KRAS Mampu Balik Rugi Jadi Laba Rp 370 M per September, Efek Restrukturisasi
Emiten pelat merah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mencatat laba bersih US$ 22,17 juta atau setara Rp 370,19 miliar (dengan kurs Rp 16.692 terhadap dolar AS) hingga kuartal ketiga tahun ini. Kondisi ini berbalik dari rugi yang dicatatkan perseroan sebesar US$ 185,22 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Merujuk laporan keuangan hingga akhir September 2025, perusahaan baja ini membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 706,08 juta, naik 7,39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 657,52 juta.
Pendapatan perseroan berasal dari produk baja lokal sebesar US$ 483,55 juta dan produk baja luar negeri sebesar US$ 40,01 juta. Pendapatan dari produk nonbaja, yakni sarana infrastruktur sebesar US$ 161,38 juta, rekayasa dan konstruksi sebesar US$ 7,12 juta dan jasa lainnya sebesar US$ 14 juta.
Seiring dengan naiknya pendapatan perseroan, KRAS juga mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan dari US$ 593,23 juta menjadi US$ 652,96 juta.
Salah satu penyebab KRAS mampu membalikkan rugi menjadi laba adalah adanya pos laba atas penyelesaian kewajiban dipercepat dengan keringanan atas utang restrukturisasi mencapai US$ 156,74 juta.
KRAS sebelumnya telah mengajukan permohonan dukungan dana dari Danantara sebesar US$ 500 juta atau setara dengan Rp 8,30 triliun. Hal tersebut kemudian dibenarkan oleh Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan pengaturan Badan Usaha Milik Negara, Dony Oskaria, bahwa Danantara segera melakukan injeksi dana kepada KRAS.
Dony mengatakan, Danantara sedang melakukan restrukturisasi secara menyeluruh terhadap bisnis Krakatau Steel, mulai dari menilai kembali model usaha perusahaan hingga meninjau nilai kompetitif di tengah persaingan bisnis baja dengan Cina.
“Kami akan lakukan juga proses restrukturisasi. Karena problem yang dihadapi oleh Krakatau Steel ini hutangnya cukup besar ya,” kata Dony pada Kamis (9/10).
Corporate Secretary Krakatau Steel Fedaus menjelaskan, dana yang diajukan KRAS kepada Danantara, dalam jangka pendek akan disalurkan melalui skema Pinjaman Pemegang Saham (PPS) sebesar US$ 250 juta.
Dana itu digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional utama, seperti pembelian bahan baku slab baja untuk pabrik Hot Strip Mill (HSM), hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil full hard (CRC F/H) di pabrik CRM PT KBI serta HRC untuk pabrik pipa baja PT KPI dan produk baja turunan lainnya. Fedaus menambahkan, penggunaan dana akan disesuaikan dengan kebutuhan modal kerja masing-masing fasilitas berdasarkan cash conversion cycle.
“Selanjutnya, KRAS juga akan mengajukan tambahan hingga US$ 500 juta dalam bentuk lain untuk penyelesaian restrukturisasi PTKS setelah mendapatkan kesepakatan dengan pihak perbankan,” ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Kamis (9/10).
Lebih jauh, Fedaus mengatakan, jika Danantara benar memberikan dukungan dana tersebut, KRAS akan memanfaatkannya untuk pengadaan bahan baku yang selama ini dibiayai oleh pihak ketiga (financier).
