Hitungan Valuasi IPO Emiten Sarang Burung Walet (RLCO) di Harga Rp 168, Menarik?

Karunia Putri
2 Desember 2025, 13:48
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), saham, valuasi
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), saham, valuasi
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan ekspor sarang burung walet dan produk kesehatan PT Abadi Lestari Indonesia (RLCO) bersiap mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan menawarkan harga saham perdananya atau initial public offering (IPO) sebesar Rp 168 per saham.

Phintraco Sekuritas menilai, harga IPO Rp 168 per saham tersebut mencerminkan kapitalisasi pasar sekitar Rp 530 miliar. Menurut riset Phintraco Sekuritas yang mengacu pada laporan keuangan per 31 Mei 2025 RLCO, perseroan membukukan Return on Assets (ROA) 3,74%, Return on Equity (ROE) 10,52%, serta Net Profit Margin (NPM) 5,33%.

Dari sisi struktur permodalan, Debt to Equity Ratio (DER) berada pada level 1,81 kali. Dengan harga IPO Rp 168, valuasi RLCO setara dengan Price to Earnings Ratio (PER) 17,73 kali dan Price to Book Value (PBV) 1,86 kali.

RLCO dikenal sebagai pemain produk kesehatan dan turunan sarang burung walet dengan pasar ekspor yang kuat di Cina, Amerika Serikat, dan Hong Kong. Phintraco menilai, fundamental perusahaan menjelang IPO cukup solid.

Sementara itu, Samuel Sekuritas Indonesia yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi menilai prospek pertumbuhan perusahaan akan ditopang oleh ekspansi produk konsumsi di luar sarang burung walet serta penetrasi pasar ekspor baru. Saat ini, produk barang konsumsi, termasuk minuman siap minum (RTD), siap makan (RTE) dan minuman bubuk menyumbang 88,5% dari total pendapatan.

“Kami memperkirakan ekspansi yang kuat dalam portofolio barang konsumsi RLCO terutama melalui penetrasi pasar Thailand dan Vietnam pada kuartal II 2025. Ke depannya, perusahaan juga berencana untuk menambah pasar AS dan Filipina untuk lebih memperdalam jangkauan ekspornya,” demikian penjelasan Samuel Sekuritas dalam risetnya.

RLCO juga tengah mendiversifikasi produk di luar sarang burung walet premium ke kategori baru seperti kaldu ayam, kolagen, dan produk protein alami dalam beragam format.

“Kami memperkirakan pendapatan RLCO tumbuh dengan CAGR 19,4% pada periode 2024–2027,” katanya. 

Pertumbuhan ini terutama didorong peningkatan volume penjualan produk setengah jadi dan ekspansi produk konsumsi ke pasar regional.

Dari sisi profitabilitas, laba operasional diproyeksikan tumbuh CAGR 32,1% dalam lima tahun, ditopang pergeseran bauran pendapatan ke segmen barang konsumsi yang memiliki margin lebih tinggi. Ekspansi ke pasar baru juga diperkirakan menambah ruang perbaikan margin.

Alhasil, dengan proyeksi pertumbuhan dari segmen penjualan, ekspansi dan margin yang menguat, Samuel Sekuritas memandang RLCO dapat mencatat pertumbuhan laba bersih yang solid dengan CAGR 57,5% pada 2024–2027.

Abadi Lestari akan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Desember 2025. Lewat IPO perusahaan akan mengantongi sebanyaknya dana Rp 105 miliar.

“Perseroan dengan ini melakukan Penawaran Umum Perdana Saham sebanyak 625.000.000 saham biasa atas nama yang merupakan saham baru, dengan nilai nominal Rp50,” tulis manajemen dalam prospektus tambahan IPO yang dirilis Senin (1/12).  

Dalam IPO ini, RLCO akan melepas 625 juta saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Samuel Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam proses IPO ini. 

Dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan difokuskan pada dua alokasi utama. Sekitar 56,33% dialokasikan sebagai modal kerja, terutama untuk pengadaan bahan baku sarang burung walet..

Adapun 43,67% sisanya akan disetorkan kepada entitas anak, PT Realfood Winta Asia, dalam bentuk penyertaan modal yang juga difungsikan untuk pembelian bahan baku serupa. Perseroan menilai tambahan modal kerja dari IPO penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas pabrik yang saat ini belum digunakan secara maksimal.  

Dengan dukungan pendanaan baru tersebut, perusahaan berharap dapat mengerek kapasitas operasional dan produktivitas sehingga mendorong pertumbuhan pendapatan. Hingga prospektus diterbitkan, perseroan belum meneken perjanjian baru dengan pemasok, baik pemasok lama maupun baru. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...