Wall Street Anjlok di Tengah Kekhawatiran Pinjaman Bermasalah

Nur Hana Putri Nabila
17 Oktober 2025, 06:16
Wall Street, amerika serikat,
NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street ditutup anjlok pada perdagangan Kamis (16/10), dipimpin oleh penurunan saham perbankan karena meningkatnya kekhawatiran atas pinjaman bermasalah. Sentimen pasar juga tertekan oleh ketegangan perdagangan yang belum mereda dan berlanjutnya penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 301,07 poin atau sekitar 0,7% ke level 45.952,24, setelah sempat menguat 170 poin di awal sesi. S&P 500 melemah 0,6% ke posisi 6.629,07, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,5% menjadi 22.562,54.

Tekanan terbesar datang dari sektor perbankan regional. Saham Zions Bancorporation anjlok 13% setelah mencatat beban besar akibat pinjaman bermasalah dari sejumlah debitur. Lalu  Western Alliance turun 11% usai melaporkan dugaan penipuan oleh salah satu peminjam,

Manajer Portofolio di Argent Capital Management Jed Ellerbroek mengatakan pasar saat ini sangat sensitif terhadap risiko kredit.

“Pasar tidak menyukai komentar dari bank-bank regional. Jadi sebagian besar saham keuangan berkapitalisasi kecil dan perbankan mengalami tekanan hari ini,” ujar Jed Ellerbroek dikutip CNBC Internasional, Jumat (17/10).

Tak hanya itu, industri perbankan tengah berada dalam keadaan waspada belakangan ini setelah kebangkrutan dua perusahaan industri otomotif. Hal itu menimbulkan kekhawatiran investor terkait praktik pinjaman yang longgar, terutama di pasar kredit swasta yang tidak transparan.

“Ketika Anda melihat satu kecoak, kemungkinan ada lebih banyak lagi,” kata CEO JPMorgan Jamie Dimon dalam panggilan konferensi pendapatan bank tersebut awal pekan ini, terkait dengan kebangkrutan First Brands dan Tricolor Holdings. 

Harga saham Jefferies, yang memiliki eksposur terhadap First Brands, turun 10% pada perdagangan Kamis (16/10), sehingga kerugiannya untuk bulan ini mencapai 25%.

Anjloknya saham bertepatan dengan lonjakan Indeks Volatilitas Cboe dan turunnya imbal hasil obligasi serta dolar AS. Vix melonjak ke level tertinggi sejak Mei, sementara imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun turun dan menembus di bawah 4%. Indeks dolar AS kehilangan hampir 0,5%.

Kemudian ketegangan perdagangan antara Cina dan AS baru-baru ini meningkat, menambah volatilitas di Wall Street.

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengancam akan memberlakukan tarif tambahan 100% untuk barang-barang asal Cina sebagai respons terhadap kontrol ekspor tanah jarang. Situasi perdagangan melunak dalam beberapa hari berikutnya, tetapi ketegangan meningkat lagi pada Selasa (14/10), ketika Trump mengancam Tiongkok dengan larangan perdagangan minyak goreng.

“Pemerintahan Trump ingin mempengaruhi dan mengendalikan lebih banyak hal daripada pemerintahan sebelumnya, jadi mereka terus mengguncang pasar dengan cara yang tidak terduga,” kata Ellerbroek. Ia mengatakan kondisi itu bakal terus berlanjut dan investor harus menerima hal itu sebagai kenyataan baru dan tetap waspada.

Sementara itu, penutupan pemerintahan AS yang memasuki minggu ketiga menambah tekanan pada pasar di Wall Street. Situasi ini menyebabkan tertundanya publikasi sejumlah data ekonomi penting dari lembaga pemerintah federal.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...