Hasil Investasi Emas Lampaui Kripto pada 2025, Apakah Berlanjut Tahun Ini?
Investor emas menikmati lonjakan harga yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2025. Harga emas melonjak 65% sepanjang tahun lalu, melampaui kinerja hampir semua aset berisiko lain, termasuk mata uang kripto.
Namun, pertanyaannya yang muncul adalah seberapa jauh kenaikan pasar ini akan berlanjut pada tahun 2026?
Mengutip Investopedia, kenaikan harga emas global pada tahun lalu juga melampau harga saham AS da obligasi global. Di dunia yang penuh dengan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, reputasi emas sebagai aset safe-haven berkembang pesat sepanjang tahun lalu, hal yang belum pernah terjadi sejak era inflasi tinggi akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an.
Harga emas spot mencapai titik tertinggi sepanjang masa sekitar $4.560 per ons pada Jumat (26/12), sebelum merosot lebih dari 4% pada Senin (29/12). Harga emas global ditutup di level US$ 4.36o per ons pada 2025, naik 65% dibandingkan akhir 2024.
Adapun pada perdagangan pada awal tahun ini, Jumat (2/1), harga emas melanjutan kenaikan di tengah ketegangan geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga AS menjaga permintaan emas tetap tinggi.
Harga emas spot stabil di $4.313,29 per ons pada Jumat (2/1) pukul 13.46 ET atau Sabtu (3/1) 01.36 WIB, setelah sebelumnya naik hingga $4.402,06 di awal sesi.
Sebagian besar analis memperkirakan kenaikan harga emas akan sedikit melambat pada tahun 2026. Meskipun demikian, sebagian besar melihat satu-satunya cara harga emas akan turun tahun depan adalah jika pertumbuhan ekonomi global melebihi ekspektasi. Namun, harga emas bisa melonjak jika terjadi perlambatan global yang signifikan
Faktor Pendorong Lonjakan Harga Emas Tahun 2025
Sejumlah faktor menciptakan kondisi yang sempurna untuk reli tahun 2025, yang sebagian besar berpusat pada gejolak geopolitik. Tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran inflasi, dan akibatnya lebih banyak investor menempatkan uang mereka di emas. Peristiwa di Timur Tengah dan perang di Ukraina juga berkontribusi pada ketidakpastian global.
Depresiasi dolar AS juga mengarahkan lebih banyak investor ke emas, khususnya bank sentral. Dolar telah jatuh sekitar 10% tahun 2025 dibandingkan dengan sekeranjang mata uang global. Bank-bank sentral pun lebih banyak beralih ke emas daripada dolar untuk menyimpan cadangan mereka.
Keputusan Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga membuat emas lebih menarik dibandingkan aset yang menghasilkan imbal hasil reguler. Pemotongan tersebut terjadi di tengah lingkungan di mana kekhawatiran tentang utang global meningkat dan pemerintah AS mengalami penutupan selama lebih dari sebulan.
Bagaimana Prospek Harga Emas 2026?
Sebagian besar analis memperkirakan harga emas akan stabil antara US$4.000 dan US$5.000 per ons troy pada tahun 2026, dengan beberapa catatan.
Goldman Sachs misalnya, memiliki target harga emas US$4.900 pada 2026. Namun, perusahaan tersebut melihat potensi "kenaikan signifikan" terhadap target tersebut jika investor mengalihkan lebih banyak eksposur ekuitas dan obligasi tradisional mereka ke ETF emas.
State Street memproyeksi harga emas US$4.000-US$4.500 pada tahun ini. Namun, menurut mereka, alokasi ulang strategis dan faktor geopolitik dapat menciptakan dorongan bagi emas untuk mencapai US$5.000 per ons.
Dewan Emas Dunia memiliki empat skenario berbeda. Menurut mereka, penurunan harga emas pada tahun ini hanya akan terjadi jika pertumbuhan ekonomi memicu inflasi, memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga, dan dolar menguat.
Sebaliknya, mereka melihat perlambatan signifikan dalam pertumbuhan global yang mendorong harga emas naik 15-30%. Jika tidak, mereka memperkirakan harga akan tetap stabil hingga naik 15%.
Sedangkan untuk The Fed, sebagian besar analis memandang penunjukan Ketua The Fed baru sebagai hal positif bagi emas. Itu karena Trump berencana untuk menunjuk ketua yang lebih cenderung menurunkan suku bunga.
Sementara itu, permintaan yang kuat kemungkinan akan terus berlanjut dari bank sentral. Survei Dewan Emas Dunia menunjukkan 95% bank sentral memperkirakan akan meningkatkan cadangan emas mereka pada tahun mendatang.
Terakhir, permintaan fisik untuk batangan emas dan perhiasan dapat mendukung harga yang lebih tinggi. Permintaan di Asia dan India tetap kuat meskipun harga lebih tinggi, kata State Street.
"Kantong-kantong permintaan fisik yang kuat yang bersifat non-siklikal (bank sentral) dan idiosinkratik (permintaan China) menambah dukungan terhadap harga emas dan meredam risiko penurunan," kata State Street dalam sebuah laporan riset.
