Prospek Saham Properti di 2026: CTRA, PWON, SSIA hingga BSDE Berpotensi Bangkit?

Karunia Putri
5 Januari 2026, 11:23
Pengunjung melihat paket perumahan yang ditawarkan pengembang saat pembukaan Pameran Properti REI-EXPO 2025 di Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/5/2025). Pihak penyelenggara setempat menargetkan transaksi sebesar Rp500 miliar selama berlangsungnya pameran hing
ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc.
Pengunjung melihat paket perumahan yang ditawarkan pengembang saat pembukaan Pameran Properti REI-EXPO 2025 di Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/5/2025). Pihak penyelenggara setempat menargetkan transaksi sebesar Rp500 miliar selama berlangsungnya pameran hingga Minggu (8/6/2025) dengan memanfaatkan momentum kebijakan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen sampai periode Juni 2025. (
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Memasuki 2026, emiten-emiten sektor properti dinilai masih menyimpan peluang pertumbuhan. Optimisme tersebut salah satunya dinilai dari kinerja saham sektor ini sepanjang 2025. Indeks sektor properti tercatat naik 53,40% sepanjang tahun lalu, dari posisi 764,62 poin pada 2 Januari 2025 menjadi 1.172,94 poin pada penutupan perdagangan 30 Desember 2025.

Penguatan itu ditopang oleh sejumlah sentimen positif, terutama dari kebijakan pemerintah dan arah kebijakan moneter. Pemerintah memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% hingga 31 Desember 2027. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong keputusan pembelian rumah.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia tercatat telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025. Saat ini, suku bunga BI berada di level 4,75%. Penurunan suku bunga tersebut membuka ruang bagi peningkatan permintaan properti melalui biaya kredit yang lebih rendah, khususnya untuk kredit pemilikan rumah (KPR).

Sejumlah analis menilai prospek sektor properti di Bursa Efek Indonesia masih konstruktif pada 2026, dengan dukungan katalis struktural yang relatif kuat. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan mengatakan perpanjangan insentif PPN DTP hingga akhir 2027 menjadi salah satu pendorong utama sektor ini, terutama bagi segmen hunian menengah ke bawah.

“Insentif ini efektif mendorong keputusan pembelian rumah dan menjaga momentum penjualan pengembang,” ujar David kepada Katadata, Senin (5/1).

Dia mengatakan, ketahanan sektor properti domestik juga tercermin dari pergerakan indeks harga rumah serta permintaan hunian yang relatif stabil, meski ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan properti di dalam negeri lebih banyak ditopang oleh kebutuhan riil, sehingga mampu menjadi bantalan kinerja emiten properti.

Selain itu, sentimen positif turut diperkuat oleh peluang berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia. Penurunan suku bunga berpotensi menekan biaya KPR, meningkatkan keterjangkauan konsumen dan mempercepat penjualan properti. 

“Dengan biaya pembiayaan yang lebih rendah, sektor properti berpeluang kembali menjadi salah satu penerima manfaat utama dari siklus pelonggaran suku bunga,” katanya.

Rekomendasi Saham Sektor Properti 2026, Ada CTRA, PWON hingga BSDE

Indo Premier Sekuritas kemudian memberikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor sepanjang tahun ini. David mematok target harga saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) di level 1.200, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) di 1.300 dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) di 530.

Sementara itu, Senior Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas James Widjaja merekomendasikan tiga saham properti yang layak dicermati investor pada 2026, yakni CTRA, PWON dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Menurut James, CTRA dan PWON diuntungkan oleh insentif PPN 100% serta memiliki pipeline peluncuran proyek segmen menengah atas yang solid untuk mendorong pra-penjualan pada 2026. Ia juga memperkirakan daya beli domestik akan membaik seiring percepatan belanja pemerintah dan implementasi berbagai kebijakan baru.

“Selain itu, kami memperkirakan daya beli domestik akan membaik seiring percepatan belanja pemerintah dan implementasi berbagai kebijakan baru,” ujar dia.

Adapun SSIA dinilai memiliki prospek jangka menengah yang menarik melalui pengembangan kawasan Subang Smartpolitan. Kawasan ini dinilai strategis karena berdekatan dengan Pelabuhan Patimban dan berpotensi berkembang menjadi pusat industri kendaraan listrik di Indonesia. 

Selain itu, dibukanya kembali Grand Melia Bali yang kini beroperasi sebagai Paradisus by Melia Bali diharapkan mampu meningkatkan pendapatan berulang atau recurring income perseroan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...