Angkasa Pura Bakal Genggam 70% Saham GMFI, Jadi Pengendali Baru?
PT Angkasa Pura Indonesia (API) akan menggenggam saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) dengan porsi kepemilikan mencapai 70%. Ini terjadi usai GMFI menggelar rights issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) sebanyak 124,26 miliar lembar saham Seri B dengan nominal Rp 25 per saham.
Melalui aksi ini, GMFI akan menerima penyetoran modal non-tunai (inbreng) dari PT Angkasa Pura Indonesia (API) berupa lahan seluas 972.123 meter persegi di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aset tersebut mencakup area operasional utama Hanggar 1 hingga Hanggar 4, dengan nilai mencapai Rp 5,66 triliun.
Saat ini, pengendali GMFI adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang masih menggenggam saham sebanyak 34,24 miliar atau setara 91,17%. Lantas akan kah pengendali GMFI berganti menjadi Angkasa Pura usai proses rights issue rampung?
Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi menjelaskan, langkah penambahan modal melalui inbreng ini merupakan tahap penting dalam proses transformasi menyeluruh GMFI. Selain itu, Andi juga menyebut pengendali utama GMFI akan tetap berada di bawah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
Tak hanya itu, ia mengatakan aksi korporasi ini tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga menjadi pondasi strategis agar GMFI dapat beroperasi lebih lincah, efisien, dan berkelanjutan ke depan.
“Dengan memiliki aset strategis dan struktur permodalan yang lebih kuat, GMFI siap memperluas kapasitas bisnis, memperkuat kemandirian operasional, serta memperkokoh posisinya sebagai MRO terintegrasi yang andal di tingkat global,” ujar Andi dalam paparan publik secara virtual, Jumat (24/10).
Dengan penyertaan modal dari Angkasa Pura Indonesia, ekuitas GMFI diproyeksikan berbalik positif, dari sebelumnya minus US$ 248,99 juta menjadi positif US$ 102,87 juta.
Menurut Andi, penyertaan modal dari API ini merupakan bagian dari program restrukturisasi Garuda Indonesia yang telah disetujui oleh Pemerintah. Langkah ini juga menegaskan adanya integrasi strategis antara GMFI dan ekosistem aviasi nasional di bawah naungan Angkasa Pura Indonesia.
Selain itu, Andi menargetkan pendapatan hingga akhir tahun mencapai sekitar US$ 437 juta atau Rp 7,26 triliun, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih ditargetkan mencapai US$ 27 juta ayai sekitar Rp 448,62 miliar, atau naik sekitar 5% dibandingkan target tahun 2024.
“Tapi itu akhirnya optimis bahwa target revenue dan net profit akan kita capai dan melebihi dari target yang diberikan di tahun ini,” ujarnya.
Adapun hingga akhir September 2025, GMFI sudah mencapai target pendapatan sekitar US$ 307,13 juta atau sekitar Rp 5,09 triliun.
“Di mana itu sudah lebih dari 100% target pada September. Kalau dibandingkan dengan akhir tahun, itu sudah sekitar 75% target,” kata dia.
Perusahaan juga berhasil mencatatkan laba bersih mencapai US$ 20 juta atau Rp 332,08 miliar hingga September 2025.
