Wall Street Anjlok Usai Bank-bank Raksasa AS Waspadai Koreksi Pasar Saham

Karunia Putri
5 November 2025, 06:11
Wall Street
NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup anjlok pada perdagangan Selasa (4/11) waktu setempat. Pelemahan terjadi setelah bank-bank besar memperingatkan potensi koreksi pasar saham di tengah kekhawatiran bahwa valuasi sejumlah saham sudah terlalu tinggi.

Tiga indeks utama Wall Street kompak berakhir di zona merah. Rata-rata Industri Dow Jones turun 251,44 poin atau 0,53% ke level 47.085,24. Indeks S&P 500 melemah 80,42 poin atau 1,17% menjadi 6.771,55, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 486,09 poin atau 2,04% ke 23.348,64.

Sektor teknologi mencatat pelemahan terdalam di antara 11 sektor utama S&P 500, yaitu sebesar 2,3%. Sementara itu, sektor keuangan menjadi satu-satunya kelompok yang masih mencatatkan penguatan.

“Investor tampaknya mulai lebih waspada terhadap valuasi saham, setidaknya untuk saat ini,” kata CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, Chuck Carlson, dikutip dari Reuters, Rabu (5/11).

Menurut Carlson, valuasi banyak perusahaan memang tinggi sementara pertumbuhan pendapatannya masih tergolong wajar. Kondisi tersebut, katanya, menjadi alasan logis bagi investor untuk melakukan aksi ambil untung.

S&P 500 dan Nasdaq mencatat penurunan harian terbesar sejak 10 Oktober. Saham-saham teknologi menjadi penekan utama Nasdaq, dengan enam dari tujuh saham unggulan berbasis kecerdasan buatan (AI) mengalami koreksi. Indeks Philadelphia SE Semiconductor bahkan turun 4%.

CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, juga memperingatkan potensi koreksi signifikan di pasar saham dalam enam bulan hingga dua tahun mendatang. Ia menyoroti sejumlah risiko seperti meningkatnya ketegangan geopolitik yang dapat memicu ketidakstabilan pasar.

Kondisi Politik AS Belum Stabil

Di sisi lain, kondisi politik Amerika Serikat masih belum stabil. Kebuntuan di Kongres membuat ancaman penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) semakin mendekati rekor terlama. Minimnya data ekonomi resmi akibat situasi tersebut membuat investor menantikan laporan ketenagakerjaan versi swasta, yakni ADP National Employment Report, yang akan dirilis Rabu waktu setempat.

Komentar dari sejumlah pejabat Federal Reserve juga menjadi perhatian pasar, terutama terkait arah kebijakan moneter di tengah keterbatasan data ekonomi resmi. Sementara itu, pemilihan lokal di New York, New Jersey, dan Virginia turut diawasi karena dapat memberikan sinyal politik menjelang pemilihan nasional.

Dari sisi korporasi, saham Palantir Technologies turun 8% meski proyeksi pendapatan kuartal keempat lebih baik dari perkiraan. Sepanjang tahun ini, saham Palantir telah melonjak lebih dari 152%. Saham Uber melemah 5,1% setelah gagal mencapai laba kuartalan, sementara Henry Schein justru naik 10,8% usai menaikkan proyeksi laba tahunannya.

Spotify dan Shopify masing-masing turun 2,3% dan 6,9% setelah melaporkan kinerja kuartalan.

Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang melemah melampaui saham yang menguat dengan rasio 2,45:1. Sebanyak 68 saham mencatat harga tertinggi baru dan 178 saham menyentuh level terendah baru.

Sementara di Nasdaq, 1.134 saham menguat dan 3.578 saham melemah dengan rasio 3,16:1. S&P 500 mencatat 13 titik tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir dan 19 titik terendah baru, sedangkan Nasdaq membukukan 54 titik tertinggi dan 260 titik terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat 19,82 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 21,04 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...