Geliat Saham Bank Jago (ARTO) di Tengah Euforia IPO Superbank, Berapa Targetnya?

Nur Hana Putri Nabila
16 Desember 2025, 16:56
Seorang nasabah membuka aplikasi Bank Jago di depan logo bank digital tersebut, Rabu (14/4).
Humas Bank Jago
Seorang nasabah membuka aplikasi Bank Jago di depan logo bank digital tersebut, Rabu (14/4).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di tengah euforia perbankan digital menjelang pelaksanaan initial public offering atau IPO PT Super Bank Indonesia Tbk,  saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) tengah memperkuat fokus bisnisnya pada pembiayaan berbasis ekosistem dan value-chain lending. Ke depannya pipeline produk di segmen emas, wealth management, hingga asuransi dan digital lending dinilai membuka peluang peningkatan non-interest income perseroan.

Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ARTO dengan target harga Rp 2.700 per saham, yang merefleksikan rasio price to book value (PBV) 2026F sebesar 4,2 kali. Rekomendasi tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit ARTO yang konsisten di atas rata-rata industri dan kenaikan monetisasi platform.

Apabila menilik perdagangan saham ARTO menjelang penutupan saham ini, Selasa (16/12) pukul 15:32 WIB, saham ARTO turun 4,05% ke Rp 2.130 dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 29,52 triliun. Secara mingguan ARTO menguat 3,90% dan meningkat 7,58% dalam sebulan terakhir. 

Tak hanya itu, Samuel Sekuritas menilai ARTO berada pada posisi solid untuk mendorong pemulihan margin dan mencatatkan pertumbuhan berkelanjutan hingga 2026. Hal itu didukung dengan turunnya tren biaya pendanaan, pertumbuhan pendapatan berbasis komisi, serta kebijakan pencadangan yang disiplin.

“Risiko penurunan utamanya meliputi pengelolaan kualitas aset selama ekspansi pinjaman langsung, perbaikan rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih lambat dari perkiraan, dan tantangan makroekonomi yang lebih luas,” demikian tertulis dalam riset Samuel Sekuritas, dikutip Selasa (16/12). 

Target Kinerja ARTO Tahun Buku 2025

Selain itu, Samuel Sekuritas juga menyebut manajemen Bank Jago memberikan panduan kinerja 2025 dengan target pertumbuhan kredit sebesar 35–40%. Lalu NIM yang disesuaikan dengan risiko diproyeksikan tetap berada di atas 8%, ditopang oleh penurunan biaya dana pada kuartal keempat 2025 dan penyesuaian suku bunga kredit yang berkelanjutan.

Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) ditargetkan ≤60% pada 2025, membaik dibandingkan tahun buku 2024 lalu yang masih di atas 70%, dan diperkirakan terus menurun hingga di bawah 40% dalam jangka menengah. Hal itu seiring manfaat skala dan pertumbuhan biaya operasional yang lebih moderat. Sementara itu, kualitas aset diproyeksikan tetap terjaga dengan LAR di kisaran 6–7%, NPL di bawah 1%, serta cost of credit sekitar 4–5%.

Apabila menilik kinerja hingga kuartal ketiga 2025, ARTO meraup laba bersih sebesar Rp 199 miliar hingga kuartal III 2025, melonjak 132% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit yang melesat 36% secara tahunan mencapai Rp 23,5 triliun. 

“Penyaluran kredit dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang tetap rendah di level 0,4% atau di bawah rata-rata NPL perbankan nasional,” ujar Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung dalam keterangan resmi, Rabu (29/10). 

Seiring pertumbuhan kredit, total aset ARTO juga meningkat 28% menjadi Rp 34,5 triliun dari posisi tahun sebelumnya Rp 26,8 triliun. Sementara itu, loan to deposit ratio (LDR) berada di level 98%, dan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 32,9%. 

Samuel Sekuritas menilai strategi berbasis ekosistem dengan inovasi produk menjadi pendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi Bank Jago. Tak hanya itu ARTO juga terus memperkuat pendekatan ekosistem dan pembiayaan rantai nilai, tercermin dari eksposur ke ekosistem PT GoTo Gojek Tokopedia Tb (GOTO) yang tetap stabil sekitar 21% dari total kredit.

Selain itu ARTO juga tetap fokus pembiayaan yang disesuaikan dengan profil risiko, didukung peluncuran sejumlah produk baru pada kuartal ketiga 2025. Produk tersebut misalnya Visa Digital Pro Card untuk wirausaha digital, Jago Dana Cepat sebagai fasilitas pinjaman tunai digital.

Bank Jago juga mengeluarkan produk uji coba Consolidated Asset View, yakni dasbor investasi terintegrasi dengan KSEI untuk meningkatkan cross-selling dan engagement pada segmen nasabah utama.

“Potensi pertumbuhan lebih lanjut diharapkan dari produk pinjaman digital terhubung investasi emas, manajemen kekayaan, dan asuransi yang akan datang, yang seharusnya memperluas basis pendapatan non-bunga ARTO dan memperkuat monetisasi ekosistem,” ucap tim analis Samuel Sekuritas dalam risetnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...