Rekam Jejak Tigor Siahaan, Bankir Kawakan yang Bakal Bawa Superbank IPO
PT Super Bank Indonesia atau Superbank berencana menggelar pencatatan saham perdana atau initial publik offering (IPO) pada 17 Desember 2025 dengan mengincar dana segar mencapai Rp 3,06 triliun. Aksi ini dilakukan berselang empat tahun sejak Superbank yang sebelumnya bernama PT Bank Fama International pertama kali diakuisisi Grup Emtek pada Desember 2021.
Siapa sosok penting dibalik kinerja Superbank yang kini tengah dipersiapkan melantai di Bursa Efek Indonesia?
Superbank saat ini dipimpin oleh Tigor Siahaan, bankir kawakan yang sudah berkarier lebih dari 30 tahun di industri perbankan. Ia dipercaya sebagai Presiden Direktur Superbank sejak Januari 2022 sejak baru diakuisisi Emtek dan masih menggunakan nama Bank Fama International.
Mengutip laman Superbank, pria kelahiran 1971 ini membangun karir perbankannya di Citi Indonesia selama 20 tahun. Ia memulai karier sebagai Management Associate pada tahun 1995 dengan jabatan terakhir sebagai Chief Country Officer Citibank Indonesia sejak tahun 2011 hingga 2015. Tigor merupakan orang Indonesia pertama yang sukses menempati jabatan puncak di bank global asal Amerika Serikat tersebut.
Sebelumnya, ia juga menduduki sejumlah posisi penting di Citibank Indonesia, antara lain Country Head for Institutional Clients Group, Head of Corporate & Investment Banking, dan Country Risk Manager. Ia juga pernah menjabat sebagai Vice President di Institutional Remedial Management Group di Kantor Pusat Citibank di New York dari tahun 2000-2003.
Setelah berkarier di Citi Indonesia, Tigor sempat menjabat sebagai Presiden Direktur CIMB Niaga pada April 2015 hingga akhir 2021. Pada awal masa jabatannya, salah satu bank swasta nasional terbesar di Indonesia ini tengah didera masalah kredit macet.
Rasio kredit bermasalah (non performing loan / NPL) gross CIMB Niaga per akhir Maret 2015 mencapai 4,1%, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 2,6%. Kenaikan NPL terutama terjadi pada segmen korporasi yang mencapai 7,9%. Adapun masalah NPL saat itu memang tak hanya dihadapi oleh CIMB Niaga, tetapi juga sejumlah bank besar lainnya.
Di masa kepemimpinannya, NPL CIMB Niaga sempat berhasil ditekan hingga ke level 2,79% secara gross pada 2019. Namun pada tahun terakhir kepemimpinannya di bank tersebut pada 2021, NPL CIMB Niaga kembali naik ke level 3,5% seiring pandemi Covid-19 yang melanda.
Di bawah kepemimpinan Tigor, CIMB Niaga juga melakukan sejumlah transformasi, terutama di bidang digital, infrastruktur, dan tata kelola. Dalam rentang waktu kepemimpinan Tigor, laba bersih CIMB Niaga naik lebih dari empat kali lipat dari Rp 856 miliar pada akhir 2015 menjadi Rp 4,1 triliun pada 2021.
Kinerja dan Prospek Bisnis Superbank
Superbank mulai mencatatkan laba bersih pada tahun ini, membalikkan kinerja rugi pada tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, laba bersih Superbank tercatat sebesar Rp 60,1 miliar, berbanding dari rugi Rp 258,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Capaian laba diperoleh seiring dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang naik 176% secara tahunan dari Rp 399 miliar menjadi Rp 1,1 triliun. Hal ini juga sejalan dengan penyaluran kredit yang tumbuh 84,5% secara tahunan menjadi Rp 9,04 triliun.
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bahkan lebih tinggi mencapai 203% menjadi Rp 9,8 triliun. Integrasi ekosistem yang kuat menjadi penggerak utama kinerja bank yang kini memiliki lebih dari 5 juta nasabah ini.
Superbank saat ini terintegrasi dengan Grab, OVO, dan Emtek sebagai bagian dari ekosistem pemegang sahamnya. Integrasi ini memungkinkan pengguna untuk mengakses layanan perbankan Superbank langsung dari aplikasi Grab tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan, serta melalui kolaborasi dengan OVO seperti produk OVO Nabung by Superbank.
Selain itu, Superbank juga memiliki kemitraan strategis dengan perusahaan seperti Amartha ntuk memberdayakan pengusaha mikro dan UMKM.
