Saham OASA, IMPC, SOFA Menggeliat Jelang Pengumuman Waste to Energy Danantara

Nur Hana Putri Nabila
7 Januari 2026, 08:12
Waste to energy
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Spt.
Pengelola program Wasteco memeriksa mesin pembangkit listrik tenaga gas metana di TPA Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (26/3/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Geliat saham-saham bertema pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau waste-to-energy (WtE) mulai terasa di pasar saham jelang pengumuman lelang proyek pengolahan sampah nasional oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Sejumlah emiten yang dikaitkan dengan proyek ini mencatatkan lonjakan harga.

 

Pada penutupan perdagangan saham Selasa (6/1) saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) melonjak  34,68% ke level Rp 167. Selanjutnya, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) ditutup menguat  1,79% ke Rp 3.980. Diikuti PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) juga mencatatkan kenaikan ke Rp 238, naik 1,71%.

Tak hanya itu PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) juga naik 4,43% ke Rp 330 dan saham PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menguat ke Rp 438, naik 4,78%. Lalu PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) melesat 7,14% ke Rp 480.

Proyek PLTSa yang digarap Danantara menjadi katalis utama sentimen tersebut. Pemerintah menargetkan pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di sejumlah wilayah prioritas dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah. Skema proyek yang melibatkan konsorsium antara mitra asing dan perusahaan lokal membuka peluang bagi emiten bursa untuk ikut serta, baik sebagai pengembang, pengelola, maupun penyedia infrastruktur pendukung.

Di tengah optimisme tersebut, pasar mulai mencermati strategi dan kesiapan masing-masing emiten dalam menembus proyek WtE. Sejumlah perusahaan bahkan telah mengumumkan partisipasi dalam konsorsium, menggandeng mitra teknologi asing, hingga melakukan transformasi bisnis untuk menggarap sektor energi terbarukan. 

Bisnis OASA di Pembangkit Sampah

PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) sebelumnya menyebut ikut dalam lelang proyek Danantara itu.

Direktur Utama Maharaksa Biru Energi Bobby Gafur Umar, mengaku OASA juga telah dibidik tiga perusahaan sekaligus untuk konsorsium proyek pembangkit sampah ini. Bobby mengatakan, OASA akan ikut konsorsium dan menggandeng Grandblue Environment Co., Ltd. 

Ia menjelaskan, Granblue memiliki kapasitas pengolahan hampir 100 ribu ton sampah per hari. Sebagai perbandingan, total sampah Indonesia mencapai sekitar 175 ribu ton per hari. Dengan kapasitas sebesar itu, menurut Bobby, Granblue menjadi salah satu pemain terbesar dan menempati posisi kedua di Cina. 

“Jadi, saya mau coba sama dia, saya milih mungkin yang awal ini di Bali,” ujar Bobby di Jakarta, Kamis (20/11). 

Selain itu ia menjelaskan perseroan telah menyiapkan sejumlah skema pembiayaan dan pengembangan proyek. Salah satunya melalui kemitraan, termasuk dengan mitra asal Cina yang telah lolos dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL) Danantara. 

Selain di Bali, OASA juga mempunyai proyek pembangkit sampah di Tangerang Selatan akan dikembangkan oleh Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, yang merupakan kerja sama antara PT Indoplas Energi Hijau dengan kepemilikan 76% dan China Tianying Inc sebesar 24%. Proyek ini dialokasikan di atas lahan seluas 5,53 hektare.

Perusahaan Furnitur SOFA

Emiten produsen furnitur PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) kini berganti nama menjadi PT Solusi Environment Asia Tbk. Perubahan itu disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung Kamis (18/12) lalu. 

Seiring dengan perubahan nama, SOFA mengumumkan akan fokus mengembangkan usaha di bidang energi terbarukan hingga mengincar proyek pembangkit sampah Waste to Energy (WtE) Danantara. Tak hanya itu, SOFA pun melakukan perubahan besar pada struktur bisnis termasuk anak usaha.  

Direktur SOFA, Ezra Mohammed Dhanaguna, mengatakan perseroan telah menyetujui perubahan nama anak usaha PT Pratama Satya Prima (PSP) menjadi PT Parivarta Energi Nusantara (PEN), seiring rencana pengembangan usaha di bidang energi terbarukan pasca akuisisi. 

Dalam aksi itu, pemegang saham juga menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor PEN. Seluruh tambahan modal akan diambil oleh PT Sebelas Bersaudara Sinergi yang menjadi pemegang saham baru PEN. 

Berdasarkan hasil kajian keekonomian, PEN membentuk konsorsium bersama Hunan Construction Engineering Group Co. dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd. untuk mengikuti tender proyek waste-to-energy yang diselenggarakan oleh PT Danantara Investment Management.

