Saham Perkapalan HUMI, BULL, dan SMDR Melonjak, Analis Ungkap Kans dan Risikonya

Karunia Putri
6 Januari 2026, 08:52
Humpuss Saham
Katadata
Humpuss
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pergerakan harga saham emiten perkapalan mencuri perhatian investor setelah melonjak signifikan dalam tiga bulan terakhir. Namun, sejumlah analis menilai kenaikan tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh fundamental yang kuat. 

Kenaikan saham-saham di sektor perkapalan dinilai relatif mudah digerakkan dan berisiko mengalami koreksi tajam. Atas dasar itu, analis mengimbau investor agar lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih saham perkapalan, terutama yang mengalami kenaikan harga terlalu cepat dalam waktu singkat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejumlah saham emiten perkapalan mencatatkan lonjakan harga tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) melonjak 171,79%, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) melesat 181,55% dan PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) menguat 139,53%.

Selain itu ada PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) naik 140,37%, PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) melonjak 183,72% hingga PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) meloncat 147,69%.

Seiring lonjakan tersebut, BEI sempat menghentikan sementara perdagangan atau suspensi sejumlah saham emiten perkapalan pada perdagangan kemarin. Saham yang terkena suspensi antara lain LEAD, SOCI, ALII dan BBRM.

BEI menilai terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham-saham tersebut sehingga perlu dilakukan cooling down sebagai langkah perlindungan bagi investor. Pada perdagangan hari ini, Selasa (6/1) saham-saham tersebut telah dibuka kembali dan dapat diperdagangkan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, kenaikan harga saham emiten perkapalan tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan, juga bukan berarti terdapat manipulasi pasar di dalamnya.

Menurut dia, selama pergerakan harga terjadi secara wajar dan didorong oleh mekanisme permintaan (demand) dan penawaran (supply), maka hal tersebut masih tergolong normal.

“Kalau kenaikannya wajar dan transparan karena ada demand dan supply, itu bukan manipulasi. Namun memang ada saham-saham dengan likuiditas kecil yang tiba-tiba naik signifikan. Ini yang perlu dicermati investor,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Senin (5/1).

Ia mengingatkan, saham emiten perkapalan umumnya bukan saham berkapitalisasi besar atau blue chip. Likuiditas dan porsi saham publik (free float) yang terbatas membuat pergerakan harganya relatif mudah dipengaruhi. Jika kenaikan terjadi terlalu cepat, potensi koreksi tajam juga semakin besar.

Lebih jauh Nafan menjelaskan terdapat sejumlah sentimen yang dapat mendorong penguatan saham perkapalan, seperti stabilnya permintaan batu bara domestik, bahan bakar minyak, hingga gas alam cair (LNG). Selain itu, kebijakan pemerintah dalam memperkuat logistik nasional juga menjadi katalis positif bagi sektor ini.

Namun, ia menilai investor tetap perlu mencermati kinerja keuangan emiten, khususnya pada sisi laba bersih atau bottom line. Biaya operasional emiten perkapalan tergolong tinggi, sehingga tidak semua perusahaan mampu membukukan kinerja yang solid meski pendapatan meningkat.

“Risikonya, harga saham mudah digerakkan oleh pelaku pasar. Kalau naiknya cepat, koreksinya juga bisa tajam,” ujarnya.

Kendati demikian, Nafan tidak memberikan rekomendasi emiten perkapalan yang dapat dicermati oleh investor karena seluruhnya tidak likuid. “Not rated semua,” kata Nafan.

Potensi Spekulasi

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal Reydi Octa. Ia menilai kenaikan saham perkapalan saat ini cenderung bersifat spekulatif dibandingkan mencerminkan perbaikan fundamental. Hal ini dipengaruhi oleh kecilnya kapitalisasi pasar sejumlah emiten perkapalan, sehingga harga sahamnya mudah bergerak saat terpicu sentimen tertentu, seperti isu logistik, konektivitas laut, hilirisasi, dan ketahanan rantai pasok.

“Risiko akan meningkat ketika sentimen mereda. Koreksi biasanya terjadi dan cenderung cepat,” kata Reydi.

Ia menilai emiten perkapalan yang secara fundamental relatif lebih baik seperti SMDR. Meski demikian, Reydi menyarankan investor untuk fokus pada emiten yang memiliki pendapatan berulang (recurring income), tingkat utang yang terkendali, model bisnis yang jelas serta memiliki ruang ekspansi.

“Investor dapat memilih saham perkapalan yang memiliki recurring income, utang terkendali, dan bisnis yang jelas dan ada ruang ekspansi,” ujarnya.

Reydi pun tidak memberikan rekomendasi saham perkapalan yang dapat dicermati oleh investor.

Berikut daftar lengkap kenaikan harga saham-saham perkapalan selama tiga bulan terakhir:

NoEmitenKenaikan harga saham dalam 3M (%)Kapitalisasi pasar 
1.PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)171,79%Rp 8,21 triliun
2.PT Soechi Lines Tbk (SOCI)181,55%Rp 4,09 triliun
3.PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD)139,53%Rp 1,19 triliun
4.PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)140,37%Rp 20,73 triliun
5.PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM)183,72%Rp 2,06 triliun
6.PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR)44,52%Rp 7,33 triliun
7.PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB)16,97%Rp 741 miliar
8.PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI)147,69%Rp 5,81 triliun
9.PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) 162,63%Rp 6,45 triliun

Sumber: data BEI per perdagangan Senin (5/1)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...