
Menurut Mahendra pada pasar saham, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Agustus 2025 tercatat positif bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah (all time high) di level 8.022.
“Walaupun sempat terjadi gejolak volatilitas di beberapa hari sebelumnya, namun perkembangan lebih lanjut dan sampai kemarin kami melihat dampak dari perkembangan beberapa hari terakhir ini relatif terbatas,” kata Mahendra dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Agustus 2025, secara virtual, Kamis (4/9).
Mahendra juga menyampaikan OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan uji ketahanan (stress test) terhadap potensi dampak pergerakan nilai pasar dari aset yang dimiliki. Hal tersebut perlu dilakukan ntuk memastikan kesiapan menghadapi berbagai skenario.
OJK juga menyebut telah menyiapkan sejumlah instrumen kebijakan untuk mengantisipasi fluktuasi pasar yang signifikan. Di antaranya buyback saham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), penundaan pembiayaan transaksi short selling, penyesuaian trading halt pada saat IHSG turun, serta penerapan asymmetric auto rejection.
Mahendra mengatakan seluruh kebijakan tersebut akan dievaluasi secara berkala. Ia pun berharap dapat menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan fungsi intermediasi sektor keuangan tetap berjalan optimal.
“Itu beberapa hal yang telah dilakukan dan akan terus kami lakukan dengan pemantauan yang ketat dan juga dengan berbagai evaluasi dan monitor dari perkembangan kondisi yang ada,” ucap Mahendra.
Selain itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyampaikan bahwa pada Agustus tercatat arus dana masuk (inflow) senilai Rp 10,96 triliun. Namun investor asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran atau nett sell di pasar saham Indonesia dengan total dana keluar mencapai Rp 50,95 triliun secara year to date (ytd).
“Animo investor asing pada pasar saham juga menunjukkan perbaikan di Agustus 2025 setelah dua bulan sebelumnya mencatatkan nett sell,” kata Inarno.
Inarno menyebut kinerja pasar modal hingga Agustus 2025 secara umum menunjukkan tren positif. Hal ini ditopang oleh fundamental perekonomian Indonesia yang solid serta ekspektasi penguatan pasar keuangan global.
Ia mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Agustus 2025 ditutup di level 7.830 atau menguat 4,63% secara month-to-date (MtD) dan naik 10,60% dibandingkan posisi akhir 2024. Nilai kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 14.182 triliun.
