Dana Jumbo TOBA untuk Beralih dari Batu Bara, Cadangan Habis Dua Tahun Lagi

Nur Hana Putri Nabila
13 November 2025, 06:30
TBS energi, toba, batu bara
Katadata
PT TBS Energi Utama Tbk melakukan divestasi dua PLTU sebagai bagian dari komitmen netralitas karbon pada 2030, menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 1,3 juta ton CO2 per tahun.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menyiapkan belanja modal mencapai sekitar US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,05 triliun (kurs: Rp 16.750 per dolar AS) hingga lima tahun ke depan atau 2030 untuk proyek-proyek energi terbarukan. Perusahaan kini resmi bertransformasi menuju bisnis hijau dan fokus pada tiga pilar utama bisnis, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.

TOBA sebelumnya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang batu bara. Namun, perseroan menargetkan untuk meninggalkan bisnis batu bara sepenuhnya pada 2030 atau  lebih cepat.

Presiden Direktur TBS Energi, Dicky Yordan menjelaskan bahwa transformasi ini merupakan kelanjutan dari inisiatif TBS2030, yakni peta jalan menuju netral karbon yang diluncurkan pada 2021. Ia menyebut transformasi ini bukan sekadar pergantian identitas, tetapi cerminan dari perjalanan panjang TBS demi mewujudkan visi sebagai perusahaan yang berfokus pada bisnis berkelanjutan.

“Kini kami memasuki babak baru, memperkuat sinergi lintas unit bisnis, dan menghadirkan solusi hijau yang memberi nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat,” kata Dicky dalam keterangannya, Rabu (12/11). 

Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina mengatakan bahwa TBS masih memiliki bisnis batu bara, tetapi cadangannya diperkirakan habis dalam dua tahun ke depan. Karena itu, perusahaan telah menyiapkan fase transisi, termasuk rencana penutupan tambang yang akan dilakukan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

“Jadi tahun ke depan memang kami akan terus mengembangkan tiga bisnis yang pilar baru tadi ya,” ucap Juli.

Ia menjelaskan, belanja modal sekitar US$ 600 juta sesuai dengan roadmap TBS2030. Dana tersebut akan digunakan untuk menggarap beberapa proyek energi terbarukan (renewable) yang sedang dalam tahap penjajakan. Namun, ia enggan membeberkan detail proyek-proyek itu.

“Ada proyek juga waste management yang sedang kita lihatin di regionalnya, itu kita lihat aja dulu, yang mana jadi duluan, itu yang kami kejar duluan,” katanya. 

Pundi-pundi Kinerja TBS Energi

Dalam tiga tahun terakhir, TBS memperluas portofolionya di sektor pengelolaan limbah dengan mengakuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH Environmental Indonesia (ARAH). Langkah ini memperkuat ekosistem pengelolaan limbah medis, industri, dan domestik di Indonesia.

TOBA juga mengakuisi penuh Sembcorp Environment Pte. Ltd. (SembEnviro) di Singapura, yang kini bertransformasi menjadi CORA Environment di bidang waste management. Ekspansi ke regional TBS ini sekaligus memperkuat kapabilitas operasional, teknologi, dan skala bisnisnya di Asia Tenggara.

Di sektor energi terbarukan, TBS telah mengoperasikan pembangkit listrik mikrohidro berkapasitas 2x3 MW di Lampung sejak Januari 2025. Selain itu, proyek Tembesi Floating Solar Power Plant berkapasitas 46 MWp di Batam, hasil kolaborasi dengan PLN Nusantara Power. Adapun proyek itu saat ini tengah memasuki tahap konstruksi dan ditargetkan beroperasi penuh pada pertengahan tahun depan.

Sementara di bidang kendaraan listrik, TBS melalui Electrum terus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi yang mencakup perakitan kendaraan, teknologi baterai, infrastruktur penukaran baterai, hingga pembiayaan hijau.

“Inisiatif ini tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi ribuan pengemudi,” kata Juli.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...