Adu Portofolio Emiten EBT Konglomerat: BREN, DSSA dan ARKO Mana Paling Menarik?

Karunia Putri
1 Desember 2025, 07:44
EBT
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.
Suasana Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tambaklorok di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (15/11/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Fokus pemerintah mengejar swasembada energi memantik semangat perusahaan sektor energi baru terbarukan atau EBT memperelok portofolio bisnis. Di antara deretan emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan milik konglomerat menjadi yang paling mencuri perhatian investor.  

Perhatian investor tak lepas dari pergeseran pola transaksi di bursa sepanjang tahun berjalan, dari dominasi perbankan jumbo menuju saham-saham milik konglomerasi. Direktur Utama BEI Iman Rachman turut mengakui perubahan tersebut. 

“Dari sisi market cap [kapitalisasi pasar] bisa dilihat ada pergeseran selama ini dari perbankan menjadi konglomerasi. Kalau dulu kita bicara top five itu bank BCA, BRI, Mandiri, BNI dan sebagainya, sekarang ini bergerak ke konglomerasi,” kata Iman beberapa waktu lalu.

Demi mengejar target, pemerintah kemudian memasukkan pengembangan sektor EBT dalam proyek strategis nasional (PSN). Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara pun berkomitmen memprioritaskan investasi pada sektor ini hingga akhir 2025. Tak heran sektor EBT banyak dilirik para investor.

Katadata kemudian merangkum sejumlah informasi yang dapat dicermati pembaca terkait emiten-emiten konglomerasi yang berkecimpung dalam bisnis EBT. Di antaranya ada emiten Prajogo Pangestu (BREN), perusahaan Grup Sinarmas (DSSA) hingga emiten terafiliasi Grup Astra (ARKO).

Menimbang Kekuatan Emiten Prajogo (BREN) dalam Bisnis EBT 

Konglomerat nomor wahid Tanah Air Prajogo Pangestu turut menancapkan kuku bisnisnya di sektor EBT melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Perusahaan induk yang berada di bawah naungan Barito Pacific itu mengusung strategi jangka panjang untuk menyediakan energi bersih beremisi rendah. BREN juga menjadi pemegang saham Star Energy Geothermal Group, produsen listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia.

Merujuk laman resmi perseroan, BREN menyatakan komitmen terhadap intervensi operasional yang terukur, investasi penting pada energi bersih, serta penyelarasan keberlanjutan dengan tujuan bisnis inti sembari menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Dalam informasi terbaru yang disampaikan perseroan, BREN menyiapkan belanja modal (capex) sebesar US$ 250 juta atau sekitar Rp 4,17 triliun pada 2026. Nilai tersebut melonjak dibandingkan alokasi tahun ini yang hanya US$ 100 juta. Nantinya, modal tersebut akan digunakan BREN untuk menunjang aktivitas bisnisnya di sektor EBT.

“Hal tersebut berkaitan dengan aktivitas rencana yang kita miliki, aset, dan unit yang kita miliki,” kata Direktur BREN Hsing Chee Shiam dalam paparan publik virtual, Selasa (11/11).

Perseroan menyebut tengah membidik kapasitas pembangkit yang dikelola perusahaan bisa menembus 2.300 MW pada 2032. Target itu akan dicapai lewat empat proyek strategis yang tengah dieksekusi.

Empat proyek tersebut meliputi, pertama, proyek Wayang Windu Unit 3 dengan menambah kapasitas lebih dari 30 MW, ditargetkan rampung kuartal keempat 2026.

Kedua, proyek Salak Unit 7 dengan menambah lebih dari 40 MW, diproyeksikan selesai kuartal IV 2026. Ketiga, proyek Wayang Windu Unit 1 dan 2 Retrofit deengan menambah 18,4 MW, ditargetkan tuntas kuartal IV 2025. Dan keempat, proyek Darajat Unit 3 Retrofit yang akan ditambah lebih dari 7 MW setelah selesai pada 2026.

Saat ini, BREN mengoperasikan tiga aset panas bumi, yaitu Wayang Windu, Salak, dan Darajat dengan total kapasitas terpasang 710 MW. Pencapaian ini menempatkan BREN sebagai pemimpin pangsa pasar panas bumi nasional.

Sementara itu, proyek panas bumi Hamiding di Halmahera Utara, Maluku Utara yang juga tengah digarap perseroan, disebut berpotensi menghasilkan daya 275–550 MW. 

Melalui Star Energy Geothermal, BREN telah merampungkan pembangunan akses jalan, infrastruktur pendukung, hingga jembatan untuk mendukung aktivitas pengeboran. Proyek EBT ini disebut merupakan proyek paling strategis di kawasan timur Indonesia.

Di pasar modal, BREN masih bertengger sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, yakni Rp 1.281 triliun. Pada penutupan perdagangan Jumat (28/11), saham BREN menguat 0,52% ke 9.575, dengan kenaikan year to date (ytd) sebesar 3,23%.

Hingga periode September 2025, BREN membukukan laba bersih sebesar Rp US$ 106,55 juta atau sekitar Rp 1,78 triliun. Angka tersebut naik 23,8% dibanding laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun 2024 sebesar US$ 86,06 juta. BREN mencatatkan lonjakan pendapatan hingga 61,18% secara you menjadi Rp 247,43 miliar.

Emiten Grup Sinarmas (DSSA) Punya 2 Proyek EBT di Jabar dan 1 di NTT

Grup Sinarmas juga memiliki lini bisnis di bidang EBT lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Merujuk laman resminya, perseroan menyatakan akan terus memperkuat ekspansi di sektor EBT sebagai bagian dari strategi jangka panjang mendukung transisi menuju energi bersih. Perseroan saat ini mengembangkan proyek panas bumi hingga pembangkit tenaga surya melalui sejumlah entitas anak.

Sejak 2022, DSSA aktif menjajaki dan membangun proyek pembangkit listrik berbasis EBT untuk mendukung target penurunan emisi nasional. Pengembangan ini dijalankan melalui anak usaha yang fokus pada panas bumi dan energi surya.

Melalui anak usahanya PT Daya Sentosa Sakti Renewables (DSSR), perseroan tengah menggarap tiga proyek panas bumi di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2029. Ketiga proyek tersebut meliputi proyek Cipanas, Jawa Barat yang memiliki potensi kapasitas hingga 55 MW, proyek Cisolok, Jawa Barat yang memiliki potensi kapasitas hingga 45 MW dan proyek Nage, Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi kapasitas hingga 40 MW

Selain panas bumi, DSSA menjalankan dua proyek di sektor tenaga surya, yakni produksi panel dan solusi rooftop solar PV. Di lini produksi panel, DSSA bekerja sama dengan Trina Solar dan PT PLN Indonesia Power Renewables melalui PT Trina Mas Agra Indonesia. Fasilitas produksi yang berada di KEK Kendal, Jawa Tengah telah rampung dibangun pada 2024 dengan kapasitas 1–2 GWp per tahun.

Adapun pengembangan PLTS atap dilakukan melalui PT Daya Mas Agra Sejahtera yang menyediakan solusi energi surya untuk pelanggan industri dan komersial. Solusi ini ditawarkan untuk menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi karbon.

Sepanjang 2024, perseroan telah merampungkan fasilitas produksi panel surya di KEK Kendal dan melanjutkan pengembangan infrastruktur panas bumi yang dimulai sejak 2022. DSSA memastikan ekspansi ke energi bersih akan terus diperluas melalui peningkatan kapasitas produksi, adopsi teknologi dan kolaborasi strategis.

Berdasarkan data perdagangan bursa Jumat (28/11) lalu, harga saham DSSA ditutup menguat 2,33% atau naik 2.500 poin ke level 109.950. Harga sahamnya telah melesat 197,16% sepanjang tahun berjalan.

