Indeks Wall Street Rontok Usai Trump Ancam Tambah Tarif untuk Cina

Nur Hana Putri Nabila
13 Oktober 2025, 06:45
wall street, tarif, cina
Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

 Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup anjlok pada Jumat (10/10) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap Cina. Trump menuding Beijing bersikap bermusuhan lantaran menerapkan pembatasan pada ekspor logam tanah jarang

Menjelang akhir sesi, tekanan jual meningkat tajam. Dow Jones Industrial Average merosot 878,82 poin atau 1,9% ke posisi 45.479,60, S&P 500 turun 2,71% menjadi 6.552,51. Lalu Nasdaq Composite anjlok 3,56% ke 22.204,43.

Koreksi luas ini menjadi yang terdalam sejak 10 April. Padahal, sebelum pernyataan Trump, pasar sempat bergerak positif dengan Nasdaq mencetak rekor tertinggi intraday baru.

Trump menulis di platform Truth Social bahwa ia seharusnya bertemu Presiden Cina Xi Jinping dalam dua minggu mendatang pada pertemuan APEC di Korea Selatan. Namun kini, dia menilai pertemuan itu tidak lagi diperlukan.

Menurutnya, salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan adalah kenaikan besar-besaran tarif terhadap produk asal Cina. Trump juga menuding Beijing “menjerat dunia” melalui kendali atas pasokan logam tanah jarang.

Sebelumnya, Cina memperketat pengawasan ekspor logam tanah jarang dengan mewajibkan perusahaan asing memperoleh lisensi dari pemerintah untuk mengekspor produk yang mengandung bahan tersebut minimal 0,1% dari total nilainya.

Melihat hal itu, pendiri KKM Financial, Jeff Kilburg, menilai bahwa harapan tercapainya kesepakatan dagang dengan Cina kini telah pupus. “Para pemburu keuntungan kini beraksi secara penuh,” katanya dikutip CNBC pada Senin (13/10).

Adapun Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai ukuran kekhawatiran investor di Wall Street, melonjak ke atas level 22. Ini menandai berakhirnya empat bulan periode tenang ketika S&P 500 terus mendekati rekor tertingginya. Lonjakan VIX ini menandai naiknya permintaan perlindungan di pasar terhadap potensi koreksi lebih dalam.

Saham-saham teknologi menjadi sektor yang paling anjlok akibat memburuknya hubungan perdagangan antara AS dan Cina. Saham Nvidia turun sekitar 5%, AMD anjlok hampir 8%, dan Tesla melemah sekitar 5%.

Di sisi lain, harga minyak mentah AS juga ikut tertekan seiring kekhawatiran investor bahwa tarif lebih tinggi dapat menekan permintaan energi.

Kepala Strategi Pasar B. Riley Wealth, Art Hogan, menilai anjloknya saham teknologi tidak mengejutkan sebab mengingat besarnya ketergantungan sektor tersebut pada Cina, baik dari sisi rantai manufaktur maupun basis pelanggan.

“Hubungan ekonomi kita dengan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia jelas semakin kompleks,” ujarnya.

Adapun ketegangan terkait Cina terjadi di tengah penutupan pemerintahan AS yang memasuki hari ke-10 pada Jumat, semakin memperburuk sentimen pasar.

Upaya Senat untuk mengesahkan rancangan pendanaan sementara kembali gagal untuk ketujuh kalinya pada Kamis, memperpanjang kebuntuan antara Partai Republik dan Demokrat tanpa tanda kemajuan.

Akibatnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pegawai federal mulai dilakukan, menurut Kepala Anggaran Administrasi Trump, Russell Vought, dalam unggahan di media sosialnya.

Penurunan tajam pada akhir pekan tersebut menghapus seluruh kenaikan S&P 500 sepanjang pekan, dengan indeks acuan itu merosot 2,4%, sedangkan Nasdaq dan Dow Jones masing-masing mencatat penurunan 2,5% dan 2,7% secara mingguan.



 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...