Sinyal IPO 3 Emiten Jumbo Superbank hingga Titan Infra, BEI Sebut Bidik Rp 6 T

Nur Hana Putri Nabila
5 November 2025, 13:51
IPO
INDODAX
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Efek Indonesia (BEI) membeberkan rencana besar di penghujung 2025 terkait rencana  tiga perusahaan berskala jumbo atau lighthouse company akan melantai di bursa melalui initial public offering. Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan lewat 3 IPO itu perusahaan berpotensi meraup dana jumbo.  

BEI menyebutkan tiga calon emiten berasal dari sektor finansial, pertambangan, dan infrastruktur. Menurut Iman, IPO ditarget akan berlangsung pada akhir tahun ini. 

“Mungkin nilai (target proceed IPO) Rp 5–6 triliun kali ya,” ujarnya dalam acara Investor Trust Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (5/11).

Menurut Iman, ketiganya tergolong lighthouse company, yakni perusahaan dengan kapitalisasi pasar minimum Rp 3 triliun dan porsi saham publik (free float) minimal 15%. “Kira-kira ya, tahun ini (IPO). Ya lihat saja,” ujar Iman lagi. 

Jika terealisasi, jumlah perusahaan mercusuar yang IPO sepanjang 2025 akan mencapai delapan. Lima di antaranya sudah lebih dulu melantai, yaitu PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Dengan potensi dana mencapai Rp 6 triliun, BEI menilai IPO tiga lighthouse company ini akan menjadi katalis penting bagi pasar modal nasional di tengah perlambatan ekonomi global. Jika seluruh rencana IPO terealisasi sesuai jadwal, 2025 akan menjadi tahun dengan jumlah lighthouse IPO terbanyak sepanjang sejarah BEI.

Deretan Calon Emiten Potensial IPO Akhir Tahun

Rumor yang beredar di kalangan pasar modal menyebutkan bahwa tiga calon lighthouse berikutnya berasal dari sektor finansial, pertambangan, dan infrastruktur. Dari sektor keuangan, dua nama yang paling santer adalah PT Super Bank Indonesia (Superbank) dan PT Bank DKI, yang kini telah berganti nama menjadi Bank Jakarta.

Sementara dari sektor non-keuangan, calon kuat datang dari PT Anugrah Neo Energy Materials, perusahaan tambang nikel dan pengembang rantai pasok baterai kendaraan listrik. Sinyal lainnya datang dari PT Titan Infra Sejahtera, raksasa logistik energi dan batu bara dari Sumatera Selatan

Superbank dan Bank Jakarta dalam Radar IPO 

Kabar rencana IPO Superbank semakin santer. Berdasarkan informasi yang diperoleh Katadata.co.id, bank digital yang terafiliasi dengan Grup Emtek, Grab, Singtel, dan KakaoBank ini disebut telah menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin emisi efek (underwriter).

CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya enggan mengomentari kabar tersebut. “Saya tidak bisa mengomentari, tunggu di website e-IPO aja untuk emiten yang akan listing nanti ya,” ujarnya kepada Katadata.co.id.

Sumber pasar modal menyebut, sekitar 70% dana hasil IPO Superbank akan digunakan untuk modal kerja dan penyaluran kredit. Sedangkan sisanya dialokasikan untuk belanja modal dan pengembangan sistem teknologi informasi.

Pihak Superbank sendiri menolak berkomentar atas rumor tersebut. “Fokus kami adalah menjaga kinerja yang kuat melalui solusi keuangan inovatif dan kolaborasi dengan ekosistem terpercaya,” ujar juru bicara Superbank kepada Katadata beberapa waktu lalu. 

Selain Superbank, kabar IPO juga datang dari BUMD, Bank Jakarta yang dulu bernama Bank DKI. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan bahwa proses IPO bank milik Pemprov DKI Jakarta itu dilakukan tanpa tergesa-gesa.

“Sekarang persiapkan dengan baik, sehingga nanti IPO-nya itu bisa keluar pada waktu yang tepat,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo menyebut OJK telah memberi lampu hijau untuk melanjutkan proses IPO. “Iya betul. Untuk kapannya, nanti kami informasikan lebih lanjut,” katanya.

Rencana IPO ini sebelumnya telah diungkap oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang menargetkan agar Bank Jakarta segera memperluas basis modal dan tata kelola melalui pasar modal.

Neo Energy dan Titan Infra, Penantang dari Sektor Riil

Dari sektor pertambangan, PT Anugrah Neo Energy Materials menjadi salah satu kandidat kuat IPO akhir 2025. Perusahaan ini beroperasi di Morowali, Sulawesi Tengah, dan fokus pada hilirisasi nikel serta pengembangan kawasan industri rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Neo Energy disebut telah menyelesaikan tahap registrasi awal dan bersiap memasuki tahap edukasi investor dalam waktu dekat. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari manajemen perusahaan terkait jadwal IPO.

Di sisi lain, PT Titan Infra Sejahtera yang merupakan induk usaha dari Titan Infra Energy Group juga tengah memperkuat ekspansi infrastruktur energi. Perusahaan yang berdiri sejak 2005 ini mengelola tambang batu bara, pelabuhan, dan jasa logistik energi di Sumatera Selatan.

Sinyal Titan Infra menggeber IPO di 2025 disampaikan dalam salah satu pemberitaan yang dimuat di laman resmi perusahaan. Rencana IPO ini juga sudah diungkap pada 2024 lalu dengan target melepas 10% saham. 

Presiden Komisaris Titan Infra, Suryo Suwignjo, mengatakan meski harga batu bara global menurun, perusahaan tetap melanjutkan ekspansi terukur. Suryo menambahkan, kinerja Titan Infra menunjukkan tren positif pada lima bulan pertama tahun 2025. 

"Reputasi dan brand awareness perusahaan yang semakin kuat di industri batu bara menjadi modal besar dalam menghadapi rencana Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2025,” kata Suryo seperti dikutip dari laman resmi perusahaan, Rabu (5/11). 




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...