Angin Segar PTBA: Proyek DME Batu Bara Bakal Groundbreaking Bulan Ini
Pemerintah memastikan terdapat enam proyek hilirisasi yang akan dilakukan pemancangan tiang pertama atau groundbreaking pada Januari 2025. Salah satunya adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang kemungkinan akan digarap PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
"Ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME. Kemudian juga ada program-program di bidang pertanian," kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam konferensi pers saat jeda retreat Kabinet Merah Putih di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Jawa Barat, pada Selasa (6/1).
Ia menjelaskan, pelaksanaan groundbreaking proyek hilirisasi akan dilaksanakan bertahap sehingga terdapat 18 proyek yang akan dibangun hingga Maret 2026. Hilirisasi akan mencakup berbagai sektor, mulai dari energi hingga pertanian.
Proyek DME termasuk dalam 18 proyek prioritas yang telah dilakukan pra studi kelayakan dan dokumennya diserahkan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada Danantara. Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam Tbk Eko Prayitno pada bulan lalu mengatakan, pihaknya masih melakukan diskusi intensif dengan Danantara terkait kelanjutan proyek DME.
Dorongan percepatan proyek DME juga sudah disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sejak tahun lalu. Bahlil menilai pembangunan pabrik DME penting karena konsumsi LPG nasional diperkirakan meningkat sekitar 1,2 juta ton menjadi hampir 10 juta ton pada 2026. Sementara itu, kapasitas produksi LPG domestik masih berada di kisaran 1,3–1,4 juta ton per tahun.
Proyek DME Masuk Empat Pilar Bisnis PTBA 2025 - 2029
Di internal PTBA, proyek hilirisasi batu bara menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengatakan, hilirisasi energi dan utilitas merupakan salah satu dari empat pilar bisnis perusahaan hingga 2029, termasuk pengembangan DME.
Turino menjelaskan, ada beberapa proyek yang akan digarap PTBA untuk mendukung hilirisasi, di antaranya adalah proyek coal to artificial graphite dan anode sheet untuk ekosistem kendaraan listrik, serta coal to asam humat untuk kebutuhan pupuk. Adapun pada fase validasi komersial, perseroan mengembangkan coal to DME, coal to synthetic natural gas (SNG), coal to methanol, dan coal to ammonia.
Menurut Turino, konversi batu bara padat menjadi produk cair atau gas dapat menekan biaya logistik, karena pengiriman batu bara padat tercatat lebih mahal. Untuk proyek DME, Turino menegaskan PTBA akan berhitung matang terkait risiko dan tingkat keuntungan, mengingat harga investasi di proyek ini sangat mahal.
Turino mengakui, tantangan utama seluruh proyek hilirisasi adalah kebutuhan belanja modal awal yang besar. Sebagai perbandingan, subsidi LPG nasional mencapai Rp 80–90 triliun per tahun, sedangkan pembangunan satu pabrik DME atau methanol membutuhkan investasi sekitar Rp 50 triliun. Perseroan perlu membangun beberapa pabrik agar proyek hilirisasi batu bara ini berjalan dengan baik.
“Namun setelah dibangun, pabrik bisa berproduksi terus-menerus,” ujarnya beberapa waktu lal.
Melalui diversifikasi ini, PTBA menargetkan peningkatan volume produksi hingga 100 juta ton per tahun, dari posisi saat ini sekitar 40 juta ton. Perseroan juga meyakini konversi batu bara menjadi produk turunan mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan. DME diproyeksikan menghasilkan nilai hingga 4,3 kali lipat dibanding batu bara mentah, SNG sebesar 5,7 kali, methanol 4,7 kali, dan ammonia 4,8 kali.
“Secara sederhana, jika saat ini 40 juta ton batu bara menghasilkan penjualan Rp 40 triliun, maka dengan hilirisasi bernilai lima kali lipat, potensi pendapatan bisa mencapai Rp 200 triliun dengan volume yang sama,” kata Turino
Selain DME, perseroan juga akan menggarap proyek coal to artificial graphite yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik dan pembangkit listrik tenaga nuklir. Proyek coal to asam humat yang dikembangkan bersama Universitas Gadjah Mada, diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas pertanian hingga dua kali lipat melalui penggunaan pupuk yang lebih efisien. Proyek percontohan ini ditargetkan rampung awal tahun depan.
“Yang tadinya butuh satu ton, bisa cukup 500 kilogram. Kalau ini berhasil, akan menjadi game changer untuk pupuk,” kata Turino.
Adapun proyek coal to SNG digarap bersama Perusahaan Gas Negara untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan gas industri pada 2028. Sementara coal to methanol dinilai memiliki pasar lebih stabil dan peluang industri turunan yang lebih luas. Proyek ammonia disiapkan sebagai bahan baku pupuk.
Selain itu, PTBA juga menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap untuk memasok listrik bagi anggota holding tambang MIND ID seperti Antam dan Timah, dengan pasokan batu bara internal. Perseroan turut mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya di area reklamasi tambang, ruas jalan tol, hingga untuk kebutuhan pertanian di wilayah tanpa irigasi.
Proyek DME sebelumnya sempat mangkrak setelah perusahaan pengolahan gas dan kimia asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals Inc., mundur dari dua proyek hilirisasi batu bara di Indonesia. Tingginya harga batu bara dinilai membuat proyek tersebut tidak lagi ekonomis.
Prospek PTBA di Bisnis DME
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai kebijakan DME akan menguntungkan PTBA yang kemungkinan akan menjadi pelopor atau first mover advantage. Hal tersebut didukung dengan kesiapan infrastruktur dan lokasi tambang yang telah disiapkan sebagai kawasan industri hilirisasi.
“Mereka paling siap karena lokasi tambang udah disiapin jadi kawasan industri hilirisasi,” kata Wafi kepada Katadata pada bulan lalu.
Selain mendapatkan keuntungan dari penjualan DME, Wafi menilai PTBA juga akan mendapatkan keuntungan dari insentif royalti 0% untuk batu bara yang dihilirisasi. Adapun insentif ini membantu menjaga margin di tengah tren pengetatan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) global. Meski demikian, ia mengingatkan proyek DME juga memiliki tantangan.
Market Chartist Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menilai perusahaan tambang batu bara yang memiliki proyek gasifikasi akan memiliki prospek cerah jika kebijakan tersebut dinyatakan benar-benar siap secara regulasi. Namun, Nafan mengingatkan, biaya investasi untuk proyek gasifikasi akan membebani perusahaan di awal.
