Pelayaran Jaya (PJHB) Resmi Listing di BEI, Harga Saham Naik 24% Tembus ARA
Emiten transportasi dan logistik, PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (6/11). Harga sahamnya menembus batas atas harga atau auto rejection atas (ARA), naik 24,85% 82 poin ke level Rp 412 saat baru dibuka.
Perusahaan menjadi emiten ke-24 yang terdaftar di bursa Indonesia pada tahun ini. Volume saham yang diperdagangkan saat pembukaan mencapai 9.83 ribu saham.
Komisaris Utama PJHB Hero Gozali menyampaikan, langkah perseroan melantai di Bursa Efek Indonesia merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur pendanaan dan mempercepat ekspansi bisnis perseroan.
“Melalui penawaran umum perdana saat ini, bahwa persero dapat memperluaskan kapasitas, meningkatnya efisiensi pelayanan, agar dapat lebih banyak nilai di sektor industri di Indonesia,” kata Hero dalam kata sambutan IPO PJHB di Main Hall BEI, Kamis (6/11).
Adapun seluruh dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan sebagai belanja modal (capital expenditure) untuk membangun tiga kapal baru jenis LCT berkapasitas 2.500 DWT.
Kata dia, pembangunan kapal ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Perseroan untuk meningkatkan kapasitas armada dan memenuhi permintaan pengangkutan alat berat serta kontainer dari klien-klien kami.
Lewat aksi ini, PJHB melepas 480 juta saham baru atau setara dengan 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. PJHB menetapkan harga penawaran Rp 330 per saham. Dengan begitu, lewat aksi ini PJHB mengantongi dana sebesar Rp 158,40 miliar.
Profil Bisnis PJHB
PJHB merupakan perusahaan yang bergerak di bidang angkutan laut perairan pelabuhan dalam negeri untuk barang berupa alat berat dan kontainer. PJHB menggunakan kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) serta menyediakan jasa pengangkutan alat berat sejak tahun 2008.
Sejak berdiri, perusahaan terus melakukan ekspansi dan pengembangan usaha demi memenuhi kebutuhan berbagai layanan kargo. PJHB melayani pengangkutan alat berat untuk industri minyak dan gas, pertambangan, serta perkebunan, seperti dump truck, excavator, wheel loader, bulldozer, trafo, dan derek.
Selain itu, perusahaan juga menangani pengiriman mesin pabrik dan pembangkit listrik, termasuk boiler, pipa, transformator PLN, generator, dan tanker. Hingga kini, Perseroan mengoperasikan lima unit kapal dengan kapasitas angkut antara 1.300 hingga 2.500 metrik ton.
Perseroan menyediakan layanan angkutan laut untuk pengiriman barang seperti alat berat dan kontainer melalui dua jenis jasa, yaitu freight charter dan time charter. Layanan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan logistik pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.
Armada kapal Perseroan beroperasi di sejumlah rute strategis yang mencakup Pulau Jawa (Jakarta, Surabaya, dan Lamongan), Pulau Kalimantan (Samarinda, Sangatta, Senyiur, Melak, Suaran, Lati, Berau, Banjarmasin, Sungai Puting, dan Kelanis), Pulau Sulawesi (Morowali dan Halmahera Weda), Pulau Nusa Tenggara (Benete), serta Pulau Papua (Sorong).
Kinerja Keuangan dan Kebijakan Dividen
Usai IPO, perusahaan berencana membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham dengan jumlah maksimal 30% dari laba bersih tahun berjalan mulai tahun buku 2025. Pembagian dividen ini akan mempertimbangkan keputusan RUPS Tahunan.
Jika RUPS menyetujui pembagian dividen, maka dividen akan diberikan kepada seluruh pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal penetapan hak atas dividen.
Apabila menilik kinerja keuangannya, pendapatan PJHB pada tahun yang berakhir 31 Desember 2024 tercatat sebesar Rp 54,66 miliar, turun Rp 1,43 miliar atau 2,56% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 56,09 miliar.
Penurunan ini disebabkan oleh tidak beroperasinya dua kapal secara penuh, yaitu Lien Star 88 yang menjalani perbaikan selama 61 hari dan CJH 9 yang melakukan docking selama 61 hari.
Sementara itu, laba tahun berjalan pada 2024 sebesar Rp 17,19 miliar, turun Rp 5,09 miliar atau 22,86% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai Rp 22,28 miliar. Penurunan laba ini terutama disebabkan oleh penurunan laba sebelum
