Transaksi Jumbo Rp 7 T di Saham BUMI, Benarkah Grup Salim Tampung Divestasi CIC?
Emiten kongsi Grup Bakrie–Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), mencatat transaksi crossing jumbo pada perdagangan saham Senin (19/1). Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 6,9 triliun dengan volume 18,2 miliar lembar saham di harga rata-rata Rp 380 per saham.
Crossing saham merupakan transaksi antara dua pihak atau investor yang menggunakan broker atau sekuritas yang sama. Transaksi jenis ini tidak terjadi di pasar reguler, melainkan di pasar negosiasi.
Transaksi bernilai jumbo itu berlangsung di tengah langkah Chengdong Investment Corporation (CIC) yang terus mengurangi kepemilikan sahamnya di BUMI. Saat ini, porsi saham yang dikuasai perusahaan investasi asal Cina tersebut tersisa 4,99%.
Adanya transaksi jumbo di saham BUMI menjadi sorotan lantaran terjadi di broker yang terafiliasi dengan Grup Salim. Selain itu muncul rumor ada aksi dari Grup Salim di balik transaksi jumbo.
Berdasarkan kode broker yang tercatat, transaksi dilakukan oleh RB atau Ina Sekuritas Indonesia. Ina Sekuritas merupakan anggota bursa yang dimiliki oleh Grup Salim melalui PT Gema Insani Karya. Perusahaan tersebut menggenggam saham mayoritas sebesar 78,12% di Ina Sekuritas.
Transaksi yang terjadi membuat rumor Grup Salim menambah kepemilikan saham kian kencang. Namun, kabar itu dibantah manajemen BUMI.
Wakil Presiden Direktur Bumi Resources Agoes Projosasmito menampik kabar yang beredar. “Setahu saya Salim tidak mempunyai rencana menambah kepemilikan saham BUMI apalagi membeli dari CIC,” ujar Agoes kepada Katadata.co.id saat dihubungi Selasa (20/1).
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Desember 2025, Grup Salim saat ini menggenggam saham BUMI lewat Mach Energy dengan kepemilikan 45,78% saham atau setara 170 miliar saham. Sementara entitas lain yang juga terafiliasi Salim Group, Treasure Global Investments Limited, memiliki 8,08% saham.
Adapun usai transaksi crossing jumbo itu, saham BUMI pada perdagangan intraday hari ini, Selasa (20/1) pukul 15.05 WIB, naik 0,97% ke level Rp 416 per saham dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 154,48 triliun. Dalam enam bulan terakhir, harga saham BUMI tercatat melonjak 266,67%.
Aksi Jual Berjilid-jilid Chengdong
Berdasarkan laporan kepemilikan saham yang dirilis pada Selasa (13/1), sejak 23 Desember lalu Chengdong tercatat telah melakukan divestasi saham BUMI sebanyak 17 kali. Aksi penjualan tersebut berlangsung secara bertahap di tengah reli saham emiten batu bara itu yang terus menguat hingga menyentuh harga tertinggi sepanjang masa di level Rp 464 per saham pada 5 Januari.
Data transaksi menunjukkan, pada 23 Desember lalu Chengdong melego sebanyak 224 juta saham BUMI di harga Rp 383 per unit. Pada hari yang sama, perusahaan asing tersebut kembali melepas 300 juta saham di harga Rp 386 per unit.
Pada 24 Desember, Chengdong tercatat dua kali melakukan penjualan saham BUMI. Transaksi pertama sebanyak 300 juta saham di harga Rp 374, sementara transaksi berikutnya berjumlah 57,4 juta saham di harga Rp 366.
Divestasi berlanjut pada 29 Desember ketika Chengdong menjual 300 juta saham di harga Rp 363 serta 255 juta saham lainnya di harga Rp 367. Keesokan harinya, pada hari terakhir perdagangan bursa 2025, perusahaan asal negeri tirai bambu itu kembali menjual hampir 255 juta saham di harga Rp 365.
Memasuki 2026, Chengdong kembali melakukan divestasi sebanyak tiga kali pada 2 Januari. Total saham yang dilepas mencapai 600 juta lembar dengan harga penjualan berkisar antara Rp 393 hingga Rp 409 per unit.
Pada periode 5–7 Januari, perusahaan investasi China tersebut tercatat lima kali menjual saham BUMI dengan total volume lebih dari 1,2 miliar lembar di harga Rp 461. Selain itu, terdapat penjualan 161,3 juta saham lainnya di harga Rp 460 pada 7 Januari.
Terakhir, Chengdong kembali menjual 50,8 juta saham di harga Rp 453 pada 8 Januari. Dengan demikian, sepanjang periode 23 Desember 2025 hingga 8 Januari lalu, Chengdong telah melepas total sekitar 3,7 miliar saham BUMI.
