Peta Bisnis 12 Emiten EMAS, BRMS hingga ARCI di 2026, Siap Tadah Berkah Harga?

Karunia Putri
22 Oktober 2025, 06:20
Tambang Emas di Indonesia
PT Freeport Indonesia
Tambang Emas di Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten-emiten industri emas tengah naik daun sejak awal tahun. Tren ini mendorong investor pasar modal aktif mengoleksi saham-saham logam mulia tersebut. Merujuk laman Gold Price, harga emas blobat telah melesat 58,15% dalam kurun waktu satu tahun. 

Kenaikan harga emas dipicu oleh peningkatan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Logam mulia ini pun digandrungi investor karena dianggap sebagai aset lindung nilai atau safe haven

Jika ditelusuri lebih dalam, perusahaan emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki model bisnis yang berbeda. Mengutip laporan Stockbit, emiten emas di BEI terbagi dalam dua kategori, yaitu pertambangan emas dan perdagangan emas.

Emiten dengan model bisnis pertambangan emas memiliki fokus pada eksplorasi dan penambangan untuk menghasilkan bijih emas (gold ore) dan dore (batangan dengan kandungan emas 10–30%). Profitabilitas model ini sangat bergantung pada fluktuasi harga emas dunia.

Sementara itu, model bisnis perdagangan emas berfokus pada pemurnian (refinery) dan pabrikasi emas menjadi produk akhir seperti minted bar dan perhiasan. Laba perusahaan perdagangan emas lebih ditentukan oleh volume penjualan karena keuntungan berasal dari selisih harga jual-beli (spread).

Peta Bisnis 12 Emiten Emas di BEI

Berdasarkan laporan Stockbit, terdapat 12 perusahaan di BEI yang memiliki bisnis atau konsesi tambang emas dengan empat tahap konsesi tambang. Pertama adalah tahap eksplorasi. 

Emiten yang tambang emas dengan bisnis di tahap ini adalah perusahaan milik Konglomerat Prajogo Pangestu, yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melalui proyek Intam. Kemudian PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melalui proyek Gayo Mineral Resources.

Tahap kedua adalah konstruksi tambang. Emiten yang tergabung dalam lini bisnis ini adalah PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui proyek Awak Mas dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) melalui proyek Pani.

Kemudian ada enam emiten yang telah memasuki tahap produksi emas dore. Keenamnya yaitu PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Lalu ada PT United Tractors Tbk (UNTR) serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Terakhir adalah perusahaan yang telah menghasilkan emas dari tambang tembaga. Emiten tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Freeport Indonesia

Dari daftar tersebut, tiga perusahaan tergolong pure-play gold miners, yaitu BRMS, PSAB dan ARCI. Sementara MDKA, UNTR, dan ANTM menjadikan emas sebagai salah satu segmen bisnis dari portofolio yang lebih luas.

Prospek Produksi 2025–2026

Stockbit memperkirakan peningkatan produksi emas pada tiap emiten dalam periode 2025–2026 akan ditopang oleh beberapa faktor utama, berikut rinciannya:

  • BRMS: Mulai beroperasinya fasilitas heap leach di CPM pada kuartal ketiga 2025
  • ARCI: Pemulihan pit Araren yang akan meningkatkan kapasitas produksi
  • MDKA dan EMAS: Fasilitas heap leach di proyek Pani ditargetkan beroperasi pada 2026
  • UNTR: Kenaikan produksi dari tambang Sumbawa Jutaraya
  • INDY: Proyek Awak Mas diproyeksikan mulai berproduksi penuh pada 2026 dengan target 100 ribu ons per tahun
  • AMMN: Produksi turun sementara pada 2025 akibat transisi dari fase 7 ke fase 8 tambang Batu Hijau
  • PT Freeport Indonesia: Proyeksi produksi 2025 disusun sebelum adanya kondisi force majeure di tambang Grasberg.

Dari seluruh emiten tersebut, menurut Tim Riset Stockbit, EMAS berpotensi mencatat pertumbuhan produksi tertinggi pada 2026, dari nol menjadi sekitar 79 ribu ons emas. Di sisi lain, BRMS berpotensi mencatat kenaikan produksi terbesar di antara pure-play gold miners, mencapai 16% secara tahunan atau year on year pada 2026.

Prospek Emas ke Depan

Analis pasar modal Hans Kwee menilai prospek emiten di industri emas masih panjang, seiring dengan tren kenaikan harga emas global yang berkelanjutan. Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor terhadap dolar Amerika Serikat.

“Ada indikasi bahwa orang mulai tidak percaya lagi pada dolar AS. Sejak era Donald Trump, terjadi banyak perang dagang, dan kini dunia tengah menghadapi berbagai persoalan ekonomi yang belum membaik,” ujar Hans kepada wartawan dikutip Selasa (21/10). 

Ia menjelaskan, salah satu penyebab meningkatnya minat terhadap emas adalah tingginya utang global serta melemahnya kondisi fiskal di berbagai negara. Ia mencontohkan, Prancis yang menghadapi defisit anggaran tinggi hingga memicu demonstrasi besar-besaran.

Lebih lanjut, Hans juga menyoroti tren kenaikan harga perak yang kerap mengikuti pergerakan emas. Ia menambahkan, perubahan arah investasi global saat ini juga dipengaruhi oleh geopolitik dan pergeseran dominasi ekonomi dunia. Negara-negara seperti Cina dan Rusia, menurut Hans, kini berupaya memperkuat cadangan emas mereka sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada dolar AS.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...