Mengintip Rencana Besar Emiten Hashim Adik Prabowo (WIFI) Bidik Internet Rakyat

Nur Hana Putri Nabila
19 Januari 2026, 06:00
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten milik adik Presiden Prabowo Subianto Hashim Djojohadikusumo, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge mengungkapkan rencana usai mendapatkan lahan dan fasilitas sekitar 2.931 titik aset di berbagai wilayah strategis dari Pos Properti Indonesia.

PT Pos Properti Indonesia merupakan anak usaha dari PT Pos Indonesia (Persero) yang berfokus pada pengembangan aset properti. Pos Properti Indonesia menjalankan lima unit bisnis utama, building management, hospitality business, property leasing, real estate development, serta design & construction.

Nantinya aset tersebut akan dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan infrastruktur jaringan, mulai dari pemasangan tiang Base Transceiver Station (BTS), penempatan perangkat Optical Line Terminal (OLT), hingga penggunaan ruang atau gedung untuk penyimpanan material. 

Melalui skema kerja sama WIFI dan Pos Properti Indonesia, akankah memperluas pangsa pasar internet rakyat?

Direktur Utama PT Solusi Sinergi Digital Tbk, Yune Marketatmo, mengatakan seluruh lokasi kantor pos yang menjadi potensi kerja sama berada di area strategis. Menurutnya, kantor pos terletak di sentra-sentra kota dan tersebar hingga ke seluruh pelosok Indonesia.

Selain faktor lokasi, Yune menilai ketersediaan ruang di aset-aset tersebut juga memadai untuk mendukung ekspansi bisnis perusahaan. Ruang tersebut dapat dimanfaatkan untuk pemasangan menara fixed wireless access (FWA) untuk layanan internet rakyat. Ia juga menyebut sekaligus untuk penempatan perangkat Optical Line Terminal (OLT) mendukung layanan fiber to the home (FTTH).

Nantinya WIFI bakal mengoptimalkan dua lini bisnis sekaligus, yakni melalui anak usaha PT Telemedia Komunikasi Pratama.

“Dan kelebihannya lagi apa? Sudah siap semua. Jadi tinggal kita pakai aja. Kalo bikin tower kan lama kan di ijinnya. Ini izinnya sudah ada karena kantornya sudah ada. Jadi ini cuma kecepatannya adalah bikin towernya aja, menaranya aja. Jadi akan cepat sekali. Dua minggu udah jadi ya,” ucap Yune kepada wartawan di Jakarta, dikutip Senin (19/1). 

Yune menjelaskan tahap awal implementasi kerja sama akan difokuskan pada wilayah operasional perseroan. Untuk layanan fixed wireless access (FWA), perseroan akan memulai di Region 1 mencakup Jawa, Maluku, dan Papua.

Sementara untuk layanan fiber to the home (FTTH), Yune menyebut cakupannya bersifat nasional. Namun, pada tahap awal, perseroan akan memprioritaskan wilayah tertentu.

“FTTH nanti di Jawa dan Sumatra sama sebagian di Kalimantan yang kemarin sudah launching beberapa bulan kemarin,” katanya.

Terkait efisiensi dari kerja sama itu, Yune menegaskan fokus utama WIFI bukan untuk penghematan biaya. Menurutnya, perhitungan bisnis perseroan dimulai dari harga jual bagaimana bisa terjangkau bagi masyarakat.

“Jadi berapa harga yang harus kita berikan ke masyarakat supaya terjangkau dan bisa dibeli masyarakat.  Dari biaya itu kami harus atur berapa costnya,” ucapnya.

Ia mengaku dengan bekerja sama dengan Pos Properti Indonesia, WIFI cost bisa terkontrol sehingga meskipun dijual dengan harga terjangkau, Rp 100 ribu untuk FWA 100 Mbps atau Rp 100 ribu untuk FTTH 200 Mbps, perusahaan masih bisa profit. 

Target Pasar Berbeda

Bersamaan dengan ekspansi internet murah, WIFI nantinya bakal menggarap pasar berbeda dengan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Adapun WIFI menyediakan Internet Rakyat lewat anak usaha PT Telemedia Komunikasi Pratama. Adapun Telkom memiliki lini bisnis IndiHome, yang bergabung debgan Telkomsel pada 2023.

“Dari sisi IndiHome, target pasarnya sedikit berbeda,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Indonesia Arthur Angelo Syailendra saat media briefing, Senin (1/12).

Internet Rakyat yang digagas oleh Surge (WIFI) lewat Telemedia dan OREX SAI Inc., perusahaan patungan antara NTT DOCOMO, INC. dan NEC Corporation, menggunakan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) yang beroperasi pada frekuensi 1.4 GHz, serta implementasi Open RAN atau arsitektur terbuka pada radio access

Sedangkan IndiHome menggunakan fiber optik. Fiber optik adalah teknologi broadband tetap menggunakan kabel serat optik yang mentransmisikan data lewat sinar cahaya dalam kabel kaca/plastik.

“Jadi, pemain lain memberikan harga lebih rendah ketimbang IndiHome dan lainnya, ini persoalan pada tipe konsumen yang menginginkan seberapa cepat internetnya. Apakah 25 Mbps, 50 Mbps atau 100 Mbps,” kata dia.

Selain itu, Angelo mengatakan bahwa Surge WIFI merupakan pasar potensial bagi Telkom. BUMN ini memiliki kabel fiber sekitar 180 ribu kilometer, serta 33 data center di 15 negara.

Infrastruktur itu nantinya akan dibuka untuk Internet Service Provider atau ISP lain di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 1.300. “Mereka (WIFI) salah satunya. Kami sudah melayani sekitar 150 ISP saat ini,” katanya. “Jadi, bagi kami, internet itu very blue ocean market.”

Dikutip dari laman resmi Surge, WIFI bekerja sama dengan Telkom dan Telkom Infrastruktur Indonesia pada Juni, terkait upaya memperluas konektivitas dan penyediaan layanan internet terjangkau.

“Kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi digital Indonesia. Kolaborasi ini merupakan momentum penting untuk mendorong ketersediaan Internet Rakyat secara merata, terutama bagi masyarakat di wilayah yang selama ini kurang tersentuh layanan digital,” kata Direktur Surge Moh Mustaghfirin dalam keterangan pers, pada Juni.

Wakil Presiden Eksekutif Divisi Wholesale Service Telkom Muhammad Rofik menyatakan kolaborasi ini merupakan wujud nyata komitmen dalam memperluas konektivitas nasional. “Dengan memanfaatkan kekuatan infrastruktur dan teknologi dari seluruh pihak, kami ingin memastikan seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali, dapat menikmati layanan internet yang terjangkau dan andal,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Utama TIF I Ketut Budi Utama mengatakan perusahaan siap menjadi tulang punggung pengembangan jaringan internet rakyat. Nota Kesepahaman antara WIFI, Telkom, dan TIF mencakup pemanfaatan dan pengembangan infrastruktur jaringan metro-ethernet dan IP Transit, penguatan layanan digital dan perpesanan berbasis cloud, dan optimalisasi layanan Edge Data Center (neuCentrIX).

Selain itu, pemanfaatan infrastruktur pasif seperti tiang, menara, dan/atau tiang, ducting kabel optik, dan serat optik gelap, implementasi teknologi FTTX melalui skema Virtual Unbundling Line Access (VULA), serta layanan Managed Service berbasis optimalisasi jaringan kolaboratif dan sistem pemantauan terintegrasi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...