Sementara itu, DSSA terpantau belum melaporkan kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama 2025. Perseroan menyebut akan melaporkan kinerja keuangan triwulan ketiga tahun ini selambat-lambatnya pada 31 Desember 2025. 

Emiten EBT Grup Astra ARKO Segera Garap Proyek Pongbembe di Tana Toraja

Emiten EBT milik Grup Astra, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) juga terus memperluas portofolio proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berbasis aliran sungai langsung atau run-of-river. Saat ini perseroan telah mengoperasikan tiga proyek, serta membangun dua lainnya sebelum memulai pengerjaan proyek anyar Pongbembe di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tiga proyek yang telah beroperasi adalah proyek Cikopo, Tomasa, dan Yaentu.

Proyek Cikopo di Garut, Jawa Barat telah beroperasi sejak Maret 2017 dengan kapasitas 7,4 MW dan produksi tahunan sekitar 52.000 MWh. Wilayah tangkapan air berada di kawasan hutan lindung, sehingga perseroan menyebut debit air relatif stabil sepanjang tahun. Pembangkit ini memanfaatkan debit 3,2 m kubik per detik dan net head 264 meter, serta menggunakan dua turbin Pelton dari Wasserkraft Volk AG.

Kemudian Proyek Tomasa berada di Poso, Sulawesi Tengah. Proyek ini mulai beroperasi komersial pada Oktober 2019. Pembangkit berkapasitas 10 MW ini menghasilkan energi sekitar 63.072 MWh per tahun, dengan debit 4,5 m kubik per detik dan net head 258 meter. Ada dua turbin Pelton dari Voith digunakan pada fasilitas ini.

Lalu proyek Yaentu juga berada di Poso. Proyek ini mulai beroperasi pada Oktober 2024. Kapasitasnya 10 MW dengan produksi tahunan sekitar 63.011 MWh. Pembangkit memanfaatkan debit 7,2 m kubik per detik dan net head 165 meter, serta dilengkapi dua turbin Francis horizontal yang beroperasi 24 jam.

Selain proyek yang telah beroperasi, ARKO tengah membangun dua PLTA baru. Proyek pertama bernama Kukusan II di Tanggamus, Lampung yang mulai dibangun pada 2022 dan ditargetkan beroperasi komersial pada 2025. Kapasitasnya 5,4 MW dengan output tahunan sekitar 35.054 MWh. Pembangkit memanfaatkan debit 5 m kubik per detik dan net head 124,6 meter dengan dua turbin Francis horizontal.

Selanjutnya proyek Tomoni di Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang mulai dibangun pada 2024 dan diproyeksikan beroperasi pada 2026. Pembangkit berkapasitas 10 MW ini diperkirakan menghasilkan 56.940 MWh per tahun, memanfaatkan debit 11,9 m kubik per detik dan net head 95 meter, juga menggunakan dua turbin Francis horizontal.

Untuk proyek masa depan, ARKO telah menempatkan Proyek Pongbembe di Tana Toraja dalam daftar pipeline. Proyek PLTA tipe run-of-river ini disebut akan menjadi proyek terbesar yang pernah dikerjakan perseroan.

“Ini akan menjadi proyek terbesar kami, for now. Unwrapped soon,” tulis manajemen ARKO dalam situs resminya, dikutip Senin (1/12).

Bila mencermati gerak sahamnya, harga saham ARKO melonjak 410,87% sejak awal tahun. Saat ini perdagangan saham ARKO dihentikan sementara oleh BEI atau disuspensi karena terdapat pergerakan yang tidak wajar terhadap gerak sahamnya. 

Merujuk laporan kinerja keuangan ARKO periode Januari - September 2025, perseroan mencetak laba bersih sebesar 47,67 miliar. Jumlah tersebut naik 17,55% dibanding laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 40,55 miliar. ARKO mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 3,6% menjadi US$ 457,39 juta.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...