Garuda Ungkap 39 Pesawat GIAA dan Citilink Tidak Terbang

Nur Hana Putri Nabila
27 November 2025, 18:09
garuda indonesia, garuda,
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyebut, sebanyak 39 pesawat Garuda Indonesia dan anak usahanya, Citilink masih berstatus grounded atau tak beroperasi. 

Direktur Teknis Garuda Indonesia Mukhtaris mengatakan, Citilink  menerbangkan 31 pesawat dari total 56 armada, terdiri dari 49 Airbus A320neo dan 7 ATR pada awal Desember ini. “Jadi total ada 56 pesawat (Citilink)," kata Mukhtaris dalam acara Public Expose secara virtual, Kamis (27/11).

Namun, memasuki peak season Desember 2025 mendatang, menurut Mukhtaris, Citilink menargetkan dapat menerbangkan sebanyak 36 pesawat.

"Sementara Garuda sendiri, kami maintain menerbangkan 58 pesawat dari total 72 pesawat kami," ucapnya. 

Ia pun menghitung, armada gabungan antara Garuda dan Citilink yang berstatus tak bisa terbang mencapai 39 pesawat. 

Transformasi Disokong Danantara

Garuda Indonesia saat ini tengah melakukan transformasi besar-besaran untuk menyelamatkan keuangan perusahaan di bawah dukungan Danantara. Maskapai BUMN ini akan memperoleh suntikan modal mencapai Rp 23,67 triliun. 

Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy memastikan, penyelamatan GIAA tak sekedar suntikan dana. “Danantara full akan mendukung Garuda, dalam transformasi ini, komitmen full dari Danantara bukan free lunch, bukan gratis. Kami akan kawal sampai ke dalam, ke bawah,” kata Febriany di Jakarta.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) menyetujui rencana penyertaan modal senilai Rp 23,67 triliun melalui PT Danantara Asset Management (DAM). Danantara juga memastikan proses restrukturisasi GIAA tidak akan menimbulkan beban fiskal baru terhadap negara.  

Febriany menjelaskan, salah satu tahap prioritas untuk menyelamatkan Garuda adalah melakukan maintenance pesawat yang grounded atau tak bisa terbang. Tak hanya itu, ia menyebut kondisi ini yang turut menekan kinerja Garuda selama enam bulan terakhir.  

Adapun maskapai plat merah ini memiliki utang mencapai US$ 8,28 miliar atau Rp 138,49 triliun dan membukukan rugi sebesar US$ 182,53 juta atau setara Rp 3,05 triliun hingga kuartal ketiga 2025. Tak hanya itu, ia juga menyebut pesawat yang grounded membuat Garuda kehilangan pendapatan. Pesawat tidak bisa terbang, sedangkan biaya sewa dan beban terus berjalan.   

“Jadi setiap hari kita men-delay, maka semakin besar lubang yang harus ditutup. Jadi ini menjadi tahap satu prioritas, banget-banget prioritas. Segera diberikan untuk bisa melakukan maintenance yang dibutuhkan sehingga pesawat Garuda bisa terbang lagi,” kata Febriany.

Ia juga mencatat, lebih banyak lagi pesawat Citilink yang berada dalam kondisi tak bisa terbang. Maka dari itu, dalam maintenance armada, pada tahap awal, Danantara memberikan dalam bentuk pinjaman pemegang saham atau shareholder loan senilai US$ 405 juta atau setara Rp 6,65 triliun.  

“Ya memang kalau tidak dilakukan restrukturisasi tahun ini, maka tahun depan dia (Garuda) mungkin akan lebih sulit jadi ada urgency untuk segera dibantu tahun ini,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...