Wall Street Melonjak, Investor Mulai Acuh Terhadap Serangan AS ke Venezuela

Nur Hana Putri Nabila
7 Januari 2026, 06:06
Ilustrasi New York Stock Exchange
Pixabay/Rabbimichoel
Ilustrasi New York Stock Exchange
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

 Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) melonjak pada Selasa (6/1) dengan S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencapai rekor tertinggi setelah investor melupakan serangan AS terhadap Venezuela.

S&P 500 naik 0,62% ke level 6.944,82, sekaligus menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa baik secara intraday maupun penutupan. Dow Jones Industrial Average melonjak 484,90 poin atau 0,99% dan ditutup pada rekor 49.462,08. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,65% ke posisi 23.547,17.

Kinerja positif tersebut didorong oleh saham-saham anggota “Magnificent Seven”, terutama Amazon yang melonjak lebih dari 3%. Saham-saham kecerdasan buatan (AI) juga memberikan dukungan signifikan, termasuk Micron Technology dan Palantir Technologies. Micron melesat sekitar 10%, sedangkan Palantir naik lebih dari 3%.

Baru memasuki hari perdagangan ketiga di awal tahun, saham semikonduktor menunjukkan reli kuat dengan saham Micron telah menguat lebih dari 20% secara year to date (ytd). Kenaikan ini juga melanjutkan performa impresif setelah melonjak lebih dari 240% sepanjang 2025.

Strategist Investasi Baird, Ross Mayfield, menilai sektor teknologi memang sempat melambat di akhir tahun, tetapi tema AI tetap menjadi game changer. Saham chip kembali memimpin pasar, seiring berlanjutnya rotasi ke saham-saham siklikal. Menurutnya, reli saham AI dan teknologi dapat berjalan beriringan dengan penguatan komponen siklikal lainnya di pasar.

“Itu adalah hal yang mungkin diharapkan dalam ekonomi yang akan berjalan panas pada 2026 dengan pemotongan suku bunga, stimulus fiskal besar-besaran, dan antusiasme AI yang semakin mendekati puncaknya,” ucap Mayfield dikutip CNBC, Rabu (7/1). 

 Adapun indeks acuan 30 saham ditutup di rekor tertinggi pada Senin dan mencatat rekor intraday tertinggi dalam sesi tersebut. Hal itu setelah AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan, sementara Presiden Donald Trump mendorong investasi besar dari perusahaan minyak AS.  

Saham energi naik pada Senin, dengan sektor energi S&P 500 mencatat kenaikan harian terbaik sejak Juli. Lebih lanjut, Mayfield menilai salah satu alasan perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak berdampak signifikan terhadap pasar adalah peran Venezuela yang relatif terbatas dalam perekonomian global, khususnya di pasar minyak.

Menurutnya, dampaknya cukup minimal sehingga tidak memicu reaksi besar seperti konflik Rusia–Ukraina. Salah satu pemicu utama gejolak pasar pada konflik tersebut adalah lonjakan tajam harga minyak. 

Sementara itu, kondisi serupa tidak terlihat dalam kasus Venezuela. Bahkan, pasar justru sedikit memperhitungkan potensi tambahan pasokan minyak ke depan jika sebagian barel yang saat ini terkena sanksi kembali masuk ke pasar.

“Peristiwa geopolitik ketika memengaruhi pasar atau gambaran konsumen cenderung berdampak pada pasar minyak, dan di sini hal itu tidak terjadi,” ucapnya.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...