“PEN telah memfokuskan kegiatan usahanya pada pengembangan kegiatan di bidang energi serta saat ini sedang dalam proses untuk memperoleh hasil tender,” kata Ezra dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (5/1). 

Geliat Emiten IMPC Bidik Proyek WTE di Bali

PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melalui anak usahanya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI), IMPC menggandeng PT CCEPC Indonesia (CCEPC) mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau waste-to-energy (WTE) di Bali. 

CCEPC Indonesia merupakan perusahaan yang memberikan solusi inovatif dan berkelanjutan di sektor energi bersih, pengolahan air limbah dan pengolahan gas buang. Selain itu juga ada pengolahan lumpur, serta perlindungan dan remediasi lingkungan.

Direktur Utama Sirkular Karya Indonesia, Sugiarto Romeli, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi SKI untuk memperkuat komitmen di bidang keberlanjutan. 

Sugiarto juga menyebut SKI optimistis proyek WtE di Bali dapat menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Ia juga mengatakan SKI terus berupaya mengambil peran dalam mendorong inisiatif hijau, termasuk pengembangan solusi daur ulang dan penerapan ekonomi sirkular. 

“Kami berharap langkah ini dapat semakin memperkuat kontribusi SKI dalam mendorong praktik berkelanjutan di Indonesia," kata Sugiarto dalam keterangannya, Selasa (25/11)

7 Lokasi Pembangkit Sampah hingga Nilai Investasi Capai Rp 91 Triliun 

Sebelumnya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membuka putaran lelang proyek waste-to-energy atau Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk tujuh lokasi prioritas.   

“Kami akan buka untuk proses bidding-nya masukkan penawarannya,” kata CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, Jumat, 7 November.  

Ketujuh lokasi yang dimaksud adalah Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Bogor Raya, Tangerang Raya, Bekasi Raya, dan Medan Raya. Targetnya, proyek ini dapat rampung dan beroperasi selambatnya April 2026.  

Danantara sebagai pendukung investasi proyek sebelumnya telah mengumumkan 24 perusahaan asing yang lolos seleksi sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) PSEL.  

Mayoritasnya merupakan perusahaan asal Cina.  Nantinya, perusahaan yang mengikuti lelang harus membentuk konsorsium dengan mitra lokal, baik perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).  

Sedangkan dari segi pendanaan, Danantara membidik kuasai 30% saham di tiap proyek PSEL menggunakan Patriot Bond. Sebesar 70% sisanya bakal berasal dari pinjaman perbankan, baik asing maupun dalam negeri. 

Nilai investasi proyek ditaksir mencapai Rp 91 triliun, dengan investasi per proyek berkisar Rp 2,5 triliun sampai Rp 3,2 triliun. Proyek yang diklaim bakal atasi permasalahan timbunan sampah Indonesia ini ditargetkan dibangun di 33 lokasi, dengan per proyek mengelola 1.000 ton sampah per harinya.  

“Total investasinya mencapai kurang lebih Rp 91 triliun untuk di 33 daerah,” kata Rosan pada acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, Jumat, 10 Oktober.

Daftar 24 Perusahaan Lolos DPT Mitra PSEL Danantara

Danantara Investment Management (Persero) mengumumkan daftar peserta yang lolos seleksi masuk Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL). 

“Banyak orang yang melihat ini sebagai peluang yang bagus, dan juga impact social-nya kan besar, jadi ketertarikannya besar,” ujar  Managing Director Investment Danantara Indonesia Stefanus Ade  kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/11).  

Berikut 24 daftar perusahaan yang lolos: 

  1. Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering 
  2. ITOCHU Corporation 
  3. China Everbright Environment Group Limited 
  4. Kanadevia Corporation 
  5. PT MCC Technology Indonesia (MCC) 
  6. China National Environmental Protection Group Co., Ltd (CECEP) 
  7. GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd. 
  8. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd 
  9. Dynagreen Environmental Protection Group Co., Ltd  
  10. SUS Indonesia Holding Limited 
  11. Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd 
  12. Hunan Construction Engineering Group Co., Ltd 
  13. CEVIA Enviro Inc. 
  14. China Conch Venture Holding Limited 
  15. China TianYing Inc 
  16. PT Jinjiang Environment Indonesia 
  17. Wangneng Environment Co., Ltd 
  18. Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd 
  19. Beijing China Sciences Runyu Environmental Technology Co.,Ltd. (CSET) 
  20. Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd 
  21. Grandblue Environment Co., Ltd 
  22. Beijing GeoEnviron Engineering & Technology, Inc 
  23. Wuhan Tianyuan Group Co., Ltd 
  24. QiaoYin City Management Co., Ltd  

“Urutan daftar peserta di atas tidak mencerminkan peringkat atau penilaian tertentu. Sehubungan dengan rencana penerbitan Request for Proposal (RFP) Document, akan diinformasikan lebih lanjut dalam pemberitahuan terpisah,” demikian pernyataan manajemen Danantara. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...