Mengapa Rupiah Loyo ke 16.800 per Dolar AS saat IHSG Rekor?
Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level 16.800 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (8/1). Kurs rupiah melemah di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencetak rekor 9.000.
Kurs ini semakin jauh dari target Bank Indonesia untuk menjaga rupiah pada tahun ini di kisaran 16.500 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka melemah 4 poin di level 16.784 per dolar AS pada perdagangan hari ini dan sempat menembus 16.800 per dolar AS pada pukul 09.12 WIB.
Kurs rupiah sempat bergerak menguat ke level 16.789 per dolar AS, tetapi kembali melemah dan menembus level 16.800 per dolar pada pukul 14.40 WIB.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan rupiah di level Rp 16.800 per dolar AS mencerminkan kombinasi penguatan dolar AS dan naiknya kehati-hatian pelaku pasar. "Ini terjadi menjelang agenda data penting Amerika Serikat," kata Josua kepada Katadata.co.id, Kamis (8/1).
Menurunya, dolar AS tercatat menguat tipis beberapa hari beruntun karena pelaku pasar menimbang data ekonomi AS yang masih solid, terutama aktivitas jasa yang meningkat cepat dalam lebih dari setahun. Para investor juga menunggu rilis data ketenagakerjaan utama serta perkembangan keputusan terkait tarif perdagangan AS yang berpotensi memicu gejolak baru.
Sementara dari sisi domestik, pelemahan sesaat ke level 16,800 per dolar AS itu diperkuat oleh faktor musiman awal tahun. "Ini seperti kebutuhan pembayaran impor, pembayaran kewajiban valas korporasi, serta penyesuaian posisi pelaku pasar setelah pergantian tahun," ujar Josua.
Walau aset berisiko domestik bisa tetap terlihat stabil, Josua mengatakan arus portofolio umumnya memang lebih mudah berbalik ketika ketidakpastian global meningkat. Apalagi, jika isu tarif dagang dan ketegangan geopolitik kembali mendorong pelaku pasar menahan eksposur di negara berkembang.
"Dalam konteks ini, pergerakan rupiah ke level Rp 16.800 per dolar AS lebih tepat dibaca sebagai lonjakan permintaan dolar AS yang terjadi cepat, bukan perubahan mendasar dalam satu hari," katanya.
Sementara itu, Ekonom Maybank Myrdal Gunarto melihat penyebab dari pelemahan rupiah ini ini karena imbas profit taking atau ambil untung yang dilakukan para investor global. Terutama di pasar saham atau government bonds.
"Ini merespons perkembangan kondisi global yang kurang kondusif," kata Myrdal.
Kondisi Domestik dan Tingginya Permintaan Dolar
Kondisi ekonomi domestik juga mempengaruhi pelemahan rupiah. Namun, Myrdal melihat secara umum kondisi ekonomi RI masih solid dan akan prudent. Terlebih pemerintah juga masih akan menjaga deficit fiscal di bawah 3%.
"Jadi sebenarnya kalau dari sisi domestik nggak ada concern utama, walaupun ada shortfall dari sisi penerimaan negara, tapi masih aman secara umum," kata Myrdal.
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan RI masih konsisten. amun Myrdal menyoroti devisa hasil ekspor belum sepenuhnya masuk. Menurutnya, ada kemungkinan dana-dananya masih mengendap di perbankan luar negeri.
"Itu membuat suplai dolar di dalam negeri juga tidak sebanyak kalau misalkan devisa hasil ekspornya itu masuk semua ke kita. Ditambah permintaan dolar untuk kebutuhan impor awal tahun yang cukup banyak," ujarnya.
Bagaimana Pergerakan Rupiah hingga Akhir 2026?
Myrdal memproyeksikan rata-rata kurs rupiah hingga akhir 2026 akan berada di level Rp 16.547 per dolar AS. Ia juga memproyeksikan masih ada kemungkinan banyak investor masuk melalui foreign direct investment atau FDI dan pasar keuangan.
"Begitu ini ada, kelihatan nanti pertumbuhan ekonomi kita itu bagus," kata Myrdal.
Sementara itu, Josua memproyeksikan pergerakan rupiah pada tahun ini masih sangat ditentukan oleh dua hal. Pertama, seberapa cepat ketidakpastian global mereda. Kedua, seberapa konsisten penurunan suku bunga bank sentral AS terjadi.
Dalam skenario dasar, Josua menyebut cadangan devisa diperkirakan naik tipis ke kisaran US$ 157 miliar hingga US$ 159 miliar atau setara Rp 2.625,8 triliun hingga Rp 2.659,2 triliun (kurs JISDOR Rp 16.725 per dolar AS). Sementara itu, defisit transaksi berjalan melebar tetapi tetap terkendali.
"Sehingga rupiah diproyeksikan menutup tahun 2026 di sekitar Rp 16.675 per dolar AS hingga Rp 16.775 per dolar AS," kata Josua.
Namun karena posisi saat ini sudah sempat menyentuh Rp 16.800 per dolar AS, Josua menilai rupiah bisa kembali diuji. Khususnya ketika data AS kembali kuat atau risiko tarif memanas. Namun berpeluang membaik bila kejelasan arah suku bunga AS meningkat dan minat masuk ke aset negara berkembang pulih.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya meyakini rupiah akan bergerak menguat pada tahun 2026. BI akan berupaya mendorong rata-rata kurs rupiah di level Rp 16.500 per dolar AS, bahkan ke level Rp 16.400 per dolar AS.
Perry optimitis ekonomi Indonesia pada tahun depan akan lebih baik dan tumbuh dalam rentang 5,3%-5,4%. Inflasi juga akan dijaga terkendali pada kisaran 2,5%.
"Kita harus bersyukur, dibandingkan negara lain, Indonesia lebih baik. Cina diperkirakan hanya tumbuh 4,6%, Eropa hanya 1,7%, India turun tetapi memang masih di atas kita," ujar dia.
Menurut Perry, kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pada tahun depan adalah mendorong konsumsi domestik dan investasi. "Tentu saja ekspor harus didorong, semua harus bergerak," kata dia.
Berdasarkan bahan pidato Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, nilai tukar rupiah hingga 18 November 2025 tercatat di level Rp 16.735 atau melemah 4,01% dari posisi akhir Desember 2024. Rata-rata nilai tukar rupiah hingga tanggal tersebut sepanjang 2025 berada di level Rp 16.430 per dolar AS.
Menurut BI, perkembangan kurs rupiah relatif stabil jika dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang dan lebih kuat dibandingkan negara maju selain dolar AS. Selain ditopang konsistens kebijakan stabilitas rupiah, stabilitas nilai tukar rupiah juga didukung peningkatan konversi valas ke rupiah oleh eksportir seiring penerapan penguatan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam.
