Manuver Emiten Bakrie (DEWA) Perpanjang Kontrak Jumbo Rp 10,5 T dengan Arutmin
Emiten Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mengamankan kontrak jumbo usai memperpanjang kerja sama jasa pertambangan dengan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Arutmin Indonesia (Arutmin) senilai Rp 10,5 triliun.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Darma Henwa Mukson Arif Rosvid mengatakan, perpanjangan kontrak ini dilakukan untuk Proyek Pertambangan Asam Asam dan Kintap yang berlokasi di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Penandatanganan perjanjian diteken pada 19 Januari 2026.
Mukson mengatakan, perpanjangan kontrak juga mencakup estimasi volume overburden sebesar 252 juta bcm dan produksi batu bara sekitar 50 juta ton. Jangka waktu kerja sama berlaku sepanjang umur tambang (life of mine).
Sebelumnya, rata-rata volume produksi per tahun di Proyek Asam Asam tercatat sebesar 17,3 juta bank cubic meter (bcm) untuk overburden dan 3,8 juta ton batu bara. Sementara itu, pada Proyek Kintap, rata-rata volume produksi per tahun mencapai 25,3 juta bcm untuk overburden dan 3,8 juta ton batu bara.
“Penandatanganan perjanjian perpanjangan Kontrak life of mine memberikan kepastian jangka panjang atas kegiatan operasional perseroan serta berdampak positif terhadap kinerja dan kondisi keuangan perusahaan,” ucap Mukson dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (19/1).
Target Harga Saham DEWA
Seiring aksi korporasi itu, harga saham DEWA terpantau sudah melonjak 324,16% dalam tiga bulan terakhir. Adapun sahamnya bertengger di Rp 755 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 30,72 triliun.
UOB Kay Hian menilai DEWA saat ini berada pada titik balik perbaikan kinerja operasional. Perbaikan tersebut tercermin dari peningkatan efisiensi, margin dan pendapatan perseroan seiring dengan penyelesaian peningkatan armada internal.
Sejalan dengan prospek tersebut, UOB Kay Hian menaikkan target harga saham DEWA menjadi Rp 1.500 per saham dari sebelumnya Rp 800. Peningkatan rekomendasi ini didukung oleh perbaikan fundamental perseroan. Valuasi tersebut mencerminkan rasio 23 kali EV/EBITDA tahun 2026 secara penuh.
“Risiko eksekusi yang lebih rendah, optimalisasi neraca, alokasi modal yang disiplin, dan opsi tembaga yang sedang berkembang mendukung rekomendasi beli kami dan target harga sebesar Rp1.500, dengan ruang untuk peningkatan peringkat lebih lanjut seiring dengan terus berjalannya eksekusi,” tulis UOB Kay Hian dalam riset yang dikutip Senin (12/1).
Sekuritas ini menilai, peningkatan kapasitas alat berat internal menjadi pendorong utama ekspansi margin DEWA, seiring pergeseran dari penggunaan subkontraktor ke armada dan kapabilitas internal.
Pada 2025, konversi internal masih bersifat parsial karena transisi dilakukan bertahap sepanjang tahun. Manajemen menargetkan pemanfaatan penuh armada internal tanpa subkontraktor pada satu proyek utama pada kuartal pertama 2026 sehingga proyek tersebut sepenuhnya menggunakan armada internal pada Maret 2026.
Kapasitas operasional DEWA juga meningkat signifikan. Kapasitas tahunan yang sebelumnya sekitar 60 juta bank cubic meter (bcm) diproyeksikan naik menjadi sekitar 125 juta bcm pada 2025. Pada 2026, kapasitas diperkirakan mencapai sekitar 160 juta BCM dari proyek-proyek eksisting, belum termasuk kontribusi proyek baru.
