Saham Emiten Tambang Emas ARCI-PSAB-ANTM Melesat, Kerek IHSG ke Level 9.000

Karunia Putri
14 Januari 2026, 10:04
IHSG
Katadata/Fauza Syahputra
Pekerja melihat layar digital yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada sesi pertama perdagangan intraday pagi ini kembali menembus level 9.000.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga saham emiten tambang emas bergejolak pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (14/1). Lonjakan harga saham tambang emas terjadi seiring dengan naiknya harga emas dunia ke level tertinggi sepanjang masa US$ 4.622 per ons.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) secara intraday pukul 9.34 WIB, harga saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) melonjak 7,11% atau 400 poin ke level 6.025, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melompat 6,70% atau 260 poin ke level 4.140 dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melesat 5,44% atau 65 poin ke level 1.260.

Kemudian, lonjakan signifikan terjadi pada harga saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang melaju 11,11% atau 195 poin ke level 1.950. Adapun PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melompat 9,32% atau 55 poin ke level 645.

Lonjakan tersebut turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menembus level 9.003 pada perdagangan pukul 9.34 WIB. 

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, hari ini IHSG sedang bergerak menghadapi resistance minor ke level 8.973. Jika level tersebut berhasil ditembus, maka indeks berpeluang melanjutkan tren reli ke level 9.052 atau bahkan 9.123 sebagai level tertingginya.

Ia menyebut level support IHSG berada di Rp 8.714, 8.599 dan 8.493. Sementara level resistance berada di Rp 8.973, 9.052, 9.123 dan 9.169.

“Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bullish,” katanya dalam keterangan resmi dikutip Rabu (14/1). 

Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena peningkatan pembelian.

Sementara resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.

Mengutip Bloomberg, serangan politik pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap bank sentral AS itu telah menyalakan kembali narasi "jual Amerika". Tren tersebut makin mencuat setelah Departemen Kehakiman AS meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. 

Dampaknya, nilai tukar dolar sempat merosot dan harga obligasi pemerintah AS mengalami penurunan di seluruh kurva. Itu terjadi seiring merebaknya keraguan di kalangan investor atas kemampuan bank sentral dalam mengendalikan inflasi.

Situasi ini juga mendorong munculnya strategi investasi debasement trade, yakni para pelaku pasar melepas dolar dan aset sensitif lainnya untuk beralih ke emas sebagai pelindung nilai dari guncangan politik.

Menteri Keuangan Scott Bessent dan sejumlah politisi Partai Republik telah memperingatkan bahwa langkah Trump dapat merusak pasar. Namun, ketidakpastian diprediksi akan terus berlanjut.

Di sisi lain, Direktur Strategi Komoditas BNP Paribas SA David Wilson menilai, spekulasi mengenai masa jabatan Powell yang akan berakhir pada Mei mendatang akan tetap menjadi penggerak utama pasar emas di sepanjang 2026.

Hal itu memperpanjang momentum kenaikan harga logam mulia yang sudah terjadi sejak tahun lalu akibat berbagai risiko geopolitik